Harianjogja.com, JOGJA—Keberhasilan Spanyol menjuarai Piala Dunia 2026 menjadi bukti bahwa sepak bola modern tidak selalu dimenangkan oleh tim yang memiliki pemain paling mahal atau nama paling besar. Di bawah arahan Luis de la Fuente, La Roja justru mencapai puncak dunia dengan mengandalkan kekuatan kolektif, kedisiplinan, dan rasa kebersamaan yang dibangun selama bertahun-tahun.
Kemenangan 1-0 atas Argentina di final Piala Dunia 2026 menjadi puncak dari proyek besar yang dirintis De la Fuente sejak dipercaya memimpin tim nasional senior pada akhir 2022. Gol Ferran Torres pada babak tambahan waktu memang menjadi penentu hasil pertandingan, tetapi fondasi kesuksesan Spanyol sesungguhnya dibangun jauh sebelum final berlangsung.
Bagi De la Fuente, sebuah tim tidak hanya terdiri atas pemain yang memiliki kemampuan teknis tinggi.
Ia meyakini bahwa keberhasilan lahir ketika setiap pemain memahami perannya dan bersedia menempatkan kepentingan tim di atas ambisi pribadi.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu pembeda Spanyol dibanding sejumlah pesaingnya sepanjang turnamen. Ketika banyak tim bergantung pada satu atau dua pemain kunci, Spanyol tampil sebagai kesatuan yang sulit dipisahkan.
Perjalanan De la Fuente menuju kursi pelatih utama Timnas Spanyol juga tidak berlangsung instan.
Sebelum menangani skuad senior, ia menghabiskan waktu bertahun-tahun di sistem pembinaan sepak bola Spanyol.
Pengalaman tersebut membuatnya memahami karakter pemain muda dan proses pengembangan talenta secara mendalam.
Karena mengenal banyak pemain sejak usia remaja, De la Fuente mampu membangun hubungan yang lebih kuat ketika mereka naik ke level tim nasional senior. Kepercayaan yang terbentuk sejak awal menjadi modal penting dalam membangun atmosfer positif di ruang ganti.
Ketika menggantikan Luis Enrique pada 2022, keputusan Federasi Sepak Bola Spanyol sempat dipandang sebagai langkah berisiko.
Sebagian pengamat meragukan kapasitas De la Fuente karena belum memiliki pengalaman panjang sebagai pelatih tim nasional senior.
Namun keraguan tersebut perlahan menghilang seiring hasil yang diraih La Roja.
Alih-alih mengubah total identitas sepak bola Spanyol, ia mempertahankan fondasi permainan penguasaan bola yang telah menjadi ciri khas selama bertahun-tahun.
Perbedaannya, De la Fuente menambahkan unsur fleksibilitas, intensitas tekanan, serta kemampuan beradaptasi terhadap berbagai situasi pertandingan. Kombinasi itulah yang membuat Spanyol tampil lebih efektif tanpa kehilangan identitasnya.
Keberanian mengambil keputusan juga menjadi karakter penting dalam kepemimpinannya.
De la Fuente tidak selalu memilih pemain berdasarkan popularitas atau reputasi.
Ia lebih mengutamakan kebutuhan taktik dan keseimbangan tim.
Sepanjang Piala Dunia 2026, kebijakan rotasi yang diterapkan membuat hampir seluruh anggota skuad merasa memiliki peran penting. Pemain pelapis mampu masuk ke lapangan dan memberikan kontribusi tanpa menurunkan kualitas permainan tim.
Situasi tersebut menciptakan persaingan sehat di dalam skuad.
Tidak ada pemain yang merasa posisi mereka sepenuhnya aman.
Sebaliknya, seluruh pemain dituntut terus menunjukkan performa terbaik.
Budaya kompetitif yang dibangun itu membuat Spanyol mampu menjaga konsistensi hingga akhir turnamen, termasuk saat menghadapi tekanan besar di fase gugur dan final.
Namun bagi De la Fuente, keberhasilan tim tidak hanya ditentukan oleh strategi di lapangan.
Ia kerap menekankan pentingnya hubungan antarpemain dan suasana ruang ganti.
Pendekatan personal yang diterapkan membuat banyak pemain muda merasa nyaman berkembang.
FIFA bahkan pernah menggambarkan sosok De la Fuente sebagai figur ayah bagi banyak pemain Spanyol karena kedekatannya dengan skuad.
Meski demikian, kedekatan tersebut tidak mengurangi tuntutan profesionalisme. De la Fuente tetap menerapkan standar disiplin tinggi dan meminta seluruh pemain menghormati tanggung jawab yang datang bersama seragam tim nasional.
Keberhasilan di Piala Dunia 2026 melengkapi rangkaian prestasi yang telah diraih De la Fuente dalam beberapa tahun terakhir.
Sebelumnya ia sukses mempersembahkan gelar UEFA Nations League 2023 dan UEFA EURO 2024, serta membawa Spanyol tampil di final UEFA Nations League 2025.
Trofi Piala Dunia 2026 kini menjadi pencapaian terbesar dalam karier kepelatihannya sekaligus mengukuhkan Spanyol sebagai salah satu kekuatan dominan sepak bola dunia.
Bagi publik Spanyol, gelar ini tidak hanya menghadirkan kebanggaan karena kembali menjadi juara dunia.
Lebih dari itu, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa sebuah tim bisa meraih prestasi tertinggi ketika dibangun melalui proses, kepercayaan, dan kebersamaan. Filosofi yang selama ini diyakini Luis de la Fuente akhirnya terbukti mampu membawa La Roja kembali berdiri di puncak sepak bola dunia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

16 hours ago
9

















































