KLIKPOSITIF – Pergerakan inflasi tidak lepas dari perubahan pola konsumsi dan dinamika pasokan di masyarakat. Sejumlah faktor menjadi perhatian utama, terutama yang berkaitan dengan sektor pangan dan komoditas strategis.
Harga beras, misalnya, cenderung mengalami kenaikan ketika produksi menurun. Kondisi ini dipengaruhi oleh faktor cuaca, luas tanam, serta hasil panen yang tidak selalu stabil. Ketika pasokan berkurang sementara kebutuhan tetap tinggi, tekanan terhadap harga menjadi sulit dihindari.
Hal serupa terjadi pada komoditas cabai. Produksi cabai di sejumlah daerah kerap bersifat fluktuatif, sehingga harga di pasaran mudah bergejolak. Ketidakstabilan pasokan ini turut memberikan kontribusi terhadap meningkatnya tekanan inflasi, termasuk di wilayah seperti Nusa Tenggara Barat dan daerah lainnya.
Selain faktor produksi, momen-momen tertentu juga berpengaruh terhadap pergerakan harga. Menjelang akhir tahun, misalnya, inflasi kerap mengalami peningkatan seiring naiknya permintaan masyarakat. Kondisi ini menuntut pemerintah untuk lebih waspada dalam mengantisipasi lonjakan harga melalui penguatan distribusi dan pengawasan pasar.
Gangguan distribusi juga menjadi faktor krusial. Keterlambatan atau hambatan dalam penyaluran barang dapat memicu kenaikan harga di tingkat konsumen. Oleh karena itu, kelancaran rantai pasok menjadi kunci dalam menjaga stabilitas harga, terutama untuk komoditas kebutuhan pokok.
Di sisi lain, tekanan inflasi juga datang dari komoditas nonpangan. Harga emas, misalnya, cenderung meningkat seiring dengan naiknya ketidakpastian global. Dalam situasi tersebut, emas sering dipilih sebagai aset lindung nilai, sehingga permintaannya meningkat dan berdampak pada harga.
Berbagai tantangan tersebut menunjukkan bahwa pengendalian inflasi membutuhkan pendekatan yang komprehensif. Pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, serta stabilitas harga, agar inflasi tetap terkendali dan daya beli masyarakat terjaga sepanjang tahun 2025.
Guru Besar di Departemen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Andalas (Unand), Prof. Dr. Drs. Syafruddin Karimi, SE, MA mengatakan, inflasi tinggi di akhir tahun biasanya bertahan bila Sumbar membiarkan sumbernya tetap hidup: gangguan pasokan pangan, distribusi tersendat, biaya angkut naik, dan produksi pertanian turun akibat cuaca ekstrem.
“Bank Indonesia (BI) mencatat inflasi Sumbar naik sejak Agustus setelah cuaca ekstrem, dipicu gagal panen dan gangguan distribusi pada komoditas pangan seperti beras, bawang merah, dan cabai merah,” katanya.
Disisi lain, BI juga mencatat kontribusi kenaikan harga emas pada 2025 dan inflasi year-to-date mencapai 3,62% hingga November. Target 2,5±1% masih bisa ditahan pada 2026 jika pemerintah daerah menutup celah pasokan melalui rehabilitasi irigasi dan jalan produksi, memperkuat cadangan dan distribusi pangan lintas kabupaten/kota, menjalankan operasi pasar yang terukur, serta mengunci koordinasi TPID agar respons cepat muncul saat harga mulai bergerak. “Kebijakan itu bekerja karena inflasi Sumbar banyak dipengaruhi pangan, sehingga perbaikan pasokan dan logistik memberi hasil yang paling cepat,” paparnya.

3 days ago
10

















































