
Podcast Harian Jogja bersama Dinas Pariwisata Bantul, Selasa (8/9). Harian Jogja -Kiki Luqman
BANTUL— Pariwisata Kabupaten Bantul terus berkembang mengikuti perubahan minat wisatawan. Jika sebelumnya kunjungan wisata lebih banyak berorientasi pada destinasi alam dan pantai, kini pengalaman menikmati keseharian masyarakat hingga aktivitas edukasi mulai menjadi bagian penting dalam perjalanan wisata.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul, Saryadi, mengatakan perkembangan tersebut terlihat dari bermunculannya destinasi dan paket wisata baru yang dikelola masyarakat. Menurutnya, dinamika pariwisata di Bantul berjalan seiring dengan perubahan pasar dan ketertarikan wisatawan.
“Ya, untuk perkembangan pariwisata di Bantul saya kira hari ini juga terus tumbuh ya. Selain destinasi alam yang menjadi andalan kita di sepanjang Pantai Selatan Bantul juga tumbuh destinasi-destinasi baru di tempat lain. Beberapa desa wisata berkembang, kemudian destinasi-destinasi yang dikelola oleh kelompok-kelompok masyarakat juga tumbuh,” kata Saryadi dalam Podcast Harian Jogja di Ombak Selatan Coffee Bantul, Selasa (8/9).
Ia mencontohkan sejumlah destinasi di Bantul yang mengalami perkembangan maupun pasang surut. Di sepanjang bantaran Sungai Opak, beberapa destinasi seperti Taman Pelangi di Jetis, Taman Glugut dan Taman Ngelo di Pleret pernah berkembang, meski sebagian mengalami dinamika kunjungan.
Di sisi lain, sejumlah destinasi baru justru tumbuh. Saryadi menyebut Puncak Sosok, Watugagak, Bukit Pangol, hingga kawasan sekitar Bukit Bintang sebagai bagian dari perkembangan tersebut.
Sementara itu, di kawasan Pantai Selatan, muncul pula destinasi seperti Tanggul Tirto dan Muara Progo. Sejumlah spot wisata baru juga berkembang di antara Pantai Parangtritis dan Depok.
Menurut Saryadi, kemunculan destinasi baru tidak terlepas dari perubahan kebutuhan wisatawan. Wisatawan kini tidak selalu datang hanya untuk melihat pemandangan, tetapi juga mencari pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Misalnya bagaimana keseharian masyarakat itu juga menjadi daya tarik bagi segmen tertentu, terutama dari orang-orang yang mungkin sibuk, kesibukannya tinggi di kota besar, pengen rileks, slow living,” ujarnya.
Pengalaman tersebut dapat ditemukan di desa wisata. Di Candran, Kebun Agung, misalnya, wisatawan dapat mengikuti aktivitas masyarakat seperti membajak sawah menggunakan kerbau hingga menanam padi. Konsep serupa juga berkembang di Desa Wisata Wukirsari melalui paket membatik.
Jika sebelumnya wisatawan hanya membeli produk batik, kini proses pembuatannya turut ditawarkan sebagai pengalaman wisata. Menurut Saryadi, paket semacam itu cukup diminati, terutama untuk wisata edukasi dan kegiatan study tour.
Konsep wisata berbasis pengalaman juga membuat wisatawan memiliki waktu tinggal lebih panjang. Saryadi mengatakan sejumlah desa wisata masih mengembangkan konsep live in, yakni wisatawan tinggal di rumah warga dan mengikuti aktivitas keseharian keluarga maupun masyarakat setempat.
Konsep tersebut antara lain masih dijalankan di Candran, Tembi, dan Santan Ngowosari. Wisatawan tidak hanya mengikuti kegiatan di lingkungan desa, tetapi juga dapat menikmati aktivitas bersama keluarga di rumah warga.
“Dan bahkan homestay-nya itu menjadi satu dengan rumah warga. Jadi sebagian kamar dari rumah itu, rumah itu dihuni warga, sebagian kamarnya itu menjadi tempat,” katanya.
Saryadi memastikan masyarakat yang terlibat telah siap menerima wisatawan. Sejumlah desa wisata juga memiliki daftar rumah warga yang siap dijadikan homestay. Pendampingan terhadap pengelola desa wisata sebelumnya dilakukan bersama perguruan tinggi yang memiliki perhatian pada bidang pariwisata.
Ia menekankan, kekuatan wisata berbasis masyarakat justru terletak pada keaslian aktivitas warga. Karena itu, masyarakat tidak perlu mengubah kesehariannya secara berlebihan. Hal terpenting adalah memberikan sentuhan pelayanan dan keramahan kepada wisatawan.
Sejauh ini, Pantai Parangtritis tetap menjadi ikon Bantul. Saryadi menyebut berdasarkan data kunjungan, Parangtritis masih menjadi destinasi dengan jumlah kunjungan tertinggi dan menjadi salah satu top of mind wisata di Bantul, bahkan DIY.
Selain kawasan pantai dan wisata alam, Bantul juga memiliki kekuatan dari sektor kuliner. Sate klathak di kawasan Jejeran dan Pleret, tiwul di kawasan Mangunan, jajanan pasar seperti adrem dan geplok di Sanden, serta mi lethek di Srandakan menjadi bagian dari potensi wisata kuliner yang dapat melengkapi pengalaman wisatawan. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

4 hours ago
3
















































