PADANG, KLIKPOSITIF — Bank Indonesia Perwakilan Sumatera Barat (BI Sumbar) menyebut perekonomian Sumatera Barat sepanjang 2025 menghadapi tantangan berat. Tekanan inflasi yang dipicu cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi membuat laju inflasi diperkirakan melampaui rentang sasaran nasional, sementara pertumbuhan ekonomi menunjukkan tren perlambatan.
BI Sumbar mencatat, hingga November 2025 inflasi Sumbar berada di level 3,62 persen secara year to date (ytd), lebih tinggi dari target inflasi 2,5±1 persen. Meski pada November terjadi deflasi sebesar 0,24 persen (mtm), tekanan harga sepanjang tahun masih terasa kuat.
“Cuaca kemarau panjang pada Juni hingga September, ditambah bencana hidrometeorologi di akhir tahun, berdampak signifikan terhadap pasokan pangan dan distribusi,” kata Kepala Perwakilan BI Sumbar, Mohamad Abdul Majid Ikram, dalam media briefing Januari 2026.
Ia mengatakan, kenaikan harga ini lebih disebabkan oleh faktor cuaca ekstrim yang terjadi di pertengahan hingga akhir tahun ini yang mengakibatkan beberapa produksi bahan pangan terganggu, khususnya beras, bawang, dan cabe.
“Sementara itu, konsumsi ketiga pangan tersebut semakin meningkat, karena konsumsi, terutama untuk beras tidak hanya di Sumbar, namun juga keluar Sumbar, seperti Riau dan Jakarta, bahkan sampai ke Malaysia,” jelasnya.
Menurutnya, saat ini konsumsi masyarakat terhadap pangan dari Sumatera Barat sangat diminati pihak luar, sehingga inflasi relatif meningkat. “Memang ke depan untuk inflasi, kita lagi melihat potensi-potensinya, tapi kita harapkan 2026 bisa kita capai target pada angka 2,5±1 persen, Jadi batas atasnya kita coba paksa untuk bisa maksimal di angka 3,5%,” paparnya.
Sejumlah komoditas pangan seperti cabai merah, cabai rawit, dan emas perhiasan tercatat menjadi penyumbang utama inflasi. Secara spasial, inflasi tahunan tertinggi terjadi di Pasaman Barat yang menembus 5,28 persen (yoy).
Di sisi lain, ekonomi Sumatera Barat pada triwulan III 2025 tumbuh 3,36 persen (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 3,94 persen. Perlambatan ini dipengaruhi oleh menurunnya investasi, terbatasnya belanja pemerintah, serta melemahnya kinerja sektor-sektor utama seperti konstruksi, perdagangan, dan transportasi.
Untuk keseluruhan tahun 2025, pertumbuhan ekonomi Sumbar diprakirakan berada pada kisaran 3,33–4,13 persen. Namun, harapan mulai terlihat pada 2026, dengan proyeksi pertumbuhan meningkat ke rentang 3,77–4,57 persen, seiring percepatan pemulihan pascabencana dan meningkatnya belanja pemerintah serta konsumsi masyarakat.
Transaksi QRIS Tumbuh Signifikan
Di tengah perlambatan ekonomi, digitalisasi sistem pembayaran justru menunjukkan akselerasi. Transaksi QRIS hingga November 2025 tumbuh signifikan, baik dari sisi volume maupun nominal, didorong oleh meningkatnya jumlah merchant dan pengguna. Fenomena ini menandai pergeseran preferensi masyarakat dari transaksi tunai dan kartu debit ke kanal pembayaran digital.
Meski demikian, uang tunai masih memegang peran penting. BI mencatat inflow dan outflow uang kartal pada 2025 sama-sama mengalami kontraksi, mengindikasikan uang beredar lebih lama di masyarakat. Kondisi ini mencerminkan kehati-hatian masyarakat dalam membelanjakan uang di tengah ketidakpastian ekonomi.
Dari sisi stabilitas sistem keuangan, BI memastikan kondisi perbankan Sumatera Barat tetap terjaga. Risiko kredit memang sedikit meningkat, namun rasio kredit bermasalah (NPL) masih berada di bawah ambang batas 5 persen. Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang lebih tinggi dibandingkan kredit juga menunjukkan kecenderungan masyarakat untuk menahan konsumsi.
“Secara keseluruhan, stabilitas keuangan Sumatera Barat tetap solid, meski dihadapkan pada tekanan ekonomi dan dampak bencana,” ujar Abdul Majid.
Ke depan, Bank Indonesia menilai keberhasilan pemulihan ekonomi Sumatera Barat sangat bergantung pada efektivitas penanganan bencana, keberlanjutan proyek infrastruktur strategis, serta sinergi kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah.

1 day ago
6

















































