Elly Delfia: Cerpen Pemenang Festival Marah Roesli Hadirkan Denting Sunyi Budaya Lokal

4 weeks ago 36

Exhibition Scoopy x Kuromi - Klikpositif

KLIKPOSITIF  — Pengajar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Elly Delfia, menilai cerpen-cerpen pemenang Festival Sastra Marah Roesli memiliki benang merah yang kuat, yakni penghargaan terhadap budaya lokal di tengah derasnya arus kehidupan digital. Hal itu disampaikannya saat membahas antologi cerpen Warung Nasi di Depan Masjid (WNDM), kumpulan karya pemenang lomba menulis cerpen Festival Marah Roesli, Kamis, 18 Desember 2025.

Menurut Elly, cerpen-cerpen seperti Warung Nasi di Depan Masjid, Babi yang Membungkam Teluk Youtefa, Tart, Sejumput Aspal, hingga Menjemput Kalashnikov seolah menjadi pengingat atas berbagai hal yang kerap terluput dari perhatian masyarakat modern.

“Antologi cerpen Warung Nasi di Depan Masjid seperti suara denting sunyi yang mengembalikan ingatan kita tentang banyak hal yang terlupa. Kita lupa pada kehidupan di berbagai belahan pulau di Indonesia, dan lupa pada kompleksitas masyarakat lokal dengan seluruh dinamikanya,” ujar Elly.

Ia menambahkan, era digital yang ditandai dengan kemajuan teknologi komunikasi dan kecerdasan buatan (AI) secara perlahan dapat mengasingkan manusia dari dirinya sendiri, jika tidak diimbangi dengan pemajuan nilai-nilai kemanusiaan dan kebudayaan.

Salah satu cerpen yang disoroti Elly adalah Warung Nasi di Depan Masjid karya Syarifah Lestari. Cerpen tersebut mengisahkan kehidupan Yapi—singkatan dari yatim piatu—seorang anak yang hidup di atas tanah sengketa milik pemerintah. Yapi kerap makan di warung nasi Pak Haji, sosok yang justru sering memojokkannya. Hanya tokoh “aku” yang menunjukkan simpati, meski sikap itu justru menimbulkan kecurigaan.

“Elly menilai cerpen ini sarat dengan nilai lokalitas yang mengandung kritik sosial, satire, dan ironi,” mulai dari minimnya empati terhadap orang miskin dan anak yatim piatu, pelabelan nama berdasarkan nasib, tuduhan tanpa bukti, hingga praktik penipuan agraria terkait sertifikat tanah. “Masalah-masalah ini sangat kompleks dan kerap terjadi dalam kehidupan sosial kita,” jelasnya.

Baca Juga

Secara keseluruhan, Elly menilai seluruh cerpen dalam antologi WNDM memiliki kekuatan masing-masing sebagai suara budaya lokal yang muncul di tengah era digital yang semakin maju. Menurutnya, hal tersebut menjadi pekerjaan rumah bersama untuk menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan kemajuan nilai-nilai kemanusiaan.

Antologi cerpen Warung Nasi di Depan Masjid merupakan kumpulan karya pemenang lomba cerpen Festival Sastra Marah Roesli. Sebanyak 27 naskah cerpen dibukukan dalam antologi tersebut. Salah seorang juri, Raudal Tanjung Banua, mengungkapkan bahwa total naskah yang lolos verifikasi mencapai 768 judul, berasal dari 800 penulis di hampir seluruh penjuru Indonesia.

“Pesertanya sangat beragam, mulai dari penulis yang namanya belum pernah terdengar hingga sastrawan yang telah lama malang melintang di media dan berbagai penghargaan sastra,” kata Raudal.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news