Gedongtengen Jogja Siapkan Wisata Edukasi dari Pertanian Perkotaan

8 hours ago 4

Harianjogja.com, JOGJA—Kemantren Gedongtengen mulai mengembangkan pertanian perkotaan (urban farming) sebagai daya tarik wisata edukasi berbasis masyarakat. Upaya tersebut diawali melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Tanaman Hias dan Media Tanam yang melibatkan anggota Kelompok Tani (Poktan) dan Kelompok Wanita Tani (KWT) se-Kemantren Gedongtengen sebagai bekal memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengembangkan budidaya tanaman bernilai ekonomi.

Kegiatan yang digelar di Aula Kemantren Gedongtengen pada Kamis (16/7/2026) itu tidak hanya meningkatkan keterampilan budidaya tanaman hias, tetapi juga menjadi bagian dari strategi mengintegrasikan potensi pertanian perkotaan dengan sektor pariwisata berbasis komunitas di Kota Jogja.

Urban Farming Akan Dikolaborasikan dengan Pokdarwis

Mantri Pamong Praja Kemantren Gedongtengen, Pargiyat, mengatakan pertanian perkotaan yang telah berkembang di wilayahnya memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata edukasi melalui kolaborasi bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di setiap kelurahan.

"Ke depan kami berharap potensi pertanian perkotaan yang sudah berkembang dapat dikolaborasikan dengan Pokdarwis di setiap kelurahan sehingga menjadi destinasi wisata edukasi yang menarik bagi wisatawan yang datang ke Kota Jogja," katanya, Senin (20/7/2026).

Menurut Pargiyat, keberhasilan pengembangan pertanian perkotaan tidak lepas dari peran aktif kelompok tani, kelompok wanita tani, serta pegiat lingkungan yang terus berinovasi meski menghadapi keterbatasan lahan.

"Kami mengapresiasi kelompok tani, kelompok wanita tani, dan para pegiat lingkungan yang tetap semangat mengembangkan pertanian perkotaan meskipun lahan di Gedongtengen terbatas," ujarnya.

Wall Planter hingga Lorong Sayur Jadi Inovasi Warga

Pargiyat menjelaskan masyarakat telah memanfaatkan berbagai metode untuk mengoptimalkan ruang terbatas, mulai dari wall planter, lorong sayur, hingga budidaya tanaman di kawasan permukiman.

"Pemanfaatan wall planter, lorong sayur, serta budidaya tanaman di lingkungan permukiman merupakan bentuk kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan sekaligus mendukung ketahanan pangan keluarga," katanya.

Ia berharap pengembangan pertanian perkotaan tidak hanya mampu meningkatkan produktivitas masyarakat, tetapi juga memperindah kawasan permukiman serta membuka peluang tambahan pendapatan melalui budidaya tanaman hias bernilai ekonomi tinggi.

Selain mendukung penghijauan lingkungan, konsep tersebut diharapkan menjadi salah satu daya tarik wisata berbasis masyarakat di Kota Jogja.

Peserta Belajar Menyusun Media Tanam Aglaonema

Dalam bimtek tersebut, praktisi pertanian Teguh Kristianta memberikan materi mengenai teknik penyusunan media tanam yang tepat untuk budidaya aglaonema.

Menurutnya, kualitas media tanam menjadi salah satu faktor utama yang menentukan keberhasilan pertumbuhan tanaman.

"Keberhasilan budidaya aglaonema sangat ditentukan oleh media tanam. Media yang baik harus memiliki pH yang sesuai, porositas yang baik, steril, bebas hama dan penyakit, serta tidak mudah mengalami pelapukan," ujarnya.

Ia juga memperkenalkan sejumlah formulasi media tanam, di antaranya campuran pakis, sekam bakar, sekam mentah, pasir Malang, dan humus, serta kombinasi sekam, sekam bakar, pasir Malang, humus bambu, dan cocopeat.

"Media tanam bisa disusun dari berbagai kombinasi bahan, seperti pakis, sekam bakar, sekam mentah, pasir Malang, dan humus. Komposisinya perlu disesuaikan dengan kebutuhan tanaman agar pertumbuhannya optimal," katanya.

Praktik Langsung Budidaya Aglaonema

Materi berikutnya disampaikan oleh Komunitas Joglo Aglaonema, Dimas Hendra Ardiputra, yang menjelaskan karakteristik berbagai jenis aglaonema, teknik budidaya, perawatan, perbanyakan tanaman, hingga pengendalian hama dan penyakit.

"Aglaonema memiliki banyak jenis dengan karakteristik yang berbeda. Karena itu, perawatan, perbanyakan tanaman, hingga pengendalian hama dan penyakit perlu dipahami agar tanaman tumbuh sehat dan memiliki nilai jual yang tinggi," ujarnya.

Setelah sesi teori, peserta mengikuti demonstrasi dan praktik langsung penyusunan media tanam serta teknik budidaya aglaonema. Selama kegiatan berlangsung, peserta aktif berdiskusi dengan narasumber mengenai penerapan teknik budidaya yang dapat diterapkan di lingkungan masing-masing.

"Melalui praktik langsung ini kami berharap peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkan teknik budidaya aglaonema secara mandiri di lingkungan masing-masing," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news