Kejelian Pemerintah Ubah Pemulihan pascabencana Jadi Peningkatan Kapasitas Produksi

3 days ago 11

TARUNA - hayati

KLIKPOSITIF – Pemulihan ekonomi nasional terus menunjukkan tren yang positif. Konsumsi rumah tangga dan investasi masih menjadi motor utama pertumbuhan, seiring membaiknya aktivitas ekonomi pascapandemi dan stabilnya kondisi makroekonomi.

Pada 2023, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat berada di kisaran 5,1 persen. Angka ini kemudian mengalami moderasi pada 2024 di kisaran 4 hingga 5 persen, dipengaruhi oleh dinamika global dan penyesuaian kebijakan ekonomi. Meski demikian, prospek ekonomi nasional tetap menunjukkan arah yang menjanjikan.

Memasuki 2025, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan berada pada kisaran 4,1 hingga 4,9 persen. Proyeksi ini mencerminkan optimisme terhadap berlanjutnya pemulihan ekonomi, didukung oleh kebijakan fiskal dan moneter yang tetap ekspansif namun terukur.

Sementara itu, pada 2026 pertumbuhan ekonomi diperkirakan berpotensi meningkat ke kisaran 3,7 hingga 4,5 persen, sejalan dengan penguatan konsumsi masyarakat, peningkatan investasi, serta berjalannya berbagai program pemulihan dan pembangunan secara berkelanjutan.

Bank Indonesia mencatata, percepatan digitalisasi turut memberikan kontribusi penting terhadap pergerakan ekonomi. Transformasi digital membuka akses layanan keuangan, memperkuat sistem pembayaran, serta mendorong peningkatan aktivitas ekonomi di berbagai daerah. Digitalisasi juga berperan dalam mempercepat penyaluran dana, memperluas inklusi keuangan, dan meningkatkan efisiensi transaksi.

“Dengan dukungan kebijakan yang tepat dan sinergi antarpemangku kepentingan, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi ke depan dapat terus terjaga, sekaligus memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, termasuk di daerah-daerah yang selama ini relatif tertinggal,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumatera Barat, M. Abdul Majid Ikram beberapa waktu lalu.

Disisi lain, Guru Besar di Departemen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Andalas (Unand), Prof. Dr. Drs. Syafruddin Karimi, SE, MA mengatakan, pertumbuhan ekonomi Sumbar pada 2026 berpeluang kembali menguat bila pemerintah berhasil mengubah pemulihan pascabencana menjadi program peningkatan kapasitas produksi.

“Basis 2025 menunjukkan pelemahan bertahap sampai Triwulan III (4,66% yoy turun ke 3,94% lalu 3,36%), dan BI menilai bencana hidrometeorologi akhir November menekan puncak aktivitas akhir tahun, sehingga 2026 harus memulai dari agenda pemulihan yang disiplin,” katanya beberapa waktu lalu di Padang.

Ia mengatakan, dengan asumsi makro nasional 2026 yang menarget pertumbuhan sekitar 5,4% dan inflasi 2,5% sebagai jangkar, Sumbar realistis bergerak di kisaran 3,8%–4,3%, dengan titik tengah sekitar 4,0% bila rekonstruksi infrastruktur, pemulihan irigasi, dan penguatan UMKM berjalan cepat serta tepat sasaran.

“Jika penanganan bencana tersendat dan pasokan pangan tetap rapuh, laju pertumbuhan akan sulit keluar dari kisaran sekitar 3,5%–3,8% karena ekonomi kehilangan tenaga dari konsumsi, pariwisata, dan produksi pertanian,” jelasnya.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news