Mengapa Kita Masih Mengonsumsi Multivitamin?

1 month ago 28

Exhibition Scoopy x Kuromi - Klikpositif

KLIKPOSITIF – Apakah Anda termasuk satu dari tiga orang dewasa yang menelan multivitamin setiap pagi, biasanya ditemani seteguk air? Jika iya, mungkin fakta berikut akan cukup sulit untuk dicerna.

“Sebagian besar orang sebenarnya akan lebih baik jika hanya minum segelas penuh air dan melewatkan vitamin,” ujar Dr. Pieter Cohen, profesor kedokteran di Harvard Medical School sekaligus dokter penyakit dalam di Cambridge Health Alliance. Selain menghemat uang, Anda juga terhindar dari jebakan pemasaran yang menyesatkan.

Pasalnya, bagi orang dewasa pada umumnya, multivitamin harian tidak memberikan manfaat kesehatan yang berarti. Hal ini ditegaskan oleh US Preventive Services Task Force (USPSTF) dalam tinjauan terbaru mereka terhadap 84 studi yang melibatkan hampir 700.000 orang. Hasilnya: tidak ada bukti kuat bahwa suplemen vitamin dan mineral mampu mencegah kanker, penyakit jantung dan pembuluh darah—termasuk serangan jantung dan stroke—atau menurunkan risiko kematian dini.

“Kita punya bukti yang cukup kuat bahwa bagi sebagian besar orang, multivitamin tidak akan memberikan manfaat,” katanya.

Siapa yang Masih Membutuhkan Multivitamin?

Meski demikian, ada beberapa pengecualian. Orang dengan pola makan sangat terbatas, gangguan pencernaan tertentu, atau mereka yang menjalani operasi penurunan berat badan yang mengganggu penyerapan nutrisi, mungkin memang memerlukan multivitamin atau suplemen tertentu.

Suplemen vitamin D juga kerap direkomendasikan bagi mereka yang jarang terpapar sinar matahari. Sementara itu, dokter dapat menyarankan suplemen zat besi bagi pasien dengan anemia atau kadar sel darah merah yang rendah.

Mengapa Sulit Menghentikan Kebiasaan Minum Vitamin?

Survei menunjukkan, banyak orang mengonsumsi vitamin demi menjaga kesehatan, meningkatkan energi, atau sekadar mendapatkan rasa aman. Pandangan ini, menurut editorial yang menyertai laporan USPSTF, berakar dari narasi kuat tentang vitamin sebagai sesuatu yang “alami” dan “menyehatkan”—sebuah keyakinan yang telah tertanam hampir satu abad.

“Narasi ini menarik banyak kelompok, mulai dari vegetarian progresif hingga kalangan konservatif yang curiga pada sains dan menganggap dokter tidak selalu berpihak pada pasien,” ujar Dr. Cohen.

Klaim Pemasaran yang Belum Terbukti

Multivitamin sangat murah untuk diproduksi. Karena itu, perusahaan suplemen dapat menggelontorkan dana besar untuk iklan. Namun, berbeda dengan obat resep, FDA mengatur suplemen sebagai produk makanan, bukan obat. Artinya, pengawasan terhadap klaim manfaatnya jauh lebih longgar.

Produsen tidak boleh mengklaim bahwa produknya “menurunkan risiko penyakit jantung”. Namun, mereka tetap diizinkan menggunakan frasa seperti “mendukung kesehatan jantung”, “meningkatkan daya tahan tubuh”, atau janji samar seputar mengatasi kelelahan dan kurang motivasi.

“Produsen suplemen secara hukum diperbolehkan memasarkan produknya seolah-olah bermanfaat, meskipun manfaat itu sebenarnya tidak terbukti, karena itu, konsumen sebaiknya memperhatikan pernyataan wajib yang tercantum di kemasan. “Klaim ini belum dievaluasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA). Produk ini tidak dimaksudkan untuk mendiagnosis, mengobati, menyembuhkan, atau mencegah penyakit apa pun,” jelasnya.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news