Gantala Jarang di Pasar Jeneponto. (Dok: Ist)KabarMakassar.com — Di tengah gempuran kuliner modern, Gantala Jarang tetap kokoh berdiri sebagai primadona kuliner tradisional di Kabupaten Jeneponto.
Makanan khas berbahan dasar daging kuda ini hingga kini masih konsisten dijajakan di pasar-pasar tradisional setempat, membawa aroma kuat dan nilai budaya yang mendalam bagi masyarakat “Butta Turatea”.
Salah satu sosok yang menjaga keberlangsungan kuliner ini adalah Daeng Gassing. Ia berjualan di Pasar Tradisional Jeneponto dan telah menekuni profesi ini selama lebih dari 13 tahun, meneruskan warisan orang tuanya.
“Saya sudah menjual Gantala Jarang lebih dari 13 tahun. Prosesnya masih tradisional; daging kuda direbus lama dengan bumbu khusus agar empuk dan aromanya khas,” ujar Daeng Gassing saat ditemui di lapaknya (20/11).
Menurut Daeng Gassing, kunci utama Gantala Jarang terletak pada aromanya. Bau daging kuda yang kuat akan berpadu dengan sereh dan bumbu rahasia selama proses perebusan yang panjang. Ia menegaskan tidak pernah mengubah komposisi bumbu demi menjaga otentisitas rasa.
Keberadaan Gantala Jarang bukan sekadar soal urusan perut. Imran Hado, S.Pd., Guru Tata Boga dari SMA 1 Jeneponto, menjelaskan bahwa kuliner ini memiliki akar sejarah yang kuat.
“Daging kuda dianggap sebagai simbol kekuatan dan keberanian. Dahulu, Gantala Jarang hanya disajikan pada acara adat tertentu, seperti pesta panen atau perayaan keluarga besar,” jelas Imran (22/11).
Ia juga menambahkan bahwa nama “Gantala Jarang” merujuk langsung pada bahan utamanya, di mana kata ‘Jarang’ dalam bahasa setempat berarti kuda.
Meskipun memiliki aroma daging yang sangat tajam, hal itulah yang justru menjadi daya tarik utama bagi para penikmatnya. Ikmal Abidin, salah satu pelanggan setia, mengaku rasa gurih dan karakter kuat Gantala Jarang sulit ditemukan di makanan lain.
“Bau daging kudanya memang keras, tapi justru dari situ orang tahu ini Gantala Jarang asli. Apalagi kalau dinikmati selagi panas,” kata Ikmal (21/11).
Selain Gantala Jarang, kekayaan kuliner Jeneponto juga diperkuat dengan eksistensi Coto Turatea Belokallong. Serupa dengan Gantala Jarang, Coto ini juga mengandalkan aroma rempah yang kuat yang menjadi identitas kuliner khas daerah tersebut.
Hingga saat ini, melalui tangan para pedagang seperti Daeng Gassing, Gantala Jarang terus bertahan. Ia bukan sekadar hidangan berenergi tinggi, melainkan sebuah penanda budaya yang terus mengepul di pasar-pasar tradisional Jeneponto. (Musrang)
















































