Pakar UGM Ungkap Stres Jadi Pemicu Dominan Penyakit Autoimun

2 hours ago 1

Harianjogja.com, SLEMAN— Penyakit autoimun tidak hanya dipengaruhi faktor keturunan. Pakar dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM menegaskan bahwa stres, pola hidup, hingga faktor lingkungan memiliki peran besar dalam memicu maupun memperburuk penyakit tersebut. Karena itu, penderita diimbau tidak larut dalam kecemasan akibat informasi yang belum tentu benar di internet.

Pakar Reumatologi, Internis dan Herbal FK-KMK UGM, Prof. Nyoman Kertia, mengatakan penyakit autoimun muncul ketika sistem kekebalan tubuh keliru membedakan sel tubuh sendiri dengan benda asing yang seharusnya dilawan.

Sistem Imun Keliru Mengenali Sel Tubuh

Dalam kondisi normal, sistem imun bertugas mengenali dan menghancurkan bakteri, virus, parasit, maupun zat lain yang dianggap berbahaya. Namun pada penyakit autoimun, mekanisme tersebut justru mengalami kekeliruan sehingga sel kekebalan menyerang jaringan tubuh sendiri.

Akibatnya, hampir seluruh organ dapat terdampak, mulai dari kulit, ginjal, paru-paru, hati, hingga organ lainnya. Serangan terhadap organ inilah yang kemudian memunculkan berbagai jenis penyakit autoimun.

"Jumlah penderita autoimun cukup besar. Kalau kita memperkirakan sekitar dua persen populasi orang dewasa mengalami autoimun, maka angkanya bisa mencapai sekitar empat juta orang di Indonesia," terang Nyoman pada Selasa (21/7/2026).

Dipengaruhi Genetik, tetapi Lingkungan Juga Berperan

Menurut Nyoman, sebagian penderita autoimun belum merasakan gejala apa pun. Namun pada kondisi berat, penyakit tersebut dapat berkembang menjadi gangguan serius yang mengancam keselamatan jiwa.

Ia menjelaskan bahwa faktor genetik memang berkontribusi terhadap munculnya autoimun. Meski demikian, tidak semua pasien memiliki riwayat penyakit serupa dalam keluarganya karena terdapat faktor lain yang ikut memengaruhi.

Beberapa faktor lingkungan yang disebut berperan antara lain polusi udara, pola makan yang kurang sehat, hingga stres berkepanjangan.

"Banyak pasien autoimun berusaha memahami penyakitnya dengan mencari berbagai informasi, termasuk melalui internet. Sayangnya, informasi yang tidak dipahami dengan baik justru sering membuat mereka semakin cemas dan stres. Padahal, stres dapat memperburuk kondisi autoimun," jelasnya.

Nyoman menambahkan, stres menjadi salah satu faktor dominan yang dapat memicu autoimun. Kondisi tersebut tidak hanya dialami pekerja, tetapi juga mahasiswa yang menghadapi tekanan akademik.

Dua Kelompok Penyakit Autoimun

Secara umum, Nyoman membagi penyakit autoimun menjadi dua kelompok besar, yakni autoimun organ spesifik dan autoimun sistemik.

Autoimun Organ Spesifik

Jenis ini menyerang satu organ tertentu. Salah satu contohnya ialah autoimun pada kelenjar tiroid atau Hashimoto.

Penyakit tersebut hanya menyerang tiroid, tetapi dapat menimbulkan gejala berat. Ketika fungsi tiroid menurun, penderita dapat mengalami kenaikan berat badan, tubuh mudah lemas, hingga aktivitas sehari-hari terganggu.

Selain itu, terdapat autoimun yang menyerang pankreas sehingga menyebabkan diabetes melitus tipe 1 yang umumnya muncul sejak usia muda. Ada pula autoimun yang menyerang ginjal maupun organ tertentu lainnya.

Autoimun Sistemik

Kelompok berikutnya adalah autoimun sistemik, yaitu penyakit yang menyerang banyak organ sekaligus.

Salah satu contoh yang paling sering ditemukan ialah lupus yang dapat menyerang kulit, sendi, ginjal, paru-paru, hingga organ lain sehingga gejalanya sangat beragam.

Selain lupus, terdapat pula rheumatoid arthritis, scleroderma, serta berbagai penyakit rematik autoimun lainnya.

Lebih Banyak Menyerang Perempuan

Nyoman menjelaskan autoimun dapat dialami laki-laki, misalnya pada kasus ankylosing spondylitis. Namun secara umum, sekitar 80% penderita autoimun merupakan perempuan, sedangkan sekitar 20% lainnya laki-laki.

Kasus tersebut juga lebih banyak ditemukan pada perempuan usia muda karena pada rentang usia tersebut sistem kekebalan tubuh masih sangat aktif.

Tiga Pemicu yang Harus Dihindari

Nyoman mengingatkan terdapat beberapa faktor utama yang perlu dikendalikan oleh penderita autoimun agar penyakit tidak mudah kambuh.

Pemicu pertama ialah kelelahan. Meski kondisi pasien sudah membaik dan hasil pemeriksaan menunjukkan perkembangan positif, mereka tetap perlu menyadari bahwa penyakit autoimun membutuhkan pengelolaan jangka panjang.

Karena itu, aktivitas harian harus dibatasi sesuai kemampuan, termasuk menjaga waktu tidur dan menghindari pekerjaan yang berlebihan.

Pemicu berikutnya adalah stres.

"Ini memang tidak mudah dihindari, tetapi saya selalu mengatakan kepada pasien mulai sekarang jangan terlalu memikirkan penyakitmu. Serahkan urusan pengobatan kepada saya sebagai dokter," tuturnya.

Selain kelelahan dan stres, paparan sinar matahari yang berlebihan juga dapat memicu kekambuhan autoimun.

Menurut Nyoman, penderita tetap boleh beraktivitas di bawah sinar matahari, tetapi paparan yang terlalu lama sebaiknya dihindari. Jika harus berada di luar ruangan, masyarakat dianjurkan menggunakan pelindung seperti payung maupun tabir surya.

"Menurut saya, tiga hal itulah yang paling penting, jangan terlalu lelah, jangan terlalu stres, dan hindari paparan sinar matahari yang berlebihan," jelas Nyoman.

Jalani Hidup dengan Tenang

Selain menjaga kondisi fisik, Nyoman juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan mental dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, setiap orang sebaiknya berusaha menikmati pekerjaan yang dijalani agar energi tidak terkuras akibat tekanan psikologis.

"Ketika seseorang terus-menerus menjalani sesuatu yang tidak disukai, energinya akan terkuras dua kali. Pertama, untuk melawan perasaan tidak nyaman terhadap pekerjaannya, dan kedua untuk menyelesaikan pekerjaan itu sendiri," ungkapnya.

Bagi seseorang yang memiliki bakat genetik atau keturunan autoimun, Nyoman menegaskan langkah yang dapat dilakukan adalah menekan faktor-faktor pemicunya dengan menjaga pola hidup sehat, menghindari rokok, alkohol, menjaga kebersihan lingkungan, membatasi paparan sinar matahari berlebihan, tidak memaksakan diri hingga kelelahan, serta mengelola stres dengan baik.

"Prinsipnya tetap sama, yaitu menghindari stres berlebihan, tidak memaksakan diri hingga kelelahan, dan membatasi paparan sinar matahari yang berlebihan. Selain itu, tentu tetap menjalankan pola hidup sehat, seperti menghindari rokok, alkohol, dan menjaga lingkungan tetap bersih," tukasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news