ilustrasi ekskavator (dok. Ist)KabarMakassar.com — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Pemprov Sulsel) meningkatkan kesiapsiagaan infrastruktur jalan menghadapi lonjakan mobilitas masyarakat pada Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Langkah ini dilakukan dengan menyiagakan alat berat di sejumlah wilayah rawan gangguan lalu lintas, terutama akibat longsor.
Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi Sulsel menempatkan alat berat di enam Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang tersebar di berbagai daerah. Penempatan ini ditujukan untuk memastikan penanganan cepat jika terjadi bencana atau hambatan di ruas jalan provinsi.
Kepala Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi Sulsel, Andi Ihsan, mengatakan setiap UPT telah dilengkapi dengan minimal satu unit alat berat. Jenis alat yang disiapkan meliputi ekskavator dan self loader sesuai kebutuhan wilayah.
“Jadi di setiap UPT wilayah itu biasanya kami siapkan satu alat berat, eskavator, ada self loader, itu per wilayah,” kata Andi Ihsan, Selasa (23/12/2025).
Dia menjelaskan pembagian wilayah kerja UPT dilakukan untuk memudahkan koordinasi penanganan. UPT 1 melayani Luwu Raya, UPT 2 mencakup Sidrap, Pinrang, dan Toraja Utara, sementara UPT 3 menangani Parepare, Barru, serta Pangkep.
UPT 4 berada di wilayah Makassar dan Maros, UPT 5 bertanggung jawab atas Bone dan Wajo, sedangkan UPT 6 meliputi Bulukumba dan Kepulauan Selayar. Dengan pembagian tersebut, respons di lapangan diharapkan lebih cepat dan terukur.
Selain kesiapan peralatan, Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi Sulsel juga memperkuat koordinasi lintas instansi. Salah satunya dengan Balai Jalan Nasional dalam menyiapkan posko terpadu selama masa Nataru.
“Biasanya itu tiap tahun Nataru kita kolaborasi dengan balai terkait dengan titik-titik posko,” kata Ihsan.
Dari sejumlah wilayah di Sulsel, Luwu Raya disebut masih menjadi daerah dengan tingkat kerawanan longsor tertinggi. Intensitas hujan yang meningkat pada akhir tahun membuat sejumlah titik di kawasan tersebut kerap mengalami gangguan.
“Luwu Raya (paling rawan). Itu Palopo sering sekali longsor. Satu hari dibenahi, dua hari ke depan longsor lagi. Begitu lagi kalau untuk curah hujan tinggi,” tutur Ihsan.
Untuk meminimalkan risiko kecelakaan, posko Nataru juga difungsikan sebagai pusat penyampaian informasi kepada pengguna jalan. Informasi tersebut mencakup lokasi-lokasi rawan longsor maupun ruas jalan yang sedang dalam proses perbaikan.
“Nanti posko saat Nataru, di situ disampaikan titik-titik rawan agar pengendara bisa lebih waspada. Jadi, disampaikan bahwa di sini ada titik rawan,” pungkasnya.
















































