Penanaman di Sungai Oya Picu Sedimentasi, Pemkab Diminta Bertindak

8 hours ago 4

Penanaman di Sungai Oya Picu Sedimentasi, Pemkab Diminta Bertindak

Aliran sungai Kali Oya yang ditanami oleh warga di Kalurahan Rejosari, Semin, Senin (20/7). Harian Jogja/David Kurniawan.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul didorong memperkuat sosialisasi mengenai pelestarian ekosistem sungai menyusul masih ditemukannya aktivitas penanaman di daerah aliran sungai saat musim kemarau. Kegiatan tersebut dinilai berpotensi mempercepat sedimentasi yang dapat meningkatkan risiko banjir ketika musim penghujan tiba.

Dorongan itu muncul karena kesadaran masyarakat dalam menjaga fungsi alami sungai dinilai masih perlu ditingkatkan. Selain pemerintah, masyarakat juga dianggap memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian kawasan sempadan sungai.

Penanaman di Kali Oya Dinilai Berisiko

Pendiri Komunitas Resan Gunungkidul, Edi Padmo, mengatakan salah satu aktivitas yang masih banyak ditemukan adalah penanaman berbagai komoditas di aliran Kali Oya selama musim kemarau.

Menurutnya, warga memanfaatkan keberadaan air di sungai untuk menanam tanaman yang dinilai mudah tumbuh pada musim kering.

"Yang ditanam banyak mulai dari ketela hingga rumput kolonjono untuk pakan ternak," katanya, Senin (20/7/2026).

Padmo menjelaskan, meski secara kasatmata tidak menimbulkan persoalan karena tanaman dapat tumbuh dengan baik, aktivitas tersebut menyimpan dampak jangka panjang terhadap kondisi sungai.

Ia mencontohkan penanaman rumput kolonjono yang setelah dipanen akarnya kerap tidak dicabut sehingga lambat laun menjadi tumpukan material di dasar sungai.

"Misalnya untuk kolonjono saat dipanen, akarnya tidak dicabut sehingga akan menjadi tumpukan yang lambat laun akan semakin tinggi sehingga aliran sungai menjadi dangkal," katanya.

Sedimentasi Tingkatkan Risiko Banjir

Menurut Padmo, pendangkalan akibat sedimentasi dapat mengurangi kapasitas aliran sungai sehingga berpotensi memperbesar risiko banjir saat curah hujan meningkat.

Karena itu, ia meminta Pemkab Gunungkidul lebih aktif memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga ekosistem sungai, termasuk menghindari aktivitas penanaman di daerah aliran sungai.

"Salah satu yang ditekankan adalah larangan menanam di daerah aliran sungai karena sangat berbahaya karena bisa memicu terjadinya banjir," katanya.

DLH Akui Masih Ada Penanaman di Aliran Sungai

Kepala Bidang Konservasi dan Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul, Hana Kadaton Adinoto, membenarkan masih adanya aktivitas penanaman di aliran sungai pada musim kemarau.

Menurutnya, kondisi tersebut memang berpotensi mempercepat sedimentasi yang berdampak pada meningkatnya peluang banjir.

Ia mengatakan pemerintah daerah sebenarnya telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat, salah satunya melalui Program Bersih Kali (Prokasih) yang dipimpin langsung oleh Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih.

Program tersebut mengajak masyarakat menjaga kebersihan dan kelestarian sungai, termasuk menghindari penanaman tanaman pakan ternak di kawasan aliran sungai.

"Tapi, ini memang butuh sosialisasi yang lebih massif dan melibatkan lintas sektor agar hasilnya lebih optimal," katanya.

Perlu Keterlibatan Semua Pihak

Adinoto menegaskan upaya mengurangi potensi banjir tidak hanya dilakukan melalui Program Bersih Kali, tetapi juga melalui berbagai langkah mitigasi perubahan iklim dan penanggulangan bencana.

Menurutnya, keberhasilan menjaga ekosistem sungai membutuhkan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat.

"Semua pihak harus ikut berperan, termasuk masyarakat ikut aktif didalamnya," kata Adinoto.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news