
Wakil Ketua DPD RI, GKR Hemas saat membuka seminar nasional dan peringatan Lustrum ke-13 SMP Negeri 1 Piyungan, Bantul, sekaligus Musyawarah Nasional (Munas) I Ikatan Alumni SMPN 1 Piyungan, Sabtu (1/8/2026).
BANTUL—Pendidikan karakter dinilai semakin penting di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan budaya. Sekolah tidak hanya dituntut mencetak siswa yang unggul secara akademik, tetapi juga membentuk generasi yang berkarakter, berintegritas, berempati, serta memiliki kecintaan terhadap budaya.
Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua DPD RI, GKR Hemas, saat menjadi pembicara dalam seminar nasional yang dirangkaikan dengan peringatan Lustrum ke-13 SMP Negeri 1 Piyungan dan Musyawarah Nasional (Munas) I Ikatan Alumni SMPN 1 Piyungan di Bantul, Sabtu (1/8/2026).
Menurut Hemas, dunia pendidikan saat ini menghadapi perubahan yang berlangsung sangat cepat, mulai dari revolusi teknologi, perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), transformasi digital, hingga perubahan sosial.
Karena itu, sekolah tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan prestasi akademik. Pendidikan juga harus mampu membentuk karakter, integritas, empati, dan kreativitas peserta didik agar siap menghadapi tantangan masa depan.
DIY, lanjut Hemas, memiliki modal besar berupa kekayaan budaya yang dapat menjadi fondasi dalam pendidikan. Nilai-nilai seperti sawiji, greget, sengguh, dan ora mingkuh, serta semangat memberi manfaat bagi sesama, perlu terus ditanamkan kepada generasi muda.
"Pendidikan berbasis budaya bukan berarti kembali ke masa lalu, melainkan menjadikan budaya sebagai fondasi untuk melangkah ke masa depan. Kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan penguatan karakter," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Bantul, Nugroho Eko Setyanto, mengatakan pendidikan khas Jogja akan mulai diterapkan pada tahun ajaran 2026/2027.
Di Kabupaten Bantul, penguatan pendidikan karakter telah diatur melalui Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 2 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Karakter. Konsep pendidikan karakter tersebut mengusung nilai Ngajeni.
"Ngajeni bukan merupakan singkatan. Ini yang ingin kita sampaikan kepada semua anak-anak di Bantul bahwa pendidikan karakter itu diutamakan bagaimana kita bisa menciptakan harmoni kehidupan," jelas Nugroho.
Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Arif Jamaki Muis, menilai penerapan pendidikan karakter masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah perbedaan latar belakang antara guru dan peserta didik.
Menurutnya, banyak guru tumbuh pada era buku dan media cetak, sementara siswa saat ini hidup di lingkungan digital dengan pola belajar dan berinteraksi yang sangat berbeda.
Karena itu, Arif menekankan bahwa keberhasilan penerapan pendidikan khas Jogja maupun pendidikan karakter sangat bergantung pada kemampuan guru beradaptasi dengan perkembangan zaman. Guru dituntut memahami karakter generasi saat ini tanpa meninggalkan nilai-nilai karakter bangsa.
"Yang perlu diubah dan beradaptasi dulu adalah gurunya. Kebijakan kita mengubah guru untuk adaptasi dengan kondisi kekinian dengan nilai karakter bangsa," ujarnya. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

6 hours ago
4

















































