Pengungsi Galodo di Huntara Lubuk Buaya Harap Lapangan Kerja Jelang Ramadan

6 hours ago 2

TARUNA - hayati

KLIKPOSITIF- Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, harapan sederhana tumbuh di tengah deretan Rumah Hunian Sementara (Huntara) yang berdiri di kawasan Rumah Khusus (Rusus) Nelayan, Lubuk Buaya, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang. Di balik hunian yang nyaman dan tertata, sebagian besar penghuninya masih bergulat dengan kehilangan pekerjaan.

Sabtu (17/1/2026) sore, suasana di Huntara yang terletak di belakang Kantor Camat Koto Tangah tampak tenang. Anak-anak bermain riang di halaman, sementara orang dewasa berbincang di halaman rumah. Huntara yang dibangun pemerintah ini kini menjadi tempat tinggal sementara bagi sekitar 80 kepala keluarga korban banjir bandang (galodo) yang melanda sejumlah wilayah di Kota Padang pada akhir November 2025 lalu.

Para penghuni Huntara berasal dari berbagai kecamatan, seperti Kuranji, Pauh, dan Koto Tangah. Mereka telah menempati Huntara sejak 11 Desember 2025, setelah rumah dan sumber penghidupan mereka rusak akibat bencana.

Yani (30), warga Kampung Apa Koto Panjang Ikua Koto, Lubuk Minturun, mengaku bersyukur dengan fasilitas Huntara yang tersedia. Namun, di balik rasa nyaman itu, mereka menyimpan kegelisahan.

“Alhamdulillah tempatnya nyaman, fasilitas lengkap. Tapi yang masih jadi pikiran, banyak di antara kami yang belum bisa bekerja,” ungkap Yani saat di temui di Huntara sembari mengerikan pakaian cuciannya.

Sebelum bencana, Yani berjualan lontong, sementara suaminya berjualan ikan keliling. Usaha mereka hancur bersama rumah yang diterjang galodo. Untuk bertahan, Yani kini mencoba berdagang kecil-kecilan di Huntara dengan modal bantuan pemerintah.

“Sekarang masih coba-coba berdagang kecil. Tapi banyak warga lain yang belum punya pekerjaan sama sekali. Harapannya, sebelum Ramadan ini, pemerintah bisa bantu menyediakan lapangan kerja,” tuturnya.

Hal serupa dirasakan Uncu, pengungsi asal Kapalo Koto, Kecamatan Pauh. Sehari-hari ia biasa bekerja sebagai buruh, namun sejak tinggal di Huntara belum mendapatkan pekerjaan.

“Sekarang masih menganggur. Biasanya kerja sebagai buruh di Pauh,” terangnya singkat.

Galodo yang terjadi pada akhir November 2025 lalu, menurut Uncu, meninggalkan luka mendalam. Rumahnya rusak parah dan tak lagi layak ditempati.

Sementara itu, Yunis, pengungsi asal Kampung Guo, Kecamatan Kuranji, juga mengaku kebingungan mencari pekerjaan. Ia dan suaminya selama ini mengandalkan pekerjaan sebagai buruh tani dan buruh serabutan.

“Anak saya masih sekolah di Kuranji. Jadi harus bolak-balik dari sini, jaraknya jauh dan butuh ongkos,” ungkap Yunis.

Meski bantuan logistik dan hunian telah diberikan, Yunis berharap pemerintah kota dapat membantu mencarikan pekerjaan, terutama bagi para kepala keluarga.

“Kami bersyukur sudah difasilitasi, tapi kami juga tidak bisa terus menganggur. Apalagi sebentar lagi Ramadan,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala UPTD Rusunawa dan Rusus Kota Padang, Angga Liberdo, menyebutkan bahwa hingga hari kedua pembukaan Huntara di Kampung Nelayan, sebanyak 79 keluarga telah menempati 80 unit rumah.

“Pada hari pertama, Rabu (10/12/2025), ada 30 KK dari Koto Tangah yang masuk. Hari kedua, Kamis (11/12/2025), disusul 38 KK dari Pauh dan 11 KK dari Kuranji,” jelas Angga.

Ia memastikan seluruh rumah telah dilengkapi fasilitas dasar. “Kelengkapan isi rumah sudah seratus persen. Tinggal pengecatan yang kita lakukan sambil berjalan,” katanya.

Menurut Angga, warga merasa lebih tenang dan nyaman tinggal di Huntara. Ke depan, Pemko Padang juga menyiapkan opsi hunian sementara lainnya, seperti Rusunawa Lubuk Buaya, namun saat ini fokus utama masih di Huntara Rusus Nelayan.

Di balik dinding rumah sederhana itu, para pengungsi menunggu lebih dari sekadar tempat tinggal. Mereka berharap kesempatan bekerja segera hadir, agar bisa menyambut Ramadan dengan lebih tenang dan bermartabat.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news