Produksi Nila Dominasi Perikanan Sleman, Minggir Masih Aman

12 hours ago 6

Produksi Nila Dominasi Perikanan Sleman, Minggir Masih Aman

Ilustrasi budi daya perikanan./JIBI

Harianjogja.com, SLEMAN—Produksi ikan nila masih mendominasi sektor perikanan budi daya di Kabupaten Sleman pada semester I 2026. Komoditas ini tercatat mencapai 15.370.675 kilogram atau sekitar 15.370 ton, setara 52,7% dari total produksi perikanan budi daya yang mencapai 29.167.651 kilogram.

Di tengah tingginya produksi tersebut, kondisi budi daya ikan nila di Kapanewon Minggir dilaporkan masih aman dan belum ditemukan laporan kematian ikan dari para pembudi daya.

Kepala Bidang Perikanan Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman, Wilyada Radianing, menyebutkan ikan nila menjadi komoditas dengan produksi tertinggi pada semester I 2026. Jumlah produksinya bahkan hampir dua kali lipat dibandingkan produksi ikan lele yang mencapai 8.438.745 kilogram.

Selain nila dan lele, produksi perikanan budi daya di Kabupaten Sleman juga berasal dari ikan bawal sebanyak 2.163.310 kilogram, udang galah 1.684.121 kilogram, gurami 1.338.571 kilogram, ikan mas 129.605 kilogram, patin 25.186 kilogram, tawes 10.140 kilogram, dan gabus 7.298 kilogram.

Penyuluh Perikanan Kapanewon Minggir, Bunga Julianti, mengatakan hingga saat ini belum ada laporan terkait kematian ikan nila di wilayah tersebut.

“Kalau ikan nila di Minggir masih aman, karena di Minggir pembudidaya ikan dibantu dengan kincir air untuk menjaga kualitas air,” kata Bunga kepada Harianjogja.com, Kamis (30/7/2026).

Menurut Bunga, perlakuan dalam budi daya ikan nila berbeda dengan gurami. Gurami lebih cocok dibudidayakan di kolam dengan air tenang, sedangkan nila disarankan dibudidayakan di air yang mengalir.

Penggunaan kincir air juga membantu menjaga pasokan oksigen di dalam kolam serta mencegah penumpukan endapan di dasar kolam.

“Gurame cocok di kolam air tenang, kalau ikan nila disarankan dibudidayakan di air mengalir dan dibantu kincir air untuk menjaga suplai oksigen di dalam air. Lewat air mengalir itu menjadikan endapan dasar kolam tidak menumpuk,” katanya.

Sementara itu, Bunga sebelumnya menangani laporan kematian ikan gurami di Kapanewon Minggir. Berdasarkan data yang masuk ke dinas, sekitar 200 ekor gurami berukuran 7 ons dan sekitar 100 ekor ikan ukuran pendederan terdampak.

Hasil pemeriksaan sampel oleh tim Balai Pengembangan Teknologi Perikanan Budidaya menunjukkan kematian ikan tersebut diduga disebabkan oleh bakteri Aeromonas. Faktor cuaca dingin atau bediding juga dinilai turut memengaruhi kondisi ikan.

Bunga menambahkan, setelah kembali mengunjungi lokasi pembudi daya pada Selasa, belum ada laporan lanjutan terkait kematian ikan gurami. Para pembudi daya juga telah diberikan saran mengenai langkah-langkah pencegahan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Yudhi Kusdiyanto

Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news