Refleksi atas Komunikasi Pemasaran dan Strategi Promosi Destinasi Pariwisata Lembah Harau

4 days ago 8

TARUNA - hayati

KLIKPOSITIF — Lembah Harau selama ini dikenal sebagai salah satu lanskap alam paling ikonik di Sumatera Barat. Tebing-tebing granit yang menjulang, air terjun yang mengalir di sela lembah, serta kehidupan masyarakat lokal yang masih kuat dengan nilai budaya Minangkabau menjadikan kawasan ini memiliki daya tarik yang nyaris sempurna sebagai destinasi wisata alam dan budaya. Namun, realitas pariwisata tidak selalu sejalan dengan potensi yang dimiliki.

Penurunan drastis jumlah kunjungan wisatawan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa keunggulan alam tidak otomatis menjamin keberlanjutan pariwisata. Di sinilah komunikasi pemasaran pariwisata menjadi relevan untuk dibicarakan bukan sekadar sebagai alat promosi, tetapi sebagai strategi kebijakan yang menentukan bagaimana sebuah destinasi dipersepsikan, dipahami, dan akhirnya dipilih oleh wisatawan.

Pariwisata dan Tantangan Komunikasi di Tingkat Daerah

Dalam konteks daerah, promosi pariwisata sering kali dihadapkan pada keterbatasan anggaran, sumber daya manusia, serta kapasitas kelembagaan. Kondisi ini juga dialami oleh Dinas Pariwisata dan Pemuda Olahraga Kabupaten Lima Puluh Kota, yang memegang peran utama dalam mengelola dan mempromosikan Lembah Harau sebagai aset pariwisata pemerintah daerah.

Penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi pemasaran yang dijalankan tidak lagi sepenuhnya bertumpu pada media konvensional. Media sosial khususnya Instagram menjadi saluran utama dalam membangun visibilitas destinasi. Pergeseran ini mencerminkan kesadaran bahwa perilaku wisatawan telah berubah: keputusan berwisata kini banyak dipengaruhi oleh representasi visual, narasi digital, dan pengalaman yang dibagikan secara daring.

Namun demikian, promosi digital tidak serta-merta menggantikan peran media tradisional. Brosur, baliho, dan pemberitaan media lokal masih dipertahankan sebagai bagian dari strategi komunikasi berlapis, terutama untuk menjangkau wisatawan lokal dan kelompok masyarakat yang belum sepenuhnya terhubung dengan ruang digital.

Event Pariwisata sebagai Medium Pengalaman

Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah peran event pariwisata sebagai media komunikasi yang tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga eksperimental. Festival Harau dan Pasar Harau tidak sekadar menjadi agenda tahunan, melainkan ruang interaksi antara pemerintah, masyarakat, dan wisatawan.

Melalui event, promosi tidak lagi disampaikan dalam bentuk pesan satu arah, tetapi hadir sebagai pengalaman langsung. Wisatawan tidak hanya melihat Lembah Harau sebagai lanskap, melainkan sebagai ruang budaya yang hidup. Pengalaman semacam ini memiliki daya lekat yang lebih kuat dibandingkan promosi formal, karena melibatkan emosi, partisipasi, dan interaksi sosial.

Dalam konteks komunikasi pariwisata, event berfungsi sebagai jembatan antara citra destinasi yang dibangun pemerintah dengan realitas yang dirasakan wisatawan di lapangan. Ketika keduanya selaras, promosi menjadi lebih kredibel dan berkelanjutan.

Wisatawan dan Masyarakat sebagai Bagian dari Strategi

Hal yang patut dicermati adalah semakin menguatnya peran wisatawan dan komunitas lokal dalam proses komunikasi pemasaran. Unggahan wisatawan di media sosial, testimoni, serta rekomendasi personal telah menjadi bagian penting dari promosi Lembah Harau. Dalam banyak kasus, pengalaman yang dibagikan wisatawan justru lebih dipercaya dibandingkan pesan promosi resmi.

Demikian pula peran Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pelaku UMKM, dan pengelola homestay. Mereka tidak hanya menyediakan layanan, tetapi juga membentuk pengalaman dan kesan wisatawan. Interaksi yang terjadi di tingkat lokal inilah yang sering kali menjadi faktor penentu apakah wisatawan akan kembali atau merekomendasikan destinasi tersebut kepada orang lain.

Temuan ini menegaskan bahwa komunikasi pemasaran pariwisata tidak dapat dipahami semata-mata sebagai aktivitas institusional, melainkan sebagai proses kolaboratif yang melibatkan banyak aktor dengan perannya masing-masing.

Refleksi atas Strategi dan Arah ke Depan

Meskipun strategi komunikasi pemasaran yang dijalankan menunjukkan adaptasi terhadap perkembangan zaman, penelitian ini juga mencatat sejumlah tantangan. Promosi masih cenderung bersifat umum dan belum sepenuhnya berbasis segmentasi pasar yang jelas.

Wisatawan lokal, domestik, dan mancanegara memiliki motivasi serta ekspektasi yang berbeda, sehingga memerlukan pendekatan komunikasi yang lebih terarah.

Selain itu, ketergantungan pada momentum tertentu seperti musim liburan dan event besar menyebabkan fluktuasi kunjungan yang cukup tajam. Hal ini menunjukkan perlunya strategi komunikasi yang lebih berkelanjutan, tidak hanya responsif terhadap momen, tetapi juga dirancang sebagai narasi jangka panjang destinasi.

Menempatkan Komunikasi sebagai Fondasi Pariwisata

Pengalaman Lembah Harau memberikan pelajaran penting bagi pengelolaan pariwisata daerah. Pariwisata tidak hanya ditentukan oleh keindahan alam atau kelengkapan fasilitas, tetapi oleh bagaimana destinasi tersebut dikomunikasikan secara konsisten dan bermakna.

Ketika komunikasi pemasaran dipahami sebagai bagian dari strategi pembangunan pariwisata bukan sekadar aktivitas promosi maka destinasi memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang.

Lembah Harau, dengan segala potensinya, menunjukkan bahwa integrasi antara media digital, event pariwisata, dan keterlibatan komunitas merupakan fondasi penting menuju pariwisata daerah yang berkelanjutan dan berdaya saing.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news