Rupiah Diproyeksi Melemah ke Rp18.000 per Dolar AS Hari Ini

2 hours ago 1

Rupiah Diproyeksi Melemah ke Rp18.000 per Dolar AS Hari Ini

Dolar Amerika Serikat - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA— Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (22/7/2026) diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan ditutup melemah di kisaran Rp17.940 hingga Rp18.000 per dolar AS. Pergerakan mata uang Garuda dipengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga Bank Indonesia, kondisi perdagangan nasional, hingga meningkatnya ketegangan geopolitik global.

Meski demikian, pada perdagangan sebelumnya rupiah berhasil mengakhiri sesi di zona hijau.

Rupiah Menguat pada Perdagangan Selasa

Berdasarkan data Trading Economics, rupiah ditutup menguat 0,26% atau 46,1 poin ke level Rp17.891 per dolar AS pada perdagangan Selasa (21/7/2026).

Walaupun menguat secara harian, posisi tersebut masih menunjukkan depresiasi sekitar 10,05% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Menurut laporan tersebut, penguatan rupiah didorong oleh ekspektasi pasar terhadap kemungkinan Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan BI Rate dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2026.

Pasar Menanti Keputusan BI Rate

Trading Economics mencatat pada RDG Juni 2026, Bank Indonesia telah menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%.

Kebijakan suku bunga tersebut dinilai sebagai salah satu langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi, termasuk mengendalikan tekanan inflasi.

Saat ini, pemerintah juga tengah berupaya menekan laju inflasi setelah angka inflasi pada Juni 2026 mencapai batas atas target Bank Indonesia, yakni 1,5% hingga 3,5%.

Selain mengendalikan inflasi, kenaikan BI Rate diharapkan turut membantu menjaga stabilitas harga pangan.

Harga Minyak dan Defisit Perdagangan Jadi Tantangan

Upaya pemerintah mengendalikan inflasi masih menghadapi tantangan dari kenaikan harga minyak dunia yang dipicu kembali memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Di sisi lain, kondisi perdagangan Indonesia juga menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah.

Trading Economics menyebut defisit perdagangan Mei 2026 sebesar US$1,61 miliar menjadi defisit perdagangan pertama yang dialami Indonesia dalam enam tahun terakhir.

Ketegangan Global Dorong Penguatan Dolar AS

Laporan tersebut juga menyebut meningkatnya ketidakpastian global membuat dolar Amerika Serikat kembali diminati sebagai aset lindung nilai (safe haven).

Hingga perdagangan terbaru, indeks dolar AS (DXY) berada di level 100,90, meski pada Selasa (21/7) ditutup melemah sekitar 0,05%.

"Secara global, indeks dolar naik lebih lanjut karena meningkatnya ketegangan AS-Iran menghidupkan kembali kekhawatiran inflasi dan memperkuat pandangan tentang pengetatan kebijakan," tulis laporan tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news