
Ketua Komisi D DPRD DIY, RB Dwi Wahyu. - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat
Harianjogja.com, JOGJA—Komisi D DPRD DIY mendorong adanya intervensi kebijakan untuk menyelamatkan sekolah swasta yang mengalami penurunan jumlah peserta didik, terutama di wilayah dengan kondisi ekonomi masyarakat terbatas. Skema dukungan anggaran hingga kolaborasi dengan dunia usaha dinilai perlu dipikirkan agar sekolah tetap bertahan sekaligus mampu menyediakan pendidikan yang terjangkau bagi masyarakat.
Peluang dukungan tersebut dapat dibahas dalam pembahasan Kebijakan Umum Anggaran (KUA) 2027 yang saat ini sedang berjalan. Yayasan sekolah didorong mengajukan proposal kebutuhan untuk dipertimbangkan dalam penyusunan kebijakan anggaran pendidikan.
Ketua Komisi D DPRD DIY, R.B. Dwi Wahyu, mengatakan sekolah swasta yang tengah mengalami keterpurukan tidak bisa dibiarkan menghadapi persoalan tersebut sendirian. Pemerintah perlu melihat kondisi masing-masing sekolah dan menyiapkan bentuk pendampingan yang sesuai, termasuk melalui kebijakan anggaran.
“Sekolah ini butuh support. Bicara tentang bisnis digital pasti butuh laboratorium, salah satunya laptop,” kata Dwi, Jumat (31/7/2026).
“Ini kebetulan kita baru pembahasan kebijakan umum anggaran tahun 2027. Nanti pihak yayasan bisa mengajukan proposal,” ujarnya.
Selain memastikan keberlangsungan sekolah, Komisi D juga menilai pendidikan vokasi perlu diarahkan agar benar-benar memberikan bekal kemandirian ekonomi bagi lulusannya. Pengembangan kompetensi seperti bisnis digital, menurut Dwi, seharusnya tidak berhenti pada pembelajaran di sekolah, tetapi juga membuka peluang bagi lulusan untuk menghasilkan pendapatan.
“Kita juga harus memikirkan cara agar anak-anak lulusan sini bisa mandiri dan menghasilkan uang melalui bisnis digital tersebut,” katanya.
Komisi D turut membuka peluang penguatan sekolah melalui kemitraan dengan dunia usaha, salah satunya melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR. Pemanfaatan dan pengembangan sarana-prasarana sekolah juga perlu dievaluasi agar fasilitas yang tersedia dapat mendukung kompetensi keahlian yang diajarkan.
Komisi D DPRD DIY telah meninjau langsung salah satu sekolah yang mengalami kekurangan murid, yakni SMK Budhi Dharma Piyungan di Bantul pada Kamis (30/7/2026). Saat ini, sekolah tersebut hanya memiliki 13 siswa.
Padahal, sekolah yang berdiri sejak 1973 itu telah membuka kompetensi keahlian bisnis digital yang dinilai relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Pengurus Yayasan Budhi Dharma, Sugiyono, mengatakan biaya pendidikan menjadi salah satu faktor yang membuat calon siswa lebih memilih sekolah negeri. Kondisi ekonomi masyarakat sekitar yang relatif terbatas membuat sekolah gratis menjadi pertimbangan utama ketika menentukan pilihan pendidikan.
“Jurusan bisnis digital ini adalah jurusan yang sangat dibutuhkan hari ini, tetapi kenapa muridnya sedikit? Ternyata ada tren anak-anak hari ini yang ingin sekolah di negeri karena pengin sekolahnya gratis,” ujar Sugiyono.
Menurut Sugiyono, persoalan tersebut dapat diatasi apabila pemerintah menyediakan dukungan pembiayaan khusus bagi sekolah yang kekurangan peserta didik. Bantuan dapat bersumber dari APBN melalui Program Indonesia Pintar (PIP) maupun APBD sehingga siswa di lingkungan sekitar tetap memiliki pilihan memperoleh pendidikan tanpa terbebani biaya.
Selain persoalan biaya, akses menuju sekolah juga menghadapi kendala karena layanan transportasi umum di kawasan tersebut sudah tidak tersedia. Kondisi tersebut turut menyulitkan mobilitas calon peserta didik yang hendak bersekolah di SMK Budhi Dharma.
Komisi D DPRD DIY menjadikan kondisi tersebut sebagai bahan evaluasi dalam fungsi pengawasan pendidikan, khususnya terhadap sekolah yang menghadapi persoalan serupa di kawasan pinggiran. Masukan dari sekolah dinilai penting untuk merumuskan kebijakan yang tidak hanya berorientasi pada sekolah negeri, tetapi juga menjaga keberlangsungan sekolah swasta yang masih dibutuhkan masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

7 hours ago
6

















































