Audiens Pemerintah Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah dan Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin (Dok: Ist).KabarMakassar.com — Keberhasilan Pemerintah Kota Makassar membangun sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi dari hulu hingga hilir kembali menarik perhatian daerah lain.
Kali ini, Pemerintah Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, datang langsung ke Makassar untuk mempelajari praktik pengelolaan sampah yang dinilai berkelanjutan dan bernilai ekonomi.
Kunjungan tersebut dipimpin langsung Bupati Sigi Mohammad Rizal Intjenae, yang diterima oleh Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin di Balai Kota Makassar, Jumat (2/1).
Rizal Intjenae menilai Kota Makassar telah mampu mengelola persoalan persampahan secara mandiri, sistematis, dan terintegrasi, mulai dari pemilahan di sumber, pengangkutan, pengolahan, hingga pemanfaatan akhir.
“Kami ke sini bersilaturahmi sekaligus menjajaki kerja sama pengelolaan sampah. Tentu kami ingin menerapkan apa yang sudah berjalan di Makassar ke Kabupaten Sigi,” ujar Rizal.
Menurutnya, model pengelolaan sampah yang diterapkan di bawah kepemimpinan Wali Kota Munafri Arifuddin relevan untuk direplikasi, khususnya bagi daerah yang tengah berupaya meningkatkan kualitas layanan lingkungan dan tata kelola persampahan.
Rizal menjelaskan, salah satu fokus utama kunjungannya adalah mempelajari pengelolaan sampah plastik yang dikembangkan Pemkot Makassar melalui berbagai inovasi, termasuk Gerakan Mengelola Sampah (GEMA).
“Saya datang bertemu Pak Wali untuk menjajaki kerja sama, karena saya melihat langsung perkembangan pengelolaan sampah plastik di Makassar melalui program GEMA dan inovasi lainnya,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa sampah plastik menjadi tantangan terbesar karena sulit terurai dan membutuhkan waktu sangat lama untuk terdegradasi. Karena itu, pengalaman Makassar dinilai penting sebagai rujukan.
“Kita tahu bersama, plastik adalah jenis sampah yang paling sulit terurai. Dan itu sudah ditangani dengan baik di Makassar,” tambah Rizal.
Lebih lanjut, Pemkab Sigi berencana memberdayakan sampah plastik agar memiliki nilai tambah ekonomi, terutama bagi petugas kebersihan dan masyarakat di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Kabupaten Sigi sendiri memiliki lahan TPA seluas kurang lebih 40 hektare.
“Kalau sampah plastik ini dikelola dengan baik, bisa menambah pundi-pundi pendapatan bagi para pekerja kebersihan kami,” jelasnya.
Rizal juga menyatakan ketertarikan untuk mengembangkan pengolahan sampah plastik menjadi energi atau produk bernilai ekonomi, baik melalui pembangunan fasilitas di TPA maupun kerja sama dengan investor. Ia mengungkapkan, Wali Kota Makassar telah menyatakan kesiapan untuk mempertemukannya dengan investor yang selama ini terlibat dalam pengelolaan sampah plastik di Makassar.
Menurutnya, kerja sama ini tidak hanya berorientasi pada pengelolaan lingkungan, tetapi juga membuka peluang peningkatan ekonomi lokal dan penciptaan lapangan kerja baru di Kabupaten Sigi.
“Pengelolaan sampah di Sigi sebenarnya sudah berjalan. Kami sudah punya TPA. Tinggal bagaimana sampah plastik ini diolah lebih lanjut agar memberikan nilai ekonomi yang lebih besar,” katanya.
Menjawab alasan memilih Makassar sebagai mitra, Rizal menilai Kota Makassar telah memiliki ekosistem industri pengolahan sampah plastik yang matang dibandingkan daerah lain.
“Kalau di Palu juga sudah ada. Tapi saya memilih Makassar karena saya melihat langsung perkembangannya. Di sini industrinya sudah jadi dan matang, sementara di kami masih mentah,” tuturnya.
Rencana kerja sama ini diharapkan segera ditindaklanjuti melalui kunjungan balasan Wali Kota Makassar ke Kabupaten Sigi serta pembahasan teknis bersama investor dan perangkat daerah terkait, guna mewujudkan pengelolaan sampah plastik yang ramah lingkungan, berkelanjutan, dan bernilai ekonomi.
Rizal menambahkan, meski volume sampah plastik di Kabupaten Sigi relatif kecil, sekitar satu hingga dua ton, namun tetap memiliki arti penting jika dikelola secara optimal.
“Walaupun hanya satu sampai dua ton, itu tetap punya nilai dan arti bagi kami. Itu yang mendorong saya datang ke Makassar,” pungkasnya.

















































