StoryKit dari Meta Bikin Cerita Anak Tanpa Menulis Satu Kata

2 hours ago 2

Harianjogja.com, JOGJA—Perkembangan kecerdasan buatan (AI) kini mulai menyentuh aktivitas yang selama ini identik dengan kreativitas dan kedekatan keluarga. Meta diketahui sedang mengembangkan aplikasi bernama StoryKit, sebuah platform berbasis AI yang dirancang untuk membantu orang tua membuat cerita anak secara otomatis.

Aplikasi ini memungkinkan pengguna menghasilkan dongeng yang dipersonalisasi sesuai karakter, latar cerita, hingga nilai moral yang ingin disampaikan kepada anak. Menariknya, Meta mengklaim pengguna tidak perlu menulis satu kata pun untuk menciptakan sebuah buku cerita.

Keberadaan StoryKit pertama kali terungkap setelah ditemukan dalam daftar aplikasi di App Store oleh media teknologi 9to5Mac. Meta kemudian mengonfirmasi bahwa aplikasi tersebut saat ini masih berada dalam tahap uji coba terbatas di sejumlah negara.

Menurut Meta, StoryKit dirancang sebagai sarana kreatif bagi orang tua untuk membuat cerita imajinatif yang disesuaikan dengan minat anak.

Perusahaan juga menegaskan bahwa aplikasi tersebut tidak memiliki fitur media sosial dan hanya dapat digunakan oleh pengguna berusia 18 tahun ke atas. Selain itu, StoryKit disebut telah dibekali berbagai filter keamanan berbasis AI.

Cara Kerja StoryKit

Salah satu fitur utama StoryKit adalah kemampuan mengubah objek atau orang yang dikenal anak menjadi tokoh utama cerita.

Pengguna cukup mengambil foto mainan favorit, boneka, hewan peliharaan, atau bahkan anggota keluarga. Setelah itu, AI akan mengolah gambar tersebut menjadi karakter yang muncul dalam dongeng.

Tidak hanya karakter, pengguna juga dapat menentukan latar cerita sesuai keinginan. Anak dapat diajak berpetualang ke luar angkasa, menjelajahi kerajaan fantasi, atau memasuki dunia bawah laut hanya melalui beberapa pilihan sederhana.

StoryKit juga memungkinkan orang tua memasukkan pesan moral tertentu seperti keberanian, empati, kejujuran, hingga kebaikan agar nilai-nilai tersebut tersampaikan secara alami dalam cerita.

Seluruh proses pembuatan alur, dialog, ilustrasi, hingga musik latar dilakukan oleh AI tanpa perlu keterampilan menulis.

Menuai Dukungan dan Kritik

Meski menawarkan kemudahan, kehadiran StoryKit memicu perdebatan di kalangan pemerhati teknologi dan pendidikan anak.

Sebagian pihak melihat aplikasi ini sebagai solusi praktis bagi orang tua yang kesulitan menciptakan cerita baru setiap malam. Teknologi tersebut dinilai dapat membantu menghasilkan kisah yang lebih variatif dan sesuai dengan minat anak.

Namun kritik juga bermunculan.

Beberapa pengamat menilai penggunaan AI dalam aktivitas mendongeng berpotensi mengurangi unsur kreativitas manusia yang selama ini menjadi inti dari kegiatan tersebut.

Mereka khawatir ketergantungan terhadap AI dapat mengurangi spontanitas dan interaksi emosional yang biasanya muncul ketika orang tua mengarang cerita secara langsung.

Perdebatan ini semakin menarik karena mendongeng bukan sekadar menyampaikan cerita, tetapi juga menjadi sarana komunikasi dan ikatan emosional antara orang tua dan anak.

Tradisi Lama Bertemu Teknologi Baru

Aktivitas bercerita telah menjadi bagian penting dalam peradaban manusia selama ribuan tahun. Berbagai dongeng, legenda, hingga mitologi berkembang melalui tradisi lisan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dalam praktiknya, banyak orang tua kerap diminta anak untuk mengarang cerita spontan dengan tokoh dan alur yang unik.

Misalnya kisah seekor kura-kura dan landak yang bersahabat lalu memecahkan misteri di luar angkasa, atau petualangan karakter favorit anak di dunia fantasi.

Situasi semacam ini membuat sebagian orang tua mungkin tertarik memanfaatkan StoryKit sebagai alat bantu agar proses mendongeng menjadi lebih mudah.

Namun bagi sebagian lainnya, kreativitas spontan tersebut justru menjadi bagian paling berharga dari momen kebersamaan bersama anak.

AI Masuk ke Ranah Kreativitas Keluarga

Kehadiran StoryKit menunjukkan bagaimana teknologi AI terus merambah aspek kehidupan sehari-hari yang sebelumnya dianggap sangat manusiawi.

Di satu sisi, aplikasi ini menawarkan efisiensi dan personalisasi yang sulit dicapai secara manual.

Di sisi lain, kemunculannya memunculkan pertanyaan baru mengenai batas penggunaan AI dalam aktivitas yang selama ini dibangun melalui imajinasi, kreativitas, dan hubungan emosional antarmanusia.

Meta masih menguji respons pengguna terhadap StoryKit. Hasil uji coba tersebut kemungkinan akan menentukan apakah aplikasi ini akan diluncurkan secara lebih luas dalam waktu mendatang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news