SLEMAN—Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) resmi meluncurkan Pusat Pengembangan Bahasa untuk Kompetensi, Komunikasi, dan Bisnis pada Rabu (29/7/2026). Langkah ini diambil guna mempercepat penyerapan lulusan vokasi ke pasar kerja internasional melalui penguasaan bahasa global dan budaya kerja.
Dekan Sekolah Vokasi UGM, Prof. Agus Maryono, mengungkapkan pusat bahasa ini diluncurkan untuk mencetak lulusan bertalenta global. Tidak sekadar berfokus pada pembelajaran bahasa, pusat pengembangan bahasa inisiasi SV UGM ini juga akan membahas peluang kerja di ranah global.
"Jadi programnya itu untuk bahasa-bahasa global yang kira-kira negara yang bersangkutan membutuhkan talenta-talenta global. Tidak hanya sekadar bahasa, tapi bahasa yang dikaitkan dengan kesempatan kerja," kata Agus di Gedung Teaching Industry Learning Center (TILC) SV UGM, Rabu (29/7/2026).
Pusat Pengembangan Bahasa SV UGM membuka pembelajaran Bahasa Mandarin, Bahasa Jepang, dan Bahasa Inggris. Setiap kursus bahasa juga akan membahas peluang kerja yang dapat diakses dengan bekal kemampuan bahasa tersebut.
Keberadaan Pusat Pengembangan Bahasa SV UGM diproyeksikan berdampak pada peningkatan penyerapan tenaga kerja vokasi ke mancanegara.
"Nanti akan semakin banyak mahasiswa-mahasiswa kita yang berpikir bekerja di luar negeri, dan juga membedah keraguan atau ketakutan bangsa Indonesia untuk menyebar ke luar negeri untuk bekerja. Untuk mendapatkan pengalaman-pengalaman, benchmarking yang bagus, yang nanti berguna bagi perkembangan bangsa Indonesia ke depan," tuturnya.
Berbeda dengan lembaga bahasa yang berfokus pada tata bahasa atau sastra, Pusat Pengembangan Bahasa SV UGM mengacu pada penerapan bahasa untuk kompetensi, komunikasi, dan bisnis. Aspek-aspek tersebut selaras dengan target akselerasi penyerapan tenaga kerja Indonesia menuju kancah global.
"Sehingga sebetulnya kita mengembangkan pelatihan bahasa untuk kompetensi masing-masing, komunikasi dan bisnis. Jadi bukan untuk mempelajari sastranya atau tata bahasa, grammar, dan lain-lain, tapi untuk dipakai untuk komunikasi dan bisnis," tandasnya.
Agus menerangkan Pusat Pengembangan Bahasa SV UGM terbuka untuk umum. Artinya, tidak hanya mahasiswa atau lulusan SV UGM, tetapi juga mahasiswa maupun lulusan dari perguruan tinggi lain dapat bergabung sebagai peserta.
"Mungkin nanti kalau pesertanya banyak sekali, kita juga harus berusaha sekuat tenaga mencari agen-agen yang bisa menyalurkan kebutuhan tenaga kerja di luar negeri," ungkapnya.
Dengan bekal kompetensi yang kuat dan ditopang kemampuan bahasa yang mumpuni, diharapkan semakin banyak lulusan SV UGM yang dapat menimba pengalaman di luar negeri.
"Sekolah Vokasi itu untung karena dia belajar teori dan praktik, sehingga siap untuk bekerja. Siap untuk bekerja sehingga ke luar negeri mereka juga diterima karena mereka bisa langsung bekerja di sektor-sektor yang sesuai dengan bidang-bidang mereka," kata Agus.
Wakil Dekan Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Sekolah Vokasi UGM, Wiryanta, menambahkan ada satu aspek yang membedakan Pusat Pengembangan Bahasa SV UGM dengan lembaga bahasa lainnya, yakni materi budaya kerja yang ikut diajarkan.
"Lembaga bahasa yang lain targetnya mesti hanya fluent di bahasanya. Kalau di kita tadi plus budaya kerjanya, itu yang paling membedakan," tegasnya.
Selain itu, pembelajaran bahasa yang diajarkan juga bertitik berat pada bahasa yang digunakan dalam dunia kerja.
"Iya kontekstual kerja, istilahnya bahasa kontekstual untuk kerja. Itu yang sangat membedakan di situ," tandasnya.
Keberadaan Pusat Pengembangan Bahasa SV UGM diharapkan Wiryanta dapat menjawab tantangan penyediaan talenta global. Pasalnya, permintaan tenaga kerja yang datang ke SV UGM cukup banyak. Namun, beberapa tawaran masih terkendala kemampuan bahasa. Tantangan itulah yang coba dijawab melalui kehadiran Pusat Pengembangan Bahasa SV UGM.
"Kalau dari sisi kompetensi saya kira dari vokasi sudah oke lah, kompetensi teknis, hard skill itu sudah oke. Itu bahasa yang mungkin perlu [ditingkatkan]," ujarnya.
Adanya Pusat Pengembangan Bahasa dinilai melengkapi kekurangan dalam penyerapan lulusan SV UGM ke kancah internasional.
"Melengkapi puzzle yang bolong, sehingga mahasiswa vokasi sudah kompetensinya oke, budaya kerjanya oke, komunikasi oke, sehingga tidak khawatir mau bekerja di mana saja," tandasnya.
Director of INTACT Base Bangka Belitung, Supriantono, menjelaskan kerja sama INTACT dengan Pusat Pengembangan Bahasa SV UGM bertujuan membawa lebih banyak talenta Indonesia untuk belajar di Taiwan, kemudian kembali ke Indonesia dan membagikan pengetahuan yang diperoleh.
"Harapannya, banyak mahasiswa Indonesia yang nanti memang bisa lolos dalam program ini, sehingga belajar langsung bekerja di industri. Tentunya harapannya mereka belajar pintar dan balik lagi ke Indonesia untuk membangun Indonesia," ungkapnya.
Supriantono berharap UGM dapat menjadi hub atau pusat untuk mewujudkan misi tersebut. Dia berharap mahasiswa yang mengikuti program ini dapat belajar dan bekerja di Taiwan, lalu membagikan ilmunya ketika kembali ke Indonesia.
"Harapan kami ke depannya adalah tadi, sesuai dengan Asta Cita Presiden kita saat ini dan misi ke depannya dan harapannya tetap diteruskan bahwa STEM kita bukan cuma jadi konsumen, tapi kita yang jadi produsen," ujarnya.
"Mahasiswa-mahasiswa inilah yang nanti membawa teknologinya, mereka yang mempersiapkan SDM-nya, sehingga kita jadi produsen, bukan jadi konsumen. Jadi kita yang akan nge-lead ke depannya untuk teknologi-teknologi yang mereka pelajari di luar sana," tandasnya. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

13 hours ago
8

















































