Direktur Operasi Basarnas RI, Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo memberikan keterangan (Dok: Dwiki)KabarMakassar.com– Tim SAR gabungan terus mempersiapkan upaya evakuasi lanjutan terhadap lima korban kecelakaan pesawat yang masih berada di lokasi penemuan di kawasan Pegunungan Bulusaraung, Sulawesi Selatan.
Proses evakuasi lanjutan ini dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi medan yang ekstrem, cuaca yang cepat berubah, serta keselamatan seluruh personel yang terlibat dalam operasi pencarian dan pertolongan.
Lima korban tersebut sebelumnya ditemukan di sekitar sektor puncak, tidak jauh dari lokasi ditemukannya bagian ekor pesawat. Satu jenazah telah berhasil dievakuasi lebih dahulu dan diserahkan kepada tim DVI Biddokkes Polda Sulsel, sementara lima lainnya masih berada di lokasi penemuan dan menunggu proses evakuasi lanjutan, pada Kamis (22/1).
Direktur Operasi Basarnas RI, Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo, menyampaikan bahwa proses evakuasi terhadap lima jenazah tersisa menjadi prioritas berikutnya setelah satu jenazah berhasil dibawa turun dari lokasi jurang. Namun, ia menegaskan bahwa seluruh tahapan harus dilakukan secara hati-hati.
“Satu, malam ini satu, mudah mudahan besok siang kita bisa evakuasi lima lagi,” ujar Yudhi Bramantyo.
Ia menjelaskan, lokasi penemuan lima korban tersebut berada di kawasan jurang dengan kontur terjal dan kedalaman signifikan. Kondisi tersebut membuat proses evakuasi membutuhkan perhitungan matang, baik dari sisi teknis maupun keselamatan personel di lapangan.
Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar, Andi Sultan, mengatakan bahwa medan pencarian menjadi salah satu tantangan utama dalam operasi SAR kali ini. Menurutnya, tim SAR harus bekerja di area dengan jarak pandang terbatas serta risiko longsoran yang tinggi.
“Medan yang sangat terjal, jarak pandang terbatas, serta cuaca yang cepat berubah menjadi tantangan utama di lapangan. Meski demikian, seluruh personel tetap bekerja maksimal dengan mengutamakan keselamatan,” tegas Andi Sultan.
Ia menjelaskan, sejak awal operasi, sejumlah Search and Rescue Unit (SRU) telah disebar ke berbagai sektor pencarian. Setelah titik koordinat penemuan korban dipastikan, seluruh unsur SAR kemudian difokuskan untuk mendukung proses evakuasi dari sektor puncak Pegunungan Bulusaraung.
Upaya dukungan udara juga sempat direncanakan untuk mempercepat proses evakuasi korban. Helikopter Bell 429 disiapkan untuk misi dropping personel dan logistik ke sekitar lokasi penemuan. Namun, rencana tersebut terpaksa dibatalkan karena kondisi cuaca di kawasan pegunungan yang tidak memungkinkan untuk penerbangan.
Pembatalan dukungan udara tersebut membuat tim SAR gabungan harus mengandalkan jalur darat dengan teknik evakuasi manual yang membutuhkan waktu dan tenaga ekstra. Seluruh pergerakan personel dilakukan secara bertahap dengan sistem pengamanan berlapis guna meminimalkan risiko kecelakaan selama proses evakuasi.
Yudhi Bramantyo menambahkan, hingga saat ini pihaknya belum dapat memastikan kondisi lima jenazah yang masih berada di lokasi penemuan. Menurutnya, seluruh penilaian medis baru dapat dilakukan setelah jenazah berhasil dievakuasi dan diperiksa oleh tim DVI.
“Saya gak tahu biar besok di buka sama dokter Haris,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Basarnas bersama tim SAR gabungan akan terus melanjutkan operasi pencarian dan evakuasi dengan pendekatan profesional dan humanis. Seluruh keputusan di lapangan akan diambil berdasarkan perkembangan situasi dan kondisi cuaca terkini.
Operasi SAR kecelakaan pesawat di Pegunungan Bulusaraung hingga kini masih berlangsung. Tim SAR gabungan terus berupaya menuntaskan evakuasi seluruh korban, dengan harapan lima jenazah yang masih berada di lokasi dapat segera dibawa turun dan diserahkan kepada pihak berwenang untuk proses identifikasi lebih lanjut.

















































