Kericuhan demontrasi di depan Kantor Gubernur Sulsel. (Dok: Ist)KabarMakassar.com – Aksi unjuk rasa yang digelar Aliansi Wija To Luwu Menggugat di depan Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, Jalan Urip Sumoharjo, Kota Makassar, berakhir ricuh setelah terjadi bentrokan antara massa aksi dan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) pada Senin (12/1).
Insiden tersebut menyebabkan sejumlah orang mengalami luka-luka dan sempat mengganggu arus lalu lintas di kawasan tersebut.
Kericuhan terjadi ketika massa aksi yang sejak siang hari memadati area kantor gubernur berusaha mendekati pagar utama yang dijaga ketat aparat. Situasi yang awalnya diwarnai orasi dan penyampaian aspirasi berubah menjadi tidak kondusif setelah terjadi aksi saling dorong hingga berujung pelemparan batu. Petugas kepolisian yang berada di lokasi turut melakukan pengamanan untuk meredam eskalasi bentrokan.
Sebelum bentrokan pecah, massa aksi menutup sebagian ruas jalan satu arah di depan Kantor Gubernur Sulsel dan membakar ban bekas di tengah jalan.
Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes atas tuntutan pemekaran wilayah Luwu Tengah menuju Provinsi Luwu Raya.
Aparat Satpol PP terlihat berupaya menjaga massa agar tidak memasuki area perkantoran yang dikategorikan sebagai objek vital pemerintahan.
Jenderal Lapangan Aliansi Wija To Luwu Menggugat, Adriasyah Putra, menyebut gesekan terjadi saat massa berhadapan langsung dengan aparat pengamanan.
“Tapi seiring berjalannya waktu terjadi gesekan dari pihak massa wija to Luwu dan Satpol PP,” ucapnya.
Ia juga mengklaim adanya tindakan berlebihan dari aparat terhadap massa aksi.
“Lebih mirisnya lagi, dua orang ASN dan Satpol PP itu melayangkan busur kepada teman-teman massa aksi, mungkin itu,” katanya.
Selain itu, Adriasyah menyebut terdapat korban dari pihak demonstran akibat insiden tersebut.
“Tadi ada satu orang massa aksi yang dikeroyok Satpol PP,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Satpol PP Provinsi Sulawesi Selatan, Andi Arwin Azis, membantah tudingan adanya pemukulan terhadap massa aksi. Ia menegaskan bahwa bentrokan bermula ketika massa memaksa masuk ke area Kantor Gubernur.
“Mereka memaksa masuk ke kantor. Perlu kami tekankan bahwa ini adalah objek vital yang tidak bisa seenaknya diduduki,” ungkapnya.
Menurut Andi Arwin, dalam insiden tersebut justru terdapat korban luka dari pihak Satpol PP.
“Banyak, ada enam orang. Lima orang kepalanya robek dan sementara dijahit. Semua personel yang luka sudah diobati,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa aparat tidak dibekali perlengkapan pengamanan lengkap karena pendekatan awal dilakukan secara persuasif.
Terkait tudingan pemukulan terhadap mahasiswa, Andi Arwin memberikan klarifikasi.
“Yang katanya dipukul adalah mahasiswa yang jatuh di pagar. Dia manjat pagar, jatuh dan ditolong oleh personel kami. Tidak ada dipukul,” tegasnya.
Terpisah, Provos Satpol PP Sulsel, Zulkarnain, mengaku menjadi salah satu korban lemparan batu saat bentrokan berlangsung.
“Tiba-tiba batu langsung kena dari jarak jauh. Kita tidak tahu dari mana,” ujarnya.
Ia mengatakan aparat memilih bertahan dan tidak melakukan pelemparan balasan karena mempertimbangkan keselamatan masyarakat yang melintas di sekitar lokasi.
















































