Budi Gunadi Sadikin Ungkap Alasan Maju Jadi Dirjen WHO

3 hours ago 3

Budi Gunadi Sadikin Ungkap Alasan Maju Jadi Dirjen WHO

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. - Antara

Harianjogja.com, JAKARTA— Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkap alasan dirinya maju sebagai kandidat Direktur Jenderal (Dirjen) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pencalonan tersebut, menurut Budi Gunadi Sadikin atau BGS, merupakan tugas dan amanah yang diberikan Presiden Prabowo Subianto.

BGS mengatakan Presiden melihat adanya peluang bagi Indonesia untuk menempatkan wakil di posisi puncak lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Di sisi lain, sejumlah negara berkembang atau Global South juga dinilai membutuhkan keterwakilan yang lebih kuat dalam kepemimpinan lembaga-lembaga dunia.

"(Pencalonan, red.) itu kan amanah dari Bapak Presiden yang menyampaikan bahwa kita adalah negara besar, tetapi belum pernah menjadi orang nomor satu di lembaga PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa). Jadi, Beliau melihat ada kesempatan seperti itu, ya (saya, red.) diminta agar cobalah maju. Ya, saya kalau ditugaskan oleh Bapak Presiden, harus kita lakukan," kata Menkes Budi Gunadi Sadikin menjawab pertanyaan wartawan saat ditemui di pelataran Bina Graha, Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Senin.

Bawa Suara Negara Berkembang

Budi Gunadi Sadikin menilai pencalonannya juga berkaitan dengan kebutuhan negara-negara berkembang untuk mendapatkan ruang yang lebih besar dalam pengambilan keputusan di tingkat global. Menurut dia, suara Global South perlu semakin diperhatikan karena kelompok negara tersebut memiliki jumlah penduduk yang relatif besar.

Selain faktor populasi, BGS menyebut banyak negara berkembang masih menghadapi kondisi ekonomi yang lebih berat. Karena itu, menurutnya, dibutuhkan perwakilan dari Global South dalam jajaran pimpinan lembaga dunia, termasuk WHO.

"Banyak sekali negara-negara yang merasa bahwa perwakilan atau suara dari negara-negara berkembang atau Global South ini harus lebih didengar, karena mereka kan dari sisi populasi lebih banyak dan lebih miskin sehingga perlulah ada wakil dari negara-negara Global South atau negara-negara berkembang di pimpinan lembaga-lembaga dunia seperti (WHO, red.) ini," ujar Budi Gunadi Sadikin.

Pesan Presiden Prabowo kepada BGS juga berkaitan langsung dengan upaya membawa kepentingan negara-negara berkembang dalam forum global. Budi mengatakan dirinya mendapat amanah untuk mewakili negara-negara tersebut agar memperoleh perhatian lebih besar.

"Beliau menitipkan amanah ke saya, kalau bisa wakililah negara-negara berkembang ini agar mendapatkan perhatian di tataran global," kata Menkes BGS.

Masih Ada Tahapan Seleksi

Budi Gunadi Sadikin menjelaskan perjalanan menuju posisi Dirjen WHO masih cukup panjang. Proses seleksi saat ini masih menyisakan sekitar dua tahapan sebelum kandidat yang mengikuti bursa terseleksi menjadi tiga calon Dirjen WHO.

Dengan demikian, pencalonan BGS belum sampai pada tahap akhir pemilihan. Kandidat yang masuk bursa masih harus melalui tahapan seleksi sebelum nantinya tersisa tiga calon yang akan melanjutkan proses pemilihan.

WHO sendiri merupakan organisasi kesehatan dunia yang berada di bawah naungan PBB. Lembaga tersebut saat ini dipimpin Tedros Adhanom Ghebreyesus, mantan menteri luar negeri dan menteri kesehatan Ethiopia.

Ghebreyesus tercatat sebagai orang dari Benua Afrika pertama yang terpilih menjadi Dirjen WHO. Dia saat ini menjalani periode kedua sebagai Dirjen WHO setelah pertama kali menjabat untuk periode 2017–2022 dan kemudian melanjutkan periode 2022–2027.

Empat Kandidat Masuk Bursa Dirjen WHO

Berdasarkan laman resmi WHO yang terakhir diperbarui pada 22 Agustus 2026, terdapat empat kandidat yang masuk dalam bursa pemilihan Dirjen WHO. Masing-masing kandidat tersebut diusulkan oleh satu negara.

Empat kandidat yang tercantum dalam bursa tersebut adalah:

Budi Gunadi Sadikin — Indonesia.

Hans Henri P. Kluge — Belgia.

Hanan Balkhy — Arab Saudi.

Hanan Mohammed Al-Kuwari — Qatar.

Keberadaan Budi Gunadi Sadikin dalam bursa tersebut membuat Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki kandidat dalam proses pemilihan pimpinan WHO. Namun, prosesnya masih harus melalui sekitar dua tahapan sebelum kandidat-kandidat tersebut terseleksi menjadi tiga calon Dirjen WHO.

Pencalonan BGS sekaligus membawa pesan yang disampaikan Presiden Prabowo mengenai pentingnya keterwakilan negara berkembang di tingkat global. Menurut Budi, kebutuhan tersebut muncul karena negara-negara Global South memiliki populasi besar sekaligus menghadapi tantangan pembangunan yang berbeda.

Untuk saat ini, BGS masih harus mengikuti rangkaian proses seleksi sebelum pemilihan Dirjen WHO memasuki tahap berikutnya. Sementara itu, Tedros Adhanom Ghebreyesus masih menjalankan periode keduanya sebagai Dirjen WHO hingga periode 2022–2027.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news