Kinerja Jalan Tol Menguat, Laba Bersih Tembus Rp1,9 Triliun

2 hours ago 1

Harianjogja.com, JAKARTA— Kinerja bisnis jalan tol nasional menunjukkan pertumbuhan sepanjang semester I 2026. Pengelola jalan tol mencatat laba bersih sebesar Rp1,9 triliun hingga Juni 2026, seiring dengan meningkatnya pendapatan usaha, volume lalu lintas kendaraan, serta penguatan layanan dan jaringan jalan tol.

Pertumbuhan tersebut juga ditopang oleh pendapatan tol yang meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Di sisi lain, perusahaan terus memperluas jaringan melalui pembangunan sejumlah ruas tol baru yang ditujukan untuk memperkuat konektivitas antarwilayah, kawasan industri, pusat logistik, dan destinasi wisata.

Direktur Utama pengelola jalan tol, Rivan A Purwantono, mengatakan pencapaian pada semester I 2026 menjadi bagian dari upaya menjaga pertumbuhan bisnis sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

“Pencapaian semester I 2026 merupakan komitmen perseroan dalam menjaga kesehatan finansial dan pertumbuhan bisnis berjalan selaras dengan peningkatan layanan kepada masyarakat,” kata Rivan dalam keterangan yang terkonfirmasi di Jakarta, Senin.

Pendapatan Usaha Capai Rp10,3 Triliun

Sepanjang enam bulan pertama 2026, pendapatan usaha tercatat Rp10,3 triliun, tumbuh 7,6% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Kontribusi terbesar berasal dari pendapatan tol yang mencapai Rp9,5 triliun atau meningkat 6,8% secara tahunan. Sementara itu, pendapatan usaha lainnya mencapai Rp798,2 miliar, tumbuh lebih tinggi, yakni 17,6% dibandingkan periode sebelumnya.

Pertumbuhan pendapatan tersebut berjalan beriringan dengan optimalisasi operasional. Kondisi itu mendorong EBITDA mencapai Rp7 triliun, atau meningkat 8,1% dibandingkan semester I 2025.

Margin EBITDA juga tetap berada pada level 67,8%. Menurut Rivan, capaian tersebut memperkuat kemampuan perusahaan dalam menghasilkan arus kas yang solid untuk memenuhi kewajiban finansial sekaligus menopang investasi dan ekspansi bisnis secara berkelanjutan.

Pertumbuhan kinerja operasional dan keuangan tersebut turut tercermin pada laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Nilainya mencapai Rp1,9 triliun, tumbuh 2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Pertumbuhan tersebut juga tercermin pada profitabilitas perseroan, dengan realisasi laba bersih yang diatribusi kepada pemilik entitas induk sebesar Rp1,9 triliun atau tumbuh 2,0 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” jelas Rivan.

Ia menambahkan kesehatan keuangan dan arus kas menjadi modal penting bagi perusahaan untuk melanjutkan investasi pada sektor pelayanan jalan tol.

“Bagi kami, kinerja keuangan yang solid dan arus kas yang sehat merupakan modal utama untuk terus berinvestasi pada peningkatan standar layanan, digitalisasi sistem manajemen lalu lintas serta peremajaan fasilitas di seluruh koridor tol,” ujarnya.

Volume Kendaraan Capai 647,5 Juta

Dari sisi lalu lintas, total volume transaksi jalan tol sepanjang semester I 2026 mencapai 647,5 juta kendaraan. Angka tersebut meningkat 1,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, realisasi lalu lintas harian rata-rata atau LHR mencapai sekitar 3,58 juta kendaraan per hari.

Peningkatan volume kendaraan tersebut menjadi salah satu indikator pertumbuhan aktivitas pada jaringan jalan tol. Pengelola juga terus memperkuat posisi sebagai salah satu pemain utama dalam industri jalan tol nasional.

“Jasa Marga terus memperkuat perannya sebagai market leader jalan tol di Indonesia,” kata Rivan.

Hingga akhir Juni 2026, total konsesi jalan tol yang dimiliki mencapai 1.736 kilometer. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.294 kilometer telah beroperasi.

Panjang jalan tol yang telah beroperasi tersebut setara dengan sekitar 42% dari total jaringan jalan tol yang beroperasi di Indonesia.

Sejumlah Tol Baru Terus Dibangun

Perluasan jaringan jalan tol juga masih menjadi salah satu agenda utama. Pembangunan sejumlah ruas baru terus dipercepat untuk meningkatkan konektivitas antarwilayah.

Beberapa proyek yang dikembangkan antara lain Jalan Tol Jakarta-Cikampek II Selatan, Jalan Tol Akses Patimban, Jalan Tol Jogja-Bawen, Jalan Tol Solo-Jogja-YIA Kulon Progo, serta Jalan Tol Probolinggo-Situbondo-Banyuwangi.

Pengembangan ruas-ruas tersebut tidak hanya diarahkan untuk mempercepat mobilitas masyarakat. Infrastruktur tersebut juga diharapkan mampu menghubungkan berbagai simpul logistik, kawasan industri, hingga destinasi wisata.

Konektivitas yang semakin baik diharapkan dapat menciptakan lalu lintas baru atau traffic generation. Pada saat yang sama, jaringan tol yang semakin luas diharapkan mendukung kelancaran rantai pasok nasional.

Dengan demikian, pembangunan jalan tol tidak semata-mata berorientasi pada penambahan panjang jaringan, tetapi juga diarahkan untuk menciptakan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi wilayah yang terhubung.

Layanan Jalan Tol Mulai Berbasis Pengalaman

Sejalan dengan ekspansi infrastruktur, transformasi layanan kepada pengguna jalan juga terus dilakukan.

Paradigma pengelolaan jalan tol mulai diarahkan dari sekadar penyedia infrastruktur atau infra as structure menjadi pembangunan budaya perjalanan yang berkesan atau infra as culture.

Konsep tersebut diwujudkan melalui berbagai penguatan layanan yang bertujuan memberikan pengalaman perjalanan yang lebih baik bagi pengguna jalan.

Rivan menjelaskan terdapat tiga pendekatan utama yang menjadi bagian dari transformasi layanan tersebut, yakni protect the journey, support the journey, dan inform the journey.

Protect the journey dilakukan melalui penguatan layanan preservasi untuk menjaga kualitas sekaligus keselamatan jalan.

Sementara support the journey diwujudkan dengan meningkatkan kualitas rest area agar tidak sekadar menjadi tempat beristirahat, tetapi juga mampu mendukung kenyamanan pengguna selama perjalanan.

Adapun inform the journey diarahkan untuk memastikan informasi mengenai perjalanan dapat tersedia secara tepat dan mudah diakses oleh pengguna jalan.

“Serta penguatan layanan informasi yang memastikan informasi perjalanan tersedia secara tepat dan mudah diakses (inform the journey),” kata Rivan.

Pemeliharaan Jalan Mengandalkan Teknologi

Dalam layanan preservasi, pengelola jalan tol juga memperkuat ekosistem pemeliharaan dengan memanfaatkan teknologi presisi tinggi.

Salah satunya melalui penggunaan armada inspeksi Hawkeye serta sistem pemantauan dan pelaporan digital TROOPS (Tollroad Real Time Operation Oversight Performance System).

Pemanfaatan teknologi tersebut memungkinkan kondisi perkerasan jalan diidentifikasi lebih dini. Dengan demikian, potensi kerusakan dapat segera ditindaklanjuti sebelum mengganggu kenyamanan maupun keselamatan pengguna jalan.

Penanganan dan perbaikan jalan juga diupayakan berlangsung lebih cepat dan terstandar dengan gangguan seminimal mungkin terhadap aktivitas kendaraan.

Transformasi juga dilakukan pada fasilitas rest area. Sejumlah rest area dikembangkan sebagai showcase rest area melalui penataan kawasan dan peremajaan fasilitas.

Pengelola turut memperkuat keterlibatan UMKM, menambah fasilitas Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) untuk mendukung perkembangan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).

Selain itu, diterapkan pengelolaan sampah terpadu atau waste management serta konsep green corridor.

Melalui berbagai pengembangan tersebut, rest area diarahkan untuk bertransformasi dari sekadar transit area menjadi kawasan destinasi yang modern, humanis, dan nyaman.

Pengembangan fasilitas tersebut sekaligus diharapkan memberikan nilai tambah sosial dan ekonomi bagi masyarakat di sekitar koridor jalan tol.

Dengan pertumbuhan kinerja keuangan, peningkatan volume kendaraan, ekspansi jaringan, serta transformasi layanan, pengelola jalan tol berupaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan peningkatan kualitas perjalanan masyarakat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news