Cerita Semangat Mahasiswi Difabel Kejar Pendidikan Tinggi

1 day ago 7
Cerita Semangat Mahasiswi Difabel Kejar Pendidikan TinggiSri Fitriani Ramadhani (21) adalah mahasiswi Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin. (Dok: Efra Alya Azizah)

KabarMakassar.com — Sri Fitriani Ramadhani (21) adalah mahasiswi Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin yang kini duduk di semester lima.

Selain berkuliah, ia juga aktif sebagai anggota Sahabat Pusat Disabilitas (Pusdis) sebuah wadah yang mendampingi dan memfasilitasi mahasiswa penyandang disabilitas.

Sri merupakan contoh nyata bahwa keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang dalam menggapai pendidikan tinggi.

Dengan tekad yang kuat, ia terus berusaha menjalani perkuliahan meski memiliki kondisi fisik berbeda dari mahasiswa lainnya.

Sejak lahir, Sri memiliki disabilitas fisik pada kaki kanannya yang berada dalam kondisi bengkok atau miring.

Bentuk kaki tersebut membuatnya berjalan dengan lebih lambat dan tidak mampu melangkah di medan yang terjal atau tidak rata.

Kondisi ini menuntut Sri untuk berhati-hati, terutama ketika berjalan di area menanjak, licin dan berbatu.

Ia kerap membutuhkan waktu lebih lama untuk berpindah tempat dan tidak dapat mengikuti aktivitas fisik berat secara optimal.

Saat pertama kali memasuki dunia kampus, Sri menghadapi keterbatasan fasilitas yang belum sepenuhnya ramah bagi mahasiswa disabilitas. Beberapa lokasi masih didominasi anak tangga, sehingga mobilitasnya menjadi lebih menantang.

Meski demikian, Sri tidak menjadikan kondisi tersebut sebagai alasan untuk berhenti berusaha. Ia menyesuaikan diri dan memaksimalkan fasilitas yang tersedia agar tetap bisa mengikuti seluruh rangkaian kegiatan perkuliahan.

Dalam kesehariannya, Sri menjalani aktivitas seperti mahasiswa pada umumnya. Ia hadir di kelas, mengerjakan tugas, serta mengikuti kegiatan akademik dengan penuh tanggung jawab.

Selain berkuliah, Sri dikenal sebagai sosok kreatif yang aktif di media sosial. Ia gemar membuat daily vlog dan konten TikTok yang berisi aktivitasnya sehari-hari maupun pesan positif untuk penontonnya.

Baginya, membuat konten adalah cara untuk menjaga semangat dan tetap produktif di tengah padatnya kegiatan akademik. Ia merasa kegiatan tersebut menjadi sarana untuk mengekspresikan diri dan tetap terhubung dengan banyak orang.

Sri juga sangat menikmati berbagai kegiatan kampus yang ia ikuti. Kegiatan tersebut memberinya kesempatan untuk belajar hal baru dan menjalin hubungan dengan lebih banyak mahasiswa dari berbagai jurusan.

Ia rutin mengikuti kegiatan yang diadakan oleh fakultas maupun Pusat Disabilitas Universitas Hasanuddin. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam perkembangan dirinya sebagai mahasiswa sekaligus individu.

Tantangan terbesar yang dihadapi Sri muncul ketika mengikuti kegiatan turun lapangan. Sebagai mahasiswa kehutanan, kegiatan lapangan merupakan bagian penting dari proses pembelajaran yang tidak dapat dihindari.

Medan yang terjal, berbatu, atau licin sering menyulitkannya. Dalam beberapa kesempatan, ia harus menunggu di area yang lebih aman sesuai arahan asisten dosen karena kondisi fisiknya tidak memungkinkan untuk melanjutkan kegiatan.

Meskipun demikian, Sri selalu berusaha mengikuti kegiatan lapangan sejauh yang ia mampu. Baginya, pengalaman lapangan memiliki nilai akademik dan sosial yang penting.

“Masa datang cuma duduk saja, harus ikut juga biar dapat pengalaman,” ujarnya, Jumat (28/11)

Selain tantangan fisik, Sri juga pernah menghadapi komentar negatif dari orang yang meragukan kemampuannya. Namun ia memilih untuk tidak terpengaruh oleh hal tersebut dan tetap melangkah maju.

Sri mengaku bahwa cara terbaik baginya untuk bertahan adalah dengan tetap bahagia dan tidak memikirkan komentar yang tidak bermanfaat.

“Walaupun banyak yang tidak suka, kita tetap happy. Jangan pikirkan mereka,” tuturnya.

Dukungan dari keluarga, teman-teman kampus, dan lingkungan sekitar menjadi sumber kekuatan bagi Sri. Ia merasa bersyukur dikelilingi oleh orang-orang yang selalu memberikan semangat dan membantu tanpa mengurangi kemandiriannya.

Menjelang semester akhir, Sri berharap dapat menyelesaikan kuliahnya dengan lancar dan tanpa hambatan. Ia ingin membanggakan keluarga serta membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan alasan untuk menyerah.

Sri juga menyampaikan harapan agar masyarakat semakin peduli terhadap penyandang disabilitas.

Baginya, hal sederhana seperti bertanya terlebih dahulu sebelum menawarkan bantuan sangat berarti.

Ia menutup wawancara dengan pesan yang penuh semanga.

“Tetap semangat, tetap berdoa, dan jalani hidup sesuai kemampuan kita. Pelan-pelan juga bisa sampai,” pungkasnya. (Efra Alya Azizah)

Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news