Harianjogja.com, JOGJA— DPD Real Estate Indonesia (REI) DIY menyebut periode Januari hingga Maret 2025 penjualan properti di DIY kian lesu. Penurunan penjualan diperkirakan mencapai 30%, menyasar semua harga. Hal ini disebabkan kian melemahnya daya beli di tengah masyarakat.
Ketua DPD REI DIY Ilham Muhammad Nur mengatakan dibandingkan dengan pandemi Covid penurunan penjualan properti kali ini lebih drastis. Ia mengibaratkan saat pandemi dari mulanya penjualan rata-rata di angka 5 kemudian turun menjadi 1-2. Namun saat ini turun menjadi tidak ada alias nihil, khususnya di Maret 2025. Kondisi itu diperparah ketika Maret atau memasuki puasa, sangat jarang orang melakukan kunjungan ke lokasi.
Menyiasati kondisi ini anggota REI DIY mencoba memberikan diskon lebih besar atau memberikan benefit lainnya. Sehingga bisa menggaet konsumen. Meskipun insentif PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sudah diberlakukan.
"Terjadi penurunan luar biasa. Kalau persentase mungkin sampai 30 persen. Data juga menunjukkan ada penurunan daya beli," ucapnya.
Ia menyebut penurunan daya beli ini bisa dilihat dari kondisi toko-toko yang masih sepi menjelang lebaran, tidak seperti tahun sebelumnya. Di mana pada pekan kedua dan ketiga biasanya penuh sesak.
Kondisi yang sama juga terjadi di sektor properti yang turun tajam penjualannya. Adanya momen libur lebaran diharapkan bisa mendongkrak penjualan. Menurutnya di tahun-tahun sebelumnya momen libur lebaran cukup membantu dalam meningkatkan penjualan.
Ilham menyebut libur lebaran menjadi momentum yang tepat untuk melakukan promosi dan penjualan. "Kalau lebaran gini kan berarti kembali ke rumah orang tua, siapa tahu karena tinggal di Jogja orang tuanya pengen beli rumah di Jogja. Harapan kami seperti itu," ujarnya.
Efisiensi Anggaran
Jika kebijakan efisiensi anggaran oleh pemerintah masih terus berlanjut dan tidak ada antisipasi, penurunan penjualan properti bisa semakin parah. Ia menyebut dana APBN untuk rumah subsidi sampai saat ini belum belum digelontorkan ke bank pelaksana.
BACA JUGA: Pameran Properti REI DIY Rumah Harga Rp500 Juta-Rp750 Juta Paling Laris
Ilham mengatakan ada indikasi dilakukan pengeraman. Akibatnya jika pengereman kencang, kata Ilham, dari sisi belakangnya akan saling bertabrakan. Penggelontoran dana APBN untuk rumah subsidi menjadi trigger menggerakkan ekonomi. Kalau dana APBN tidak bergerak, tidak ada trigger semua akan berhenti.
"Kalau di rem terus dengan efisiensi, menunda penggelontoran dana APBN yang diperuntukkan bagi masyarakat, misalnya rumah subsidi ini akan menambah macetnya perputaran," ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News