KLIKPOSITIF — Selama bertahun-tahun, olahraga menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang perempuan. Berlari, latihan beban hingga CrossFit dijalaninya secara rutin. Namun, diagnosis kanker membuat hubungan dengan tubuh yang selama ini dianggap kuat dan dapat diandalkan berubah secara drastis.
Sehari setelah menerima diagnosis kanker, ia bahkan berdiri di ruang gym di garasi rumahnya dan memandangi barbel yang selama bertahun-tahun biasa diangkat. Kali itu, ia tidak sanggup mengambilnya.
Bukan karena rasa sakit atau tubuh yang kehilangan kekuatan. Ia hanya merasa tubuhnya tidak lagi memberikan respons seperti sebelumnya.
Bertahun-tahun Aktif Berolahraga
Aktivitas fisik telah menjadi bagian dari kehidupannya sejak muda. Pada usia 20-an, 30-an hingga 40-an, ia rutin berlari, baik di lingkungan tempat tinggal maupun di jalur lari dan maraton.
Berlari menjadi cara baginya untuk menjernihkan pikiran. Selama bertahun-tahun, tubuhnya terasa stabil dan dapat diandalkan. Setiap usaha yang diberikan seolah selalu menghasilkan kemajuan.
Dilansir dari laman youmbody, memasuki akhir usia 40-an, ia mulai berlatih di pusat kebugaran. Latihan kekuatan kemudian memperkenalkannya pada bentuk olahraga baru yang membuatnya menikmati pencapaian-pencapaian kecil.
Ia kemudian mengenal CrossFit dan menjadikannya aktivitas utama selama lebih dari satu dekade. Barbel, kapur untuk latihan, serta suasana komunitas menjadi bagian yang ia sukai dari olahraga tersebut.
Ketika pandemi terjadi, latihan berpindah ke garasi rumah. Meski tidak lagi memiliki suasana komunitas CrossFit, ia tetap berusaha berolahraga secara rutin.
Menopause Mengubah Segalanya
Perubahan mulai terasa ketika memasuki masa perimenopause dan menopause. Pada awalnya, perubahan tersebut muncul secara perlahan, seperti gangguan tidur dan rasa panas yang datang sesekali.
Namun, olahraga yang sebelumnya membuat tubuh terasa lebih berenergi mulai terasa lebih berat. Proses pemulihan menjadi lebih lambat dan peningkatan kekuatan yang sebelumnya mudah dicapai mulai terhenti.
Untuk pertama kalinya, bekerja lebih keras tidak selalu menghasilkan perkembangan seperti yang diharapkan.
Alih-alih menyesuaikan diri dengan perubahan tubuh, ia justru terus memaksakan diri. Hingga kemudian diagnosis kanker mengubah cara pandangnya terhadap tubuh dan olahraga secara keseluruhan.
Diagnosis Kanker Membawa Ketidakpastian
Menurut pengalamannya, kanker bukan hanya persoalan diagnosis medis, tetapi juga menghadirkan ketidakpastian yang terus mengikuti kehidupan sehari-hari.
Pikiran dipenuhi berbagai pertanyaan mengenai jadwal pengobatan, hasil pemeriksaan, perkembangan penyakit hingga efek samping. Rutinitasnya kemudian dipenuhi dengan janji temu medis, pemindaian, pemeriksaan laboratorium dan menunggu hasil yang dapat kembali mengubah rencana hidup.
Dalam kondisi tersebut, target kebugaran yang sebelumnya penting mulai terasa tidak relevan.
Ia masih beberapa kali mencoba masuk ke ruang gym di rumah. Ia mengambil dumbbell, kemudian meletakkannya kembali. Pada kesempatan lain, ia memulai pemanasan tetapi berhenti di tengah jalan.
Ada hari ketika satu-satunya aktivitas yang mampu dilakukan hanyalah berjalan-jalan bersama anjingnya.
Yang paling sulit justru bukan kehilangan kemampuan berolahraga, melainkan menerima kenyataan bahwa tubuhnya kini membutuhkan perlakuan yang lebih lembut.
Ia juga merasakan kesedihan karena kehilangan gambaran tentang dirinya yang selama ini dikenal sebagai seseorang yang kuat dan selalu percaya bahwa kerja keras akan membawa hasil.
Belajar Mendengarkan Tubuh
Seiring waktu, pandangannya mulai berubah. Ia kembali merindukan aktivitas fisik dan secara perlahan mulai berolahraga lagi.
Latihan yang dilakukan tidak lagi berorientasi pada pencapaian rekor pribadi. Kadang ia hanya melakukan latihan menggunakan berat badan selama 10 menit atau latihan sederhana dengan dumbbell.
Ia juga berhenti menuntut tubuhnya untuk bekerja seperti ketika masih lebih muda, sebelum menopause dan sebelum kanker.
Sebaliknya, ia mulai belajar mendengarkan tubuh.
Kini, ia telah menjalani sekitar empat tahun masa menopause dan dua tahun hidup dengan kanker yang tidak dapat disembuhkan. Baginya, arti kekuatan pun berubah.
Pada suatu hari, kekuatan berarti mampu berolahraga. Namun pada hari lainnya, kekuatan justru berarti memberikan kesempatan kepada tubuh untuk beristirahat.
Ia menyadari bahwa olahraga tidak lagi harus menjadi sarana untuk membuktikan sesuatu. Aktivitas fisik kini menjadi cara untuk tetap terhubung dengan tubuh yang telah menemaninya melewati berbagai tahap kehidupan.
Mulai dari berlari, latihan beban, CrossFit, menopause hingga menghadapi kanker, tubuhnya tetap menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya.
Ia memang belum mengetahui seperti apa kehidupan kebugarannya di masa depan. Namun, satu hal yang diyakininya adalah gerakan tetap memiliki arti.
Kini, ia tidak lagi berusaha membuktikan seberapa kuat dirinya. Ia hanya ingin tetap terhubung dengan tubuh yang telah membawanya sejauh ini.

10 hours ago
3


















































