KLIKPOSITIF — Mabuk perjalanan atau motion sickness bukan hanya dialami penumpang kapal. Kondisi ini juga dapat terjadi saat seseorang bepergian menggunakan mobil, kereta api, pesawat, bahkan saat berada di luar angkasa.
Gejalanya dapat muncul hanya dalam beberapa menit setelah tubuh merasakan gerakan dan bertahan hingga beberapa jam setelah perjalanan berhenti. Gejala awal biasanya berupa rasa panas, berkeringat, pusing, sakit kepala, hingga kelelahan. Jika semakin parah, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi mual dan muntah.
Meski umumnya bersifat sementara, mabuk perjalanan bisa cukup mengganggu aktivitas, bahkan membuat sebagian orang menghindari perjalanan atau kegiatan tertentu.
Mengapa Mabuk Perjalanan Bisa Terjadi?
Para ilmuwan hingga kini belum sepenuhnya mengetahui penyebab mabuk perjalanan. Salah satu teori yang banyak digunakan menyebutkan bahwa kondisi tersebut terjadi akibat adanya konflik informasi yang diterima berbagai indra tubuh.
Sebagai contoh, ketika seseorang membaca buku di dalam mobil, mata melihat halaman yang relatif diam. Namun, bagian telinga dalam yang berfungsi mendeteksi gerakan dan percepatan tetap merasakan bahwa tubuh sedang bergerak.
Teori lain yang lebih baru menyebutkan bahwa mabuk perjalanan berkaitan dengan ketidaksesuaian antara apa yang diperkirakan otak dengan informasi yang diterima tubuh.
Menurut ahli saraf vestibular, Kristen Steenerson, orang yang memiliki migrain, khususnya migrain vestibular yang dapat menyebabkan vertigo dan pusing, juga lebih rentan mengalami mabuk perjalanan.
Anak-anak umumnya lebih mudah mengalami mabuk perjalanan dibandingkan orang dewasa. Perempuan juga disebut memiliki risiko lebih tinggi berdasarkan sejumlah penelitian. Faktor genetik diperkirakan turut berperan dalam menentukan kerentanan seseorang terhadap kondisi ini.
Obat Bisa Membantu, tetapi Sebaiknya Digunakan Sebelum Perjalanan
Sejumlah obat yang dijual bebas, termasuk antihistamin seperti Dramamine dan Bonine, diketahui dapat membantu mencegah mabuk perjalanan. Namun, obat tersebut umumnya perlu dikonsumsi sebelum gerakan atau perjalanan dimulai.
Efek samping yang perlu diperhatikan adalah rasa kantuk. Karena itu, penggunaannya perlu disesuaikan dengan petunjuk pemakaian dan kondisi masing-masing orang.
Obat lain yang dapat digunakan adalah scopolamine, yang tersedia dalam bentuk plester dan ditempelkan di belakang telinga. Obat ini dapat membantu sebagian orang, tetapi dapat menyebabkan efek samping seperti mulut kering dan tidak dianjurkan untuk kelompok tertentu, termasuk anak-anak.
Selain obat, pendekatan perilaku juga dapat membantu mengurangi gejala.
Saat berada di dalam mobil, misalnya, mengemudi justru dapat mengurangi gejala pada sebagian orang karena pengemudi memiliki kontrol terhadap gerakan kendaraan. Bagi penumpang, duduk di bagian tengah kendaraan dan mengarahkan pandangan ke jalan dapat membantu.
Di pesawat, posisi di bagian tengah pesawat cenderung mengalami gerakan yang lebih sedikit. Sementara di kapal, berada di bagian atas kapal dan melihat garis cakrawala dapat membantu tubuh menyesuaikan diri terhadap gerakan.
Bagaimana dengan Jahe, Gelang dan Kacamata Antimabuk?
Tidak semua produk yang dipasarkan untuk mencegah mabuk perjalanan memiliki bukti ilmiah yang kuat.
Sejumlah ahli menyebutkan bahwa pernapasan terkontrol, udara segar, musik yang menyenangkan, atau aroma tertentu seperti mawar dan lemon mungkin membantu mengurangi gejala pada sebagian orang. Sementara itu, bukti mengenai efektivitas jahe dan suplemen lainnya masih beragam.
Dilansir dari laman channelnewasia, Gelang akupresur dan kacamata khusus untuk mencegah mabuk perjalanan juga belum menunjukkan manfaat yang konsisten. Sebagian besar penelitian menunjukkanBagi orang yang terus mengalami mabuk perjalanan hingga mengganggu aktivitas, terapi rehabilitasi vestibular dapat menjadi salah satu pilihan efeknya tidak lebih baik daripada plasebo.
Latihan Adaptasi Bisa Menjadi Pilihan
Bagi orang yang terus mengalami mabuk perjalanan hingga mengganggu aktivitas, terapi rehabilitasi vestibular dapat menjadi salah satu pilihan.
Fisioterapis yang memiliki spesialisasi neurologi atau rehabilitasi vestibular dapat membantu pasien mengidentifikasi jenis gerakan yang memicu gejala. Selanjutnya, pasien secara bertahap dilatih untuk meningkatkan toleransi terhadap gerakan tersebut.
Pendekatan yang dikenal sebagai habituasi atau pembiasaan terkontrol ini memang membutuhkan waktu dan dapat terasa tidak nyaman. Namun, menurut para ahli, metode tersebut dapat memberikan hasil yang baik jika dilakukan secara konsisten.
Pada akhirnya, mengenali situasi yang menjadi pemicu merupakan salah satu cara penting untuk mengelola mabuk perjalanan. Setiap orang dapat memiliki pemicu yang berbeda. Ada yang merasa mual saat berada di dalam mobil, tetapi tidak bermasalah ketika menaiki wahana ekstrem, sementara orang lain mungkin memiliki pengalaman sebaliknya.
Dengan mengetahui pemicu dan melakukan persiapan yang tepat sebelum bepergian, sebagian besar orang dapat mengurangi dampak mabuk perjalanan dan tetap menikmati aktivitas tanpa harus sepenuhnya menghindari perjalanan.

13 hours ago
5

















































