KLIKPOSITIF — Kematian merupakan bagian dari kehidupan yang pasti terjadi, tetapi menjadi salah satu hal yang paling jarang dipersiapkan. Padahal, perencanaan sebelum meninggal dapat membantu keluarga menghadapi berbagai urusan yang muncul setelah seseorang berpulang.
Survei Singapore Management University pada 2025 menunjukkan, lebih dari separuh masyarakat Singapura belum pernah membicarakan ataupun menuliskan keinginan terakhir mereka.
Psikolog klinis Jeanice Cheong dari Bright Psych of Life mengatakan, pembicaraan mengenai kematian dan duka masih dianggap tabu dalam masyarakat Asia. Padahal, ketidakjelasan mengenai keinginan seseorang dapat membuat keluarga yang ditinggalkan harus mengambil berbagai keputusan ketika sedang berduka.
“Perencanaan kematian dapat mengurangi sebagian beban keluarga atau pengasuh yang ditinggalkan,” ujarnya.
Perencanaan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pembagian harta. Berbagai hal mulai dari keinginan terkait pemakaman, dokumen penting, daftar kontak, hingga pengaturan untuk anak dan hewan peliharaan juga dapat dipersiapkan sejak masih hidup.
Informasi penting sebaiknya disimpan dalam satu dokumen yang dapat diakses orang tepercaya dan diperbarui secara berkala. Sementara itu, kata sandi, PIN, dan kode pemulihan sebaiknya disimpan secara terpisah dengan mekanisme akses yang diketahui oleh orang yang bertanggung jawab.
Berikut sejumlah hal yang dapat dipersiapkan:
1. Tentukan foto dan pakaian untuk pemakaman
Pilih foto yang ingin digunakan dalam prosesi pemakaman serta pakaian yang akan dikenakan. Beri tahu keluarga atau orang yang dipercaya mengenai lokasi penyimpanannya.
2. Tentukan tata cara atau ritual terakhir
Hal ini menjadi penting, terutama bagi keluarga yang memiliki perbedaan keyakinan, pihaknya pernah menemukan keluarga yang melakukan lebih dari satu rangkaian ritual untuk orang yang sama karena atau pandangan mengenai tata cara pemakaman.
Pengacara Johnathan Lee dari Fong & Fong LLC mengatakan, pihaknya pernah menemukan keluarga yang melakukan lebih dari satu rangkaian ritual untuk orang yang sama karena tidak dapat mencapai kesepakatan mengenai tata cara yang tepat.
3. Tentukan orang yang mengurus pemakaman
Tentukan sejak awal siapa yang akan bertanggung jawab mengoordinasikan prosesi pemakaman dan menyampaikan pidato penghormatan atau eulogi.
Langkah ini dapat membantu mengurangi kebingungan dan potensi konflik di antara anggota keluarga.
4. Buat daftar kontak penting
Daftar tersebut dapat berisi nomor telepon keluarga, sahabat dekat, tempat kerja, maupun pihak lain yang perlu dihubungi setelah seseorang meninggal.
Menurut Cheong, orang yang masih sehat sebaiknya sudah menghubungkan pengasuh atau orang yang dipercaya dengan orang-orang penting dalam kehidupannya.
5. Atur perwalian anak dan pengelolaan aset
Bagi orang tua yang memiliki anak di bawah umur, wasiat dapat digunakan untuk menunjuk wali yang akan merawat anak apabila orang tua meninggal.
Wasiat juga dapat mengatur siapa yang dipercaya mengelola aset anak hingga mencapai usia tertentu.
6. Tentukan penerima barang yang memiliki nilai sentimental
Barang seperti jam tangan, perhiasan, foto keluarga, atau benda kenangan sebaiknya memiliki penerima yang jelas.
Tanpa pengaturan, barang-barang tersebut berpotensi menimbulkan perselisihan. Dalam kondisi tertentu, pelaksana wasiat bahkan dapat menjualnya dan membagi hasil penjualannya.
7. Buat surat keinginan atau letter of wishes
Selain wasiat, seseorang dapat membuat surat yang menjelaskan alasan di balik keputusan tertentu, termasuk pembagian aset, penunjukan wali dan pengelola aset, maupun keinginan mengenai pemakaman.
Surat tersebut dapat membantu keluarga memahami alasan di balik keputusan yang dibuat.
“Surat keinginan bersama dengan wasiat adalah tempat untuk menjelaskan mengapa satu anak menerima lebih banyak dan yang lain lebih sedikit, sehingga tidak ada yang harus menebak maksudnya,” kata Lee.
Persiapan Bukan Berarti Menunggu Tua
Perencanaan kematian sebaiknya tidak baru dilakukan ketika seseorang menderita penyakit serius atau memasuki usia lanjut. Tidak seorang pun dapat mengetahui kapan kondisi darurat akan terjadi.
Karena itu, persiapan dapat dilakukan secara bertahap. Tidak perlu menyelesaikan seluruh daftar sekaligus. Satu atau dua hal dapat diselesaikan terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan hal lainnya.
Pada akhirnya, membuat daftar persiapan kematian bukan semata-mata tentang menghadapi kematian. Proses tersebut juga dapat membantu seseorang memahami kembali prioritas, nilai hidup, hubungan dengan orang lain, serta hal-hal yang dianggap paling penting selama menjalani kehidupan.

11 hours ago
4


















































