Mengapa Bar di Singapura Impor 900 Kg Es dari Jepang Setiap Tahun?

12 hours ago 4

KLIKPOSITIF – Es mungkin terlihat sebagai bagian sederhana dari sebuah minuman. Namun, bagi sejumlah bar kelas atas, kualitas es menjadi salah satu elemen penting dalam menyajikan cocktail. Salah satunya dilakukan Native, bar ternama di Singapura, yang mengimpor sekitar 900 kilogram es dari Jepang setiap tahun.

Es tersebut diproduksi oleh Kuramoto Ice, perusahaan yang telah berdiri selama sekitar satu abad di Kanazawa, Prefektur Ishikawa, Jepang. Perusahaan ini merupakan salah satu dari sejumlah produsen di Jepang yang secara khusus membuat es bening berkualitas premium untuk kebutuhan bar dan restoran.

Produk es premium tersebut bahkan dapat dijual hingga 200 yen atau sekitar US$1,25 per kubus, tergantung jenis dan ukurannya. Popularitasnya tidak hanya terbatas di Jepang, tetapi telah merambah berbagai bar di luar negeri, termasuk Amerika Serikat, Australia, dan Singapura.

Kepala Kuramoto Ice generasi kelima, Kazuhiko Kuramoto, mengatakan proses pembuatan es dilakukan secara perlahan dan membutuhkan ketelitian. “Kami meluangkan waktu dan membekukan air secara perlahan sambil menjaganya tetap bergerak. Begitulah cara kami menghasilkan es yang baik,” ujarnya.

Dibekukan hingga 72 Jam

Berbeda dengan es yang diproduksi menggunakan mesin secara massal, es premium Jepang dibuat melalui proses pembekuan yang jauh lebih lama. Air dibekukan selama sekitar 48 hingga 72 jam.

Dilansir dari laman channelnewasia, ketika air mulai membeku dari bagian luar, berbagai zat pengotor terdorong menuju bagian tengah es. Dalam proses pembuatan es premium, air yang mengandung pengotor tersebut kemudian dikeluarkan dan diganti dengan air baru.

Proses tersebut dilakukan secara berkelanjutan. Pengadukan juga dilakukan untuk membantu mengurangi gelembung udara yang terperangkap di dalam es.

Hasil akhirnya adalah es yang sangat bening atau transparan, yang dalam bahasa Jepang dikenal sebagai “junpyo”.

Setelah diproduksi, balok-balok es berukuran besar tersebut dipotong dan dibentuk secara manual menjadi berbagai bentuk, mulai dari kubus, bola, hingga balok persegi panjang dengan sudut yang dipotong. Ukurannya bahkan dapat disesuaikan agar pas dengan gelas tertentu.

Es yang telah dikemas kemudian disimpan dalam ruangan bersuhu sekitar minus 10 derajat Celsius sebelum dikirim ke berbagai negara.

Berpengaruh terhadap Rasa Cocktail

Bagi Native di Singapura, penggunaan es premium bukan sekadar persoalan penampilan. Bar tersebut mengimpor sekitar 900 kilogram es Kuramoto setiap tahun.

Menurut salah satu pemilik Native, Yong Wei, es lokal memang lebih ekonomis. Namun, es dari Kuramoto dinilai memiliki kejernihan dan kepadatan yang lebih baik serta lebih lambat mencair.

Karakteristik tersebut dianggap penting dalam penyajian cocktail. Es yang lebih besar dan padat dapat membantu mendinginkan minuman tanpa terlalu cepat menambahkan air akibat pencairan.

Meski demikian, klaim bahwa metode tersebut menghasilkan es yang secara ilmiah lebih dingin atau lebih padat dan mampu mencair lebih lambat dibandingkan es biasa masih memiliki bukti ilmiah yang terbatas.

Bagi para bartender, kualitas es tetap menjadi bagian penting dari keseluruhan pengalaman menikmati cocktail.

Di sebuah bar hotel di dekat Tokyo, bartender Shingo Miyachi menggunakan es kubus bening berukuran besar untuk membuat negroni. Es tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga ukurannya sesuai dengan gelas dan hampir tidak terlihat karena kejernihannya.

Menurut Miyachi, es memiliki pengaruh besar terhadap cita rasa cocktail. Ketika es mencair, air yang dihasilkan dapat memengaruhi rasa, termasuk sensasi yang tertinggal setelah seseorang meneguk minuman.

Seni Mengolah Es

Di Jepang, kemampuan menangani dan mengolah es juga dianggap sebagai salah satu keterampilan penting bagi bartender. Bahkan, dalam tahap awal pelatihan, bartender dapat diajarkan cara memecah dan membentuk es dengan presisi.

Bagi Miyachi, perhatian terhadap detail pada es dapat menjadi gambaran mengenai seberapa serius seorang bartender memperhatikan cita rasa minuman yang dibuatnya.

“Cocktail benar-benar tercipta ketika gelas, es, dan cairan menjadi satu kesatuan,” ujarnya.

Sementara itu, Kazuhiko Kuramoto menyadari bahwa mengirim es ribuan kilometer ke berbagai negara memiliki konsekuensi terhadap lingkungan. Namun, ia menilai produk dalam jumlah kecil seperti es premium memiliki dampak lingkungan yang relatif terbatas dibandingkan pengiriman barang dalam skala besar.

Sejak mulai melakukan ekspor pada 2019, penjualan Kuramoto Ice disebut telah meningkat lebih dari dua kali lipat. Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa bagi industri cocktail premium, es bukan lagi sekadar pelengkap minuman, melainkan bagian dari seni penyajian dan pengalaman menikmati cocktail.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news