Hari Doa Nasional 2026, Wamen Fajar Tegaskan Pendidikan Jalan Memuliakan Manusia dan Meninjau SPMB di Balikpapan

17 hours ago 5

KLIKPOSITIF — Membangun pendidikan Indonesia hanya mungkin dilakukan apabila negara berjalan bersama masyarakat, termasuk komunitas-komunitas keagamaan yang sejak lama mengabdikan dirinya bagi pendidikan. Hal itu disampaikan oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq, Jum’at (3/7), saat menghadiri Diskusi Hari Doa Nasional 2026 yang diinisiasi oleh Forum Umat Kristiani Indonesia (FUKRI) di Bukit Doa Nusantara, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Menurutnya, Indonesia tidak pernah dibangun di atas satu warna. Negeri ini bertumbuh dari ribuan pulau, ratusan bahasa, beragam agama, tradisi, dan kebudayaan. Karena itu, pendidikan nasional tidak boleh hanya melayani sebagian kelompok, tetapi harus menjadi rumah bersama yang memberi ruang bagi setiap anak Indonesia untuk bertumbuh.

“Tugas negara bukan menyeragamkan identitas pendidikan. Tugas negara adalah memastikan bahwa setiap anak memperoleh hak yang sama atas pendidikan yang aman, bermutu, dan bermartabat, tanpa membedakan agama, lokasi geografis, ataupun status sekolah tempat mereka belajar. Inilah makna sesungguhnya dari kebijakan Pendidikan Bermutu untuk Semua,” paparnya.

Dalam berbagai kunjungan kerja ke daerah, terutama wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal, Fajar menyempatkan diri mengunjungi sekolah-sekolah lintas agama. Ia pernah berdialog dengan guru dan murid di PAUD Katolik El-Shaddai di Tapanuli Utara Sumatera Utara, SD Katolik Sanggau di Kalimantan Barat, SD GMIM Kayuwatu di Sulawesi Utara, SMP Kristen Mollo Selatan di Nusa Tenggara Timur, SMA Santo Thomas Yogyakarta, hingga SMA Katolik Kesuma Mataram, NTB.

Selain itu, ia juga mengunjungi sekolah-sekolah yang dikelola organisasi masyarakat dan komunitas lain seperti Puhua School Purwokerto, SMP Taman Siswa Yogyakarta, TK Muslimat NU, SDIT Persis, SMK NU Lasem, SMA Dwijendra Bali, serta berbagai sekolah swasta lainnya.

“Kunjungan-kunjungan tersebut memperlihatkan satu kenyataan yang sama: semangat para guru melampaui keterbatasan fasilitas. Dan tugas pemerintah adalah memastikan semangat itu tidak dibiarkan berjalan sendirian,” ungkapnya.

Bagi Wamen Fajar, Indonesia tidak bisa hanya dibangun oleh pemerintah. Melainkan oleh jutaan guru, para orang tua, yayasan pendidikan, organisasi keagamaan, gereja, pesantren, komunitas, dan seluruh warga negara yang percaya bahwa pendidikan adalah jalan memuliakan manusia.

“Karena itu, pendidikan bermutu untuk semua merupakan ikhtiar kolektif untuk memastikan tidak ada satu pun anak Indonesia yang tertinggal karena latar belakang agama, kondisi ekonomi, ataupun tempat tinggalnya,” jelasnya.
Paparan Wamen Fajar tersebutu mendapat apresiasi dari para penanggap diskusi, Romo Aloysius Budi Purnomo dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan Rendy Alexander Chuang, Persekutuan Baptis Indonesia (PBI) serta para peserta diskusi dari FUKRI terdiri KWI, PBI, Gereja Balai Keselamatan (GBK), Gereje Orthodox Indonesia (GOI), Persatuan Gereja-Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI), dan lain-lain.

Sebelumnya, Wamen Fajar juga meninjau pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru atau SPMB gelombang 2 di SMA Negeri 5 Balikpapan. Menurutnya, SMA Negeri 5 Balikpapan telah melaksanakan SPMB sebagaimana aturan yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Hal ini tak lepas dari dukungan pemerintah daerah dan juga kesigapan petugas yang sudah terlatih dan siap menyukseskan SPMB.

“Saya sampaikan terima kasih kepada Kepala Sekolah dan keluarga besar di SMA Negeri 5 ini yang sudah menjalankan tugas-tugas kependidikannya. Dan kami titip, dalam proses MPLS mendatang, itu betul-betul mengikuti panduan dari Kemendikdasmen,” kata Fajar.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news