
KabarMakassar.com — Di balik duka yang menyelimuti Makassar pasca tragedi aksi demonstrasi berujung kebakaran, nama Muh Akbar Basri atau akrab disapa Abay kini terus diperbincangkan.
Pemuda itu bukan sekadar korban. Ia meninggalkan jejak digital penuh pesan di akun media sosialnya, seakan menjadi warisan terakhir bagi sahabat dan keluarganya.
Kritik Tajam Sebelum Ajal
Sebelum ajal menjemput pada Jumat (29/8), Abay sempat menuliskan kritik tajam di Instagram Story-nya. Ia menyoroti insiden yang menewaskan Affan sekaligus menyatakan dukungan terhadap sikap mahasiswa yang kala itu turun ke jalan.
“Punya keluarga, sahabat, dan kerabat polisi seharusnya tidak membuat kita menutup hati nurani dan membenarkan tindakan aparat tersebut. Terlepas dari isu utama yang sedang dikawal,” tulisnya.
Tak berhenti di situ, Abay menuliskan kalimat yang kini terasa seperti pesan perpisahan. Dengan emotikon mata berkaca-kaca, ia menulis, “Hari-hari ini, menyuarakan suara jadi begitu berisiko karena banyak orang takut akan kebenaran. Kebenaran mengancam jabatan, posisi, kedudukan, power, dan kekuasaan, sehingga mereka rela melakukan apapun agar yang menyuarakan suara dapat diam.”
Pesan itu kini menyayat hati, seolah menjadi gambaran nyata tentang apa yang dialaminya.
Pandangan tentang Pemimpin
Dalam unggahannya, Abay juga sempat menaruh perhatian pada kepemimpinan perempuan. Ia mengunggah foto Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda dan Ketua DPRD Sulsel Andi Rachmatika Dewi, lengkap dengan caption reflektif tentang etika kepemimpinan.
Ia menulis bahwa kedua sosok tersebut bisa menjadi teladan, karena memadukan ketegasan dengan kesantunan, kerendahhatian, dan keteladanan. Baginya, kombinasi karakter itu mampu menciptakan lingkungan sosial yang harmonis sekaligus membangun kepercayaan masyarakat.
“Gubernur Maluku Utara, Ibu Sherly Tjoanda, dan Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, Ibu Drg. Hj. A. Rachmatika Dewi, merupakan contoh pemimpin yang dapat kita teladani dalam bersosialisasi dan beretika. Dari mereka, kita dapat belajar tentang pentingnya bersikap lentur, yaitu menggabungkan ketegasan dengan kesantunan, kerendahhatian, dan keteladanan.”
Bagi Abay, kombinasi semua sifat itu mampu menciptakan lingkungan sosial yang harmonis, produktif, sekaligus membangun kepercayaan di tengah masyarakat.
Pertemuan dengan Wali Kota
Abay juga dikenal sebagai pemuda yang aktif dalam dunia sosial. Pada 10 Maret 2025, ia sempat bertemu dengan Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin. Momen itu diabadikan di Instagram dengan caption penuh rasa syukur.
“Allahumma barik. Berbincang dengan Bapak Wali Kota Makassar merupakan kesempatan yang sangat berharga untuk mendapatkan wawasan dan arahan mengenai perkembangan kota ini… Nasehat dan arahan dari beliau tentunya sangat penting, terutama dalam hal partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan kota.”
Tulisan itu ia tutup dengan doa, “Terima kasih atas arahannya, Pak Wali. Sukses dan sehatki selalu serta senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT.”
Filosofi Hidup
Jauh sebelum tragedi, tepatnya pada 24 Juli 2024, Abay juga pernah menulis sebuah renungan tentang kapal dan lautan. Pesan itu kini kembali viral.
“Saat yang paling indah dari sebuah kapal adalah ketika ditambatkan di sebuah dermaga, dia cantik sekali bermandikan cahaya. Tapi jangan pernah lupa, kapal tidak pernah dibuat hanya untuk ditambatkan di dermaga. Kapal dibuat untuk menghajar gelombang, membelah lautan.”
Tulisan itu dianggap simbol perjalanan hidupnya. Abay seakan ingin mengingatkan bahwa manusia tidak diciptakan hanya untuk berdiam, melainkan berani menghadapi tantangan, menembus badai, dan meninggalkan jejak keberanian.