
KabarMakassar.com — Musim kemarau yang menguat kembali memicu potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Indonesia.
Berdasarkan Prospek Cuaca Mingguan BMKG periode 25–31 Juli 2025, sejumlah daerah seperti Sumatra bagian tengah dan selatan, Kalimantan, serta Sulawesi tengah dan selatan masuk dalam kategori potensi karhutla tinggi hingga sangat tinggi.
Situasi ini tidak hanya mengancam sektor lingkungan, tetapi juga menimbulkan risiko serius terhadap keselamatan transportasi dan kesehatan masyarakat. Anggota Komisi V DPR RI, Hj. Novita Wijayanti, menyatakan keprihatinannya dan mendesak seluruh pemangku kepentingan untuk bergerak cepat dan terkoordinasi.
“Jarak pandang yang terganggu akibat asap karhutla sangat berbahaya bagi penerbangan maupun kendaraan darat, terutama di wilayah minim penerangan dan pengawasan. Kita harus pastikan sistem transportasi tetap berjalan, tapi bukan dengan mengorbankan keselamatan masyarakat,” tegas Novita, Sabtu (26/07).
Sejumlah bandara di wilayah terdampak, termasuk di Riau dan Kalimantan, telah bersiaga menghadapi gangguan visibilitas yang berpotensi mengacaukan jadwal penerbangan. Sementara itu, sopir logistik dan angkutan umum di jalur darat kini menghadapi tantangan besar mengemudi dalam kondisi kabut asap pekat yang memperbesar risiko kecelakaan.
Selain keselamatan transportasi, dampak terhadap kesehatan juga menjadi sorotan. Novita menekankan bahwa kualitas udara yang menurun drastis telah meningkatkan jumlah kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), khususnya pada anak-anak dan kelompok rentan.
“Saya mendorong agar posko kesehatan darurat segera didirikan di wilayah terdampak, disertai distribusi masker berkualitas secara merata. Ini bukan hanya soal kenyamanan, tapi soal menyelamatkan nyawa,” ujarnya.
Novita mengapresiasi langkah BMKG yang telah aktif memantau cuaca dan menyampaikan peringatan dini, namun ia menekankan bahwa kerja BMKG harus ditopang oleh sinergi lintas sektor.
“Penanganan karhutla tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. BMKG butuh dukungan dari Kemenhub, BNPB, Dinas Kesehatan, dan tentu pemerintah daerah agar datanya digunakan secara optimal dalam pengambilan keputusan,” paparnya.
Politisi Fraksi Gerindra itu juga mendorong intensifikasi teknologi modifikasi cuaca untuk mengurangi risiko kebakaran, percepatan pemadaman titik api, serta evaluasi menyeluruh terhadap kesiapan jalur evakuasi dan infrastruktur transportasi.
“Keselamatan dan nyawa rakyat harus menjadi prioritas utama. Kita tidak bisa menunggu korban jatuh baru bertindak. Begitu peringatan dini disampaikan, seluruh elemen harus langsung bergerak,” tegasnya.
Novita menyerukan langkah antisipatif secara nasional. Menurutnya, penanganan bencana yang efektif bukan hanya soal respon cepat, tapi bagaimana mengurangi dampak sejak dini melalui kesiapsiagaan dan tindakan preventif.
“Dari udara yang penuh asap hingga jalanan yang samar oleh kabut, rakyat kita butuh kehadiran negara. Jangan tunggu bencana jadi berita utama untuk mulai bertindak. BMKG sudah memberi sinyal. Sekarang saatnya semua bergerak bersama,” tutupnya.