
KabarMakassar.com — Tragedi kebakaran Gedung DPRD Makassar, Jumat (29/08) malam, menyisakan luka yang dalam bagi banyak orang.
Bukan hanya karena kerugian materi yang ditinggalkan, tetapi juga karena nyawa yang melayang. Salah satunya adalah Sarina Wati (26), staf pendamping anggota DPRD Makassar, Andi Tenri Uji.
Sarina, perempuan asal Dusun Bampesu, Kecamatan Kajuara, Kabupaten Bone, bukanlah sosok asing di lingkungan DPRD. Selama bertahun-tahun ia mendampingi Tenri Uji, bahkan saat menjalankan tugas sebagai Wakil Rakyat, bukan sekadar sebagai staf, tetapi sudah dianggap keluarga.
Sarina harus meregang nyawa setelah terjebak di ruang humas saat api melahap gedung dewan. Berbeda dengan almarhum Abay (Muhammad Akbar Basri) yang meninggal di lokasi, Sarina sempat dilarikan ke RS Bhayangkara Makassar. Namun, luka bakar di wajah, tangan, perut, hingga kaki merenggut hidupnya.
Kabar duka itu membuat Andi Tenri Uji terpukul. Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, ia menuliskan kesedihan mendalam sekaligus penyesalan atas kehilangan sosok yang sudah dianggap bagian dari keluarganya.
“Pak Prabowo @prabowo, gak papa saya kehilangan mobil akibat massa semalam, tapi saya kehilangan 1 orang yang paling penting dalam hidup saya dan keluarga saya, Pak. Dan 1 orang lagi kesayangan kami semua di DPRD Kota Makassar,” tulisnya penuh emosi, sembari menandai akun Presiden RI.
Ia juga menyinggung kebijakan yang selama ini dipersepsikan publik berbeda dari realitas di daerah.
“Luka ini akan tergores seumur hidup saya dan pertanggungjawaban saya dunia akhirat,” tulisnya lagi.
Tenri Uji mengakui, peristiwa 29 Agustus menjadi titik terberat dalam perjalanan hidup dan pengabdiannya. Ia bukan hanya kehilangan staf, tetapi juga rekan yang setia mendampingi dalam suka dan duka.
“Tragedi 29 Agustus di DPRD Kota Makassar sangat berat bagi saya. Kehilangan rekan kerja yang sudah bekerja dengan saya selama bertahun-tahun menjadi luka yang sangat dalam. Juga kehilangan Muhammad Akbar Basri (Abay). Kami berada di DPRD saat kejadian benar-benar untuk memutuskan kebijakan untuk rakyat, bukan tuntutan kenaikan tunjangan seperti dilakukan pusat,” ungkapnya.
Dengan tulisan lirih, ia mengenang momen terakhir saat bersama Sarina di gedung DPRD. Dari ruang rapat hingga detik-detik ketika semua anggota dewan dan staf terpaksa berlarian menyelamatkan diri.
“Kami duduk, mendengar, menentukan, hingga akhirnya kami harus berlarian menyelamatkan diri masing-masing dari serangan,” ucapnya.
Tak hanya itu, Tenri Uji mengaku tak kuasa menahan tangis dan berat ketika harus membawa pulang putri semata wayangnya Athy dalam keadaan sudah tidak bernyawa.
“Berat sekali bawa pulang anak gadis kesayangan satu-satunya dalam keadaan kaku. Sarina, harusnya saya ke kampungmu antar nikah, bukan antar jenazahmu,” tulis Tenri.
“Ya Allah…” tambahnya.
Jenazah Sarina dimakamkan di kampung halamannya, Bone. Andi Tenri sendiri yang mengantar Sarina ke peristirahatan terakhirnya. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarganya, tetapi juga bagi lingkungan DPRD Makassar.
Bagi Tenri Uji, kehilangan Sarina bukan sekadar kehilangan staf. Ia kehilangan seseorang yang sudah seperti keluarga sendiri.
“Mohon doata semua untuk Sarina dan Abay, serta korban-korban di peristiwa ini,” pintanya.
Kini, tragedi DPRD Makassar tidak hanya tercatat sebagai kerusuhan yang merenggut nyawa, tetapi juga kisah kehilangan yang membekas di hati banyak orang. Luka itu, seperti pengakuan Tenri Uji, akan terus ia bawa seumur hidup.