Mengurai Sejarah Tongkonan Toraja yang Diratakan Alat Berat

2 months ago 39

KabarMakassar.com — Perobohan Tongkonan Ka’pun di Kecamatan Kurra, Kabupaten Tana Toraja, bukan sekadar peristiwa eksekusi lahan adat. Di balik bangunan yang diratakan alat berat itu, tersimpan sejarah panjang, sistem nilai, serta struktur sosial yang selama ratusan tahun menjadi fondasi kehidupan masyarakat Toraja.

Tongkonan Ka’pun yang berusia lebih dari 300 tahun itu bukan hanya rumah, melainkan institusi adat yang menyatukan silsilah, kekuasaan, dan keyakinan leluhur.

Peristiwa pembongkaran yang terjadi pada Jumat (5/12) memicu kemarahan warga dan berujung ricuh. Eksekusi yang dilakukan berdasarkan putusan pengadilan melibatkan aparat gabungan dan penggunaan ekskavator. Selain Tongkonan Ka’pun, tiga tongkonan lain, enam alang atau lumbung padi, serta dua rumah semi permanen ikut dibongkar.

Dalam rekaman video yang beredar luas, terlihat warga berusaha mempertahankan bangunan adat tersebut hingga terjadi bentrokan yang menyebabkan belasan orang terluka.

Namun bagi masyarakat Toraja, kehancuran Tongkonan jauh melampaui kerugian fisik. Tongkonan adalah wajah dan harga diri keluarga besar. Ia menjadi pusat silsilah, tempat garis keturunan dicatat dan dituturkan dari generasi ke generasi. Ketika bangunan itu runtuh, bukan hanya kayu dan bambu yang hancur, tetapi juga ruang pewarisan pengetahuan lisan yang selama ini hidup di dalamnya.

Tongkonan juga memegang fungsi sosial yang vital. Di sanalah sengketa keluarga diselesaikan, keputusan adat diambil, serta ritual besar seperti Rambu Solo’ (upacara kematian) dan Rambu Tuka’ (upacara kehidupan) dilaksanakan. Hilangnya Tongkonan berarti komunitas kehilangan pusat gravitasi sosialnya, sebuah kondisi yang berpotensi menimbulkan disorientasi dan konflik horizontal berkepanjangan.

Secara etimologis, Tongkonan berasal dari kata tongkon yang berarti duduk, dengan akhiran -an yang bermakna tempat. Namun duduk yang dimaksud bukan sekadar bersantai, melainkan duduk bersama dalam majelis adat untuk ma’kombong atau bermusyawarah. Dalam perspektif Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan, Tongkonan dapat dimaknai sebagai balai musyawarah sekaligus pusat pemerintahan adat.

Sebelum hadirnya sistem pemerintahan modern, Tongkonan memegang peran yudikatif dan eksekutif. Para pemangku adat atau To Parengnge mengambil keputusan yang mengikat seluruh anggota komunitas di tempat ini. Berbeda dengan rumah keluarga inti yang disebut banua, Tongkonan memiliki status komunal dan diwariskan secara turun-temurun berdasarkan garis keturunan.

Sejarah Tongkonan tak terpisahkan dari mitologi Aluk Todolo, agama leluhur masyarakat Toraja. Dalam sastra lisan, Tongkonan pertama diyakini dibangun di langit oleh Puang Matua, Sang Pencipta, dalam wujud Banua Puan Maro atau istana kayangan.

Bentuk awalnya sederhana dengan dua tiang penyangga, kemudian berkembang menjadi rumah panggung dengan empat tiang, hingga mencapai bentuk sempurna dengan atap melengkung menyerupai perahu.

Bentuk perahu tersebut merefleksikan sejarah maritim leluhur Toraja sebelum bermigrasi ke pegunungan Sulawesi Selatan. Perahu yang dahulu menjadi alat perjalanan kemudian bertransformasi menjadi atap rumah, menandai proses adaptasi lingkungan.

Sejarawan Adang Sujana dalam bukunya Refleksi 100 Tahun Lembaga Purbakala Makassar juga mencatat bahwa sebagian tokoh menginterpretasikan atap melengkung Tongkonan sebagai simbol tanduk kerbau, lambang harta dan status sosial.

Tongkonan tidak berdiri sendiri sebagai bangunan tunggal. Ia berada dalam hierarki adat yang jelas, mulai dari Tongkonan Layuk sebagai pusat kekuasaan tertinggi, Tongkonan Pekaindoran yang mengatur kepemimpinan dan sengketa, hingga Tongkonan Batu A’riri yang berfungsi sebagai pemersatu keluarga.

Hancurnya Tongkonan Ka’pun yang berusia tiga abad berarti hilangnya salah satu simpul strategis dalam struktur tersebut.

Fungsi Tongkonan juga melintasi batas hidup dan mati. Berdasarkan catatan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dalam buku Upacara Tradisional Daerah Sulawesi Selatan, Tongkonan menjadi tempat kelahiran, inisiasi, pernikahan, hingga kematian.

Jenazah tidak langsung dimakamkan, melainkan disemayamkan di dalam rumah sebagai ‘orang sakit’, menjadikan Tongkonan ruang perjumpaan antara yang hidup dan yang telah meninggal.

Dari sisi arsitektur, Tongkonan merupakan mahakarya teknik sipil tradisional yang lahir dari adaptasi terhadap alam rawan gempa. Bangunan ini tidak menggunakan fondasi kaku, melainkan sistem tumpuan geser dengan tiang yang diletakkan di atas batu pipih.

Saat gempa, struktur bergeser mengikuti gerakan tanah tanpa patah. Prinsip ini, menurut riset terbaru tahun 2025 tentang Tongkonan Ke’te Kesu, baru dikenal arsitektur modern pada abad ke-20.

Kerangka Tongkonan dirakit menggunakan pasak kayu dan simpul rotan tanpa paku logam. Material seperti bambu dan kayu uru dikenal tahan rayap dan lembap, bahkan semakin kuat seiring waktu.

Tata ruangnya mencerminkan kosmologi Aluk Todolo, membagi bangunan ke dalam tiga lapisan dunia: dunia bawah, dunia tengah, dan dunia atas.

Kolong rumah menjadi ruang musyawarah sekaligus kandang kerbau, hewan sakral yang dipercaya sebagai kendaraan arwah menuju Puya atau surga. Dunia tengah menjadi ruang hunian dengan pembagian sakral berdasarkan arah matahari, sementara dunia atas menyimpan pusaka dan melambangkan alam dewa serta leluhur.

Di bagian depan atap, deretan tanduk kerbau atau tulak somba menjadi penanda status sosial dan kemakmuran keluarga. Jumlah tanduk yang terpasang menunjukkan strata sosial pemilik Tongkonan. Sementara itu, alang atau lumbung padi yang berdiri berhadapan dengan Tongkonan berfungsi sebagai ruang jamuan dan tempat kehormatan bagi tamu adat.

Dalam filosofi Toraja, Tongkonan diposisikan sebagai ibu yang melindungi, sementara alang berperan sebagai bapak yang menopang kehidupan. Ukiran passura’ dengan warna hitam, merah, kuning, dan putih menghiasi bangunan, menyampaikan doa, harapan, dan pandangan hidup masyarakat Toraja.

Dengan runtuhnya Tongkonan Ka’pun, masyarakat Toraja kehilangan lebih dari sekadar bangunan tua. Yang hilang adalah satu simpul sejarah, memori kolektif, dan identitas budaya yang selama berabad-abad menjaga keseimbangan hidup komunitas.

Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news