Kondisi di depan Kantor Bupati langsung mencekam, saat massa Aliansi BPJS berhadapan dengan sekelompok pemuda yang berusaha menghalau jalannya aksi. (Ullah).KabarMakassar.com –- Gelombang unjuk rasa dilakukan Ratusan pemuda dan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Barisan Pejuang Jaminan Sosial (BPJS), didepan Kantor Bupati Jeneponto pada Kamis (5/2).
Para demonstran turun ke jalan untuk menyuarakan jeritan puluhan ribu rakyat miskin yang kehilangan hak jaminan kesehatannya atau Kartu Indonesia Sehat (KIS)
Aksi yang dipimpin oleh Jenderal Lapangan, Edy Subarga, ini menyoroti carut-marutnya sistem data kemiskinan yang dinilai merampas martabat kemanusiaan warga Jeneponto.
Dalam pernyataan sikapnya, Edy Subarga menegaskan bahwa aksi ini dipicu oleh banyaknya Kartu Indonesia Sehat (KIS) milik warga miskin yang dinonaktifkan secara sepihak oleh sistem yang disebut DESIL.
“DESIL mungkin terlihat rapi di atas kertas dan tabel statistik, tetapi di tengah masyarakat, sistem ini telah berubah menjadi alat yang merenggut hak hidup rakyat miskin,” tegas Edy dalam orasinya.
Aliansi menilai bahwa kriteria administratif telah mengalahkan realitas penderitaan rakyat kecil yang sedang berjuang melawan penyakit.
Berdasarkan dokumen pernyataan sikap yang diterima, Aliansi BPJS Jeneponto, Ia mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah konkret, di antaranya, Evaluasi Sistem DESIL:
“Kami mendesak pemerintah pusat dan daerah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penerapan sistem DESIL dalam penentuan penerima jaminan kesehatan,” harapnya.
Disamping itu, Edy juga menuntut pengaktifan kembali kartu KIS bagi warga miskin yang dinonaktifkan tanpa adanya verifikasi lapangan yang objektif.
Disisi lain, Ia juga mendesak Pemerintah Kabupaten Jeneponto menjamin akses pelayanan kesehatan cepat bagi masyarakat miskin terdampak, termasuk, pendataan ulang partisipatif.
“Kami meminta pendataan ulang yang melibatkan pemerintah desa/kelurahan, tokoh masyarakat, dan unsur independen agar data kemiskinan lebih akurat dan berkeadilan,” Serunya.
Usai menyampaikan orasinya, kondisi di depan Kantor Bupati langsung mencekam, saat massa Aliansi BPJS berhadapan dengan sekelompok pemuda yang berusaha menghalau jalannya aksi. Tampak, suasana berubah drastis menjadi tegang ketika kedua kubu saling adu mulut hingga nyaris terlibat baku hantam di pelataran parkir.
Beruntung, kericuhan tersebut tidak berlangsung lama. Personel kepolisian yang bersiaga di lokasi bergerak cepat melakukan barikade dan menghalau kedua kelompok massa sebelum bentrokan fisik meluas.
Situasi akhirnya dapat ditenangkan sehingga massa aksi bisa melanjutkan penyampaian aspirasinya. Aksi itu pun kemudian ditutup dengan seruan agar pemerintah sadar bahwa setiap data yang dikelola menyangkut nyawa manusia.
“Daerah yang besar bukan daerah yang hebat membuat data, tetapi daerah yang hebat melindungi rakyat kecilnya,” tutup Edy Subarga.


















































