OPINI: Provinsi Luwu Raya dan IHIP, Episentrum Ekonomi Baru Sulawesi

3 days ago 9
Provinsi Luwu Raya dan IHIP, Episentrum Ekonomi Baru SulawesiAbdul Mahendra Ketua Bidang Organisasi dan Kaderisasi PB Ipmil Raya Periode 2025-2027. (Dok; Ist)

Oleh Abdul Mahendra, Ketua Bidang Organisasi dan Kaderisasi PB IPMIL Raya Periode 2025-2027

KabarMakassar.com — Wacana pembentukan Provinsi Luwu Raya kini memasuki fase baru yang melampaui romantisme sejarah dan politik identitas.

Kehadiran PT Indonesia Huali Industry Park (IHIP) di Malili, Kabupaten Luwu Timur, sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan nilai investasi mencapai Rp 221 triliun, telah menggeser diskursus tersebut menjadi sebuah keniscayaan ekonomi.

Kawasan industri ini bukan sekadar proyek manufaktur berskala besar, melainkan jangkar transformasi struktural yang menempatkan Luwu Raya sebagai episentrum pertumbuhan baru di Indonesia Timur melalui hilirisasi nikel terintegrasi dan berdaya saing global.

Investasi masif PT IHIP sekaligus menjadi jawaban konkret atas syarat utama pembentukan daerah otonom baru, yakni kemampuan fiskal dan kemandirian ekonomi. Dengan proyeksi penyerapan hingga 45.000 tenaga kerja dan perputaran ekonomi bernilai triliunan rupiah per tahun, Luwu Timur diproyeksikan mengalami lonjakan signifikan dalam Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Lebih dari itu, hilirisasi memastikan nilai tambah sumber daya alam tidak lagi keluar daerah, melainkan berputar di kawasan sendiri untuk membiayai pembangunan infrastruktur, pelayanan publik, serta penguatan ekonomi wilayah. Efektivitas pengelolaan potensi ini akan jauh lebih optimal jika berada dalam satu entitas provinsi yang fokus, terintegrasi, dan memiliki rentang kendali pemerintahan yang lebih pendek.

Kekuatan strategis Provinsi Luwu Raya juga tercermin pada terbentuknya ekosistem ekonomi regional yang saling menopang. Kebutuhan pangan bagi puluhan ribu tenaga kerja industri di kawasan IHIP akan menjadikan hasil pertanian dan perikanan dari kabupaten-kabupaten tetangga sebagai suplai utama dan berkelanjutan.

Kabupaten Luwu, Luwu Utara, serta wilayah hinterland lainnya berpotensi menjadi pemasok utama beras, hortikultura, perikanan tangkap, hingga perikanan budidaya. Sementara itu, Kabupaten Enrekang akan memperkuat posisi sebagai lumbung pangan strategis kawasan, dan Toraja berperan sebagai pusat penyedia sumber daya manusia terampil sekaligus destinasi pariwisata berbasis budaya. Sinergi ini akan menciptakan rantai pasok regional yang kuat, mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah, serta memastikan stabilitas harga dan keberlanjutan ekonomi lokal.

Dalam konteks tersebut, pembentukan Provinsi Luwu Raya menjadi instrumen kelembagaan yang krusial untuk memperpendek rantang kendali koordinasi antara pusat industri di Luwu Timur dengan wilayah penyangga seperti Luwu, Luwu Utara, dan Kota Palopo. Dengan satu payung administrasi, sinkronisasi kebijakan pangan, perikanan, tenaga kerja, dan infrastruktur logistik dapat dilakukan secara terencana dan terpadu, tanpa terhambat oleh fragmentasi birokrasi lintas wilayah.

Lebih jauh, kehadiran PT IHIP juga menandai dimulainya transformasi sosial masyarakat Luwu Raya. Peralihan dari ekonomi primer menuju industri berbasis teknologi menuntut peningkatan kualitas sumber daya manusia lokal.

Program kolaborasi vokasi seperti Vocational Short-Term Training (VST) menjadi fondasi penting untuk melahirkan teknokrat lokal operator, supervisor, manajer, hingga wirausahawan yang mampu mengisi ruang dalam ekosistem industri dan jasa penunjangnya.

Dengan lebih dari 70 persen UMKM lokal mulai terhubung secara digital, peluang untuk masuk ke dalam rantai pasok industri nasional dan global semakin terbuka lebar, khususnya pada sektor pangan, logistik, jasa, dan pengolahan hasil pertanian serta perikanan.

Pada akhirnya, PT IHIP merupakan momentum emas yang memberikan legitimasi kuat bagi pembentukan Provinsi Luwu Raya. Kawasan industri ini menjadi jaminan bahwa provinsi baru nantinya tidak akan menjadi beban APBN, melainkan kontributor penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Inilah saatnya menggeser perjuangan dari politik identitas menuju politik kesejahteraan. Dengan IHIP sebagai motor industri, hasil pertanian dan perikanan kabupaten-kabupaten tetangga sebagai tulang punggung suplai, serta Toraja dan Enrekang sebagai mitra strategis, Provinsi Luwu Raya berpeluang besar tampil sebagai kekuatan ekonomi baru di Pulau Sulawesi berdaulat secara ekonomi dan sejahtera secara sosial.

Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news