Tangkapan Layar Perseturuan Guru Honorer dan Kepala Sekolah di Jeneponto. (Dok: Ist).KabarMakassar.com — Jagat maya dihebohkan dengan rekaman video berdurasi selama 2 menit 49 detik yang memperlihatkan adu argumen panas antara seorang guru honorer dan Kepala Sekolah (Kepsek) di SDN 7 Bontoramba, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.
Pertikaian tersebut berujung pada pemecatan sang guru secara lisan setelah memprotes kebijakan sekolah yang dianggap tidak adil.
Nasib pilu ini menimpa seorang guru perempuan yang telah mengabdi selama empat tahun. Dia mendadak didepak dari posisinya sebagai guru kelas dan dialihkan menjadi guru mata pelajaran Bahasa Inggris, posisi yang sama sekali tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya (PGSD).
Dalam video yang diterima Tim Kabarmakassar.com, terungkap bahwa pemicu utama konflik tersebut adalah penunjukan adik kandung sang Kepala Sekolah untuk mengisi posisi guru kelas yang sebelumnya diampu oleh korban.
Ironisnya, adik kepsek tersebut diketahui sudah lama tidak aktif sebagai tenaga honorer di sekolah tersebut. Namun, secara mengejutkan namanya muncul kembali dan dinyatakan lolos dalam seleksi PPPK Paruh Waktu (PPPK PW).
“Kenapa saya dialihkan ke Bahasa Inggris, padahal jurusan saya PGSD? Jangan seenaknya. Saya tidak mau kelas saya diambil,” tegas sang guru honorer dalam rekaman tersebut dengan nada penuh kekecewaan.
Ia juga menambahkan bahwa penunjukan tersebut dilakukan secara sepihak tanpa adanya konfirmasi atau pemberitahuan terlebih dahulu.
Situasi di dalam ruangan sekolah tersebut semakin memanas ketika sang Kepala Sekolah berdalih bahwa dirinya hanya menjalankan aturan sebagai pimpinan. Namun, saat guru honorer terus mempertahankan argumennya, sang kepsek tampak kehilangan kesabaran.
Sambil memainkan ponsel dan sesekali menatap tajam, sang kepsek terekam mengeluarkan kata-kata kasar dalam bahasa daerah.
“Accindong mako naung (silakan duduk)! Saya bisa kasi keluarko di sini karena kau masih honor. Kurang ajar sekali ini pendidik, tena nahargai a (tidak menghargai saya),” bentak Kepsek sembari memukul meja dengan keras.
Puncak ketegangan terjadi ketika sang kepala sekolah secara terbuka menyatakan pemberhentian guru honorer tersebut di depan kamera yang merekam secara sembunyi-sembunyi.
“Sekarang begini, kau berhenti jadi honor, saya keluarkanko, titik. Jangan melawan!,” tegas Kepsek sebelum akhirnya melangkah meninggalkan ruangan.
Hingga saat ini, video tersebut terus menjadi perbincangan hangat di masyarakat Jeneponto. Publik mengecam tindakan arogan sang kepala sekolah dan mendesak Dinas Pendidikan Kabupaten Jeneponto untuk turun tangan mengevaluasi dugaan praktik nepotisme serta prosedur pemecatan yang dianggap sewenang-wenang tersebut.
Sampai berita ini diturunkan, identitas kedua pihak masih dirahasiakan, dan awak media masih berupaya melakukan konfirmasi resmi kepada pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan terkait.
















































