Studi Ungkap Spons Cuci Piring Sarang Bakteri, Pakar Sarankan Ganti Setiap Pekan

1 month ago 17
Studi Ungkap Spons Cuci Piring Sarang Bakteri, Pakar Sarankan Ganti Setiap PekanIlustrasi Spons Cuci Piring, (Dok: Ist).

KabarMakassar.com — Meski tampak sepele, spons cuci piring yang digunakan sehari-hari di dapur ternyata bisa menjadi sumber kontaminasi bakteri yang serius.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa spons dapur yang telah digunakan menyimpan miliaran mikroba, termasuk jenis yang berpotensi membahayakan kesehatan, terutama bagi mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah.

Penelitian dari tim mikrobiologi Universitas Furtwangen di Jerman, yang dipublikasikan dalam Scientific Reports, menemukan bahwa spons dapur bekas dapat mengandung hingga 362 spesies mikroba, dengan total 54 miliar bakteri per sentimeter kubik. Jumlah tersebut disebut sebanding dengan konsentrasi bakteri pada tinja manusia.

“Ini mengejutkan. Bakteri dalam spons dapur mencapai angka yang sangat tinggi. Ini bukan hanya masalah kebersihan, tapi bisa menjadi masalah kesehatan,” ujar peneliti utama, Prof. Markus Egert, dikutip dari BBC, Minggu (27/07).

Lebih lanjut, lima dari sepuluh spesies bakteri yang ditemukan berpotensi menimbulkan infeksi pada orang dengan daya tahan tubuh rendah. Namun, para ahli menekankan bahwa tidak semua bakteri tersebut berbahaya.

“Sebagian besar bakteri pada spons tidak menyebabkan penyakit serius, namun mereka bisa menyebabkan bau tak sedap,” jelas Jennifer Quinlan, profesor keamanan pangan dari Universitas Prairie View A&M, AS. Menurutnya, bau tidak sedap menjadi tanda awal bahwa spons telah dipenuhi mikroba dan tidak lagi layak digunakan.

Pembersihan Spons Tak Cukup Efektif

Berbagai metode pembersihan spons, seperti mencucinya dengan air panas atau memanaskannya di microwave, ternyata belum cukup efektif untuk membunuh semua bakteri. Studi yang sama menyebutkan bahwa prosedur tersebut justru bisa menimbulkan seleksi alam mikroba, yakni hanya menyisakan jenis bakteri yang lebih tahan dan lebih cepat berkembang.

“Jika dilakukan berulang kali, metode ini justru membuat bakteri yang tersisa menjadi lebih resisten. Mereka bertahan, beradaptasi, dan terus berkembang,” kata Egert.

Artinya, meskipun terlihat bersih dan bebas dari kotoran, spons yang telah digunakan berulang tetap menyimpan potensi risiko yang tinggi. Hal ini menjadi penting karena spons langsung bersentuhan dengan peralatan makan dan dapur yang digunakan setiap hari.

Atas dasar temuan tersebut, para pakar menyarankan agar spons dapur sebaiknya diganti setiap minggu untuk mencegah penumpukan bakteri. Kebiasaan mengganti spons secara rutin diyakini lebih efektif menjaga kebersihan dapur daripada hanya mengandalkan metode sterilisasi.

“Spons sebaiknya tidak disimpan dalam kondisi basah atau diletakkan di dalam wastafel,” ujar Quinlan.

Ia menyarankan agar spons selalu dikeringkan setelah digunakan dan diperas dengan baik untuk menghilangkan sisa air dan makanan.

Alternatif lainnya adalah beralih ke sikat cuci piring, yang dinilai lebih higienis. Sikat lebih mudah dibersihkan, cepat kering, dan tidak perlu sering diganti. Menurut Egert, penggunaan sikat bisa menjadi solusi praktis dan efektif untuk mengurangi risiko kontaminasi mikroba di dapur.

Temuan ini memperkuat pentingnya kesadaran rumah tangga terhadap kebersihan alat-alat dapur. Spons yang tampak remeh ternyata bisa menjadi tempat berkembang biaknya miliaran bakteri, yang berisiko mencemari peralatan makan dan menurunkan kualitas sanitasi rumah.

Kini saatnya memeriksa kembali spons yang ada di rumah. Jika spons sudah mulai kusam, lembek, atau berbau, sebaiknya segera diganti. Langkah kecil ini bisa berdampak besar dalam menjaga kesehatan keluarga dan kualitas kebersihan makanan sehari-hari.

Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news