Siswa Kelas 4 SDN Nglindur, Krida (kiri) sedang menikmati makananan dalam uji coba makan bergizi gratis di SDN Nglindur, Kalurahan Nglindur, Girisubo, Gunungkidul, Kamis (12/12/2024). Harian Jogja - Andreas Yuda Pramono
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Fakultas Vokasi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengaku kesulitan menghidangkan makanan bergizi senilai Rp10.000 dalam program nasional makan bergizi gratis. Paling tidak, pemerintah perlu mengalokasikan anggaran Rp20.000 per anak untuk mendapat kelengkapan gizi.
Dekan Fakultas Vokasi UNY, Prof. Dr. Komarudin mengatakan Vokasi UNY siap membantu menyediakan makanan bergizi untuk program makan bergizi gratis pada 2025. Hingga saat ini, Vokasi UNY masih belum mendapat ajakan kerja sama dengan Pemerintah.
“Kalau Rp10.000 itu mau gizi seperti apa yang diharapkan. Harga barang-barang naik. Pemerintah perlu rasional,” kata Komarudin ditemui di SDN Nglindur, Girisubo, Kamis (12/12/2024).
BACA JUGA: Soal Anggaran Makan Bergizi Gratis Rp10.000 Perporsi, Ini Kata Ahli Gizi UGM
Komarudin mengaku paling tidak alokasi per anak untuk mendapat makanan bergizi mencapai Rp20.000. Apabila ada kerja sama antara Vokasi UNY dengan Pemerintah, maka UNY dapat menghitung dan memantau kecukupan gizi anak selam lima tahun ke depan.
Standar gizi anak per hari yaitu 1.800 kilokalori (kkal). Apabila sehari makan tiga kali, maka sekali makan anak perlu mendapat 600 kilokalori - 700 kkal. Meski belum ada kerja sama dengan Pemerintah, Vokasi UNY ikut membantu Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) DIY dalam menggelar uji coba makan bergizi gratis di SD Negeri (SDN) Nglindur, Girisubo pada Kamis (12/12/2024).
Dalam uji coba ini, Vokasi UNY menghidangkan makanan senilai Rp28.000 - Rp30.000 dengan isi lauk ikan, nasi, sayur, dan buah pisang emas. Satu hidangan tersebut memiliki gizi sekitar 846 kkal.
Rincian informasi nilai gizi makanan tersebut, yaitu kalori 846,7 gram (g); lemak 15,2 g; karbo 148,6 g; dan protein 29,8 g. Dari nilai tersebut, lauk ikan cakalang sarden memiliki nilai gizi kalori 131,3 kkal; lemak 3 g; karbo 6,4 g; dan protein 18,8 g.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) DIY, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Wironegoro mengatakan uji coba makan bergizi gratis tersebut merupakan wujud dukungan terhadap program makan bergizi gratis yang akan digelar awal 2025.
“Kami menggunakan ikan tangkapan laut selatan dan tinjauan gizi yang dibantu UNY. Potensi laut selatan banyak, dan Girisubo tidak jauh dari pesisir, suplai ikan di Gunungkidul berlimpah, ikan jadi salah satu penyumbang protein,” kata KPH Wironegoro.
BACA JUGA: Program Makan Bergizi Gratis Dapat Mengajarkan Anak Tidak Boros
KPH Wironegoro mengaku dia akan melibatkan pengusaha yang ada di Gunungkidul untuk membantu dalam menyediakan makanan bergizi gratis. Pemantauan gizi anak selama lima tahun akan membantu dalam pengembangan sumber daya manusia.
Dia juga menegaskan pasokan ikan dari Gunungkidul dapat mengkover kebutuhan program di Gunungkidul. Hanya, perlu penyimpanan freezer yang mumpuni guna menyetok ikan. Ikan juga dapat diolah menjadi abon yang lebih awet.
”Freezer memang belum memadai. Tapi kita punya UNY. Hanya butuh kolaborasi saja. Saya mewakili pemimpin kultur, menurut saya, Pemerintah Pusat dan Daerah masih perlu ngobrol untuk implementasi program ini,” katanya.
Calon Bupati Gunungkidul Terpilih, Endah Subekti Kuntariningsih mengatakan program makan bergizi gratis perlu dilakukan dengan memberdayakan nelayan dan petani yang ada di Bumi Handayani sebagai penyuplai bahan baku.
Selain dari kesiapan program, Endah mengaku perlu penyiapan infrastruktur dalam menunjang pelaksanaan program andalan Presiden Prabowo tersebut.
“Makan bergizi harus ada takaran yang jelas dan wujudnya. Kami akan mendukung potensi sumber daya alam di Gunungkidul yang luar biasa dan sarpras coldstorage untuk ikan. Gemar makan ikan perlu digaungkan lagi,” kata Endah.
Kepala SDN Nglindur, Mardiyana mengatakan jumlah siswa di SDN Nglindur pada 2024 ada 74 orang. Makan bergizi gratis nantinya akan membantu para siswa dalam memproses informasi yang mereka dapat di ruang kelas.
Menurut Mardiyana, cukup banyak siswa yang tidak membawa bekal dan memilih jajan di luar sekolah. Hal ini membuat dia khawatir mengenai kecukupan gizi anak. “Makan saja kebanyakan hanya mie instan. Anak-anak juga berasal dari perekonomian menengah ke bawah. Jadi perlu makan bergizi gratis,” kata Mardiyana.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News