Newswire Senin, 31 Agustus 2026 16:47 WIB

Foto ilustrasi industri sepatu. - Foto dibuat oleh AI/Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Industri kulit dan alas kaki menjadi satu-satunya subsektor di bawah Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang mengalami kontraksi pada Agustus 2026.
Sekretaris Direktorat Jenderal IKFT Kemenperin Sri Bimo Pratomo mengatakan pelemahan tersebut terutama dipengaruhi ketidakpastian permintaan, baik dari pasar ekspor maupun domestik.
“Satu-satunya yang kontraksi adalah industri kulit dan alas kaki,” ujar Bimo dalam pemaparan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Agustus 2026, Senin (31/8/2026).
Menurut Bimo, hambatan jalur perdagangan serta kondisi geopolitik di Amerika Serikat turut memengaruhi industri alas kaki nasional. Amerika Serikat merupakan tujuan ekspor terbesar produk alas kaki Indonesia.
Kondisi tersebut membuat pesanan ekspor industri alas kaki menjadi tidak stabil. Tekanan juga datang dari pasar dalam negeri, terutama bagi industri alas kaki yang berorientasi memenuhi kebutuhan domestik.
Konsumsi Pakaian dan Alas Kaki Melambat
Bimo menjelaskan kontraksi industri alas kaki sejalan dengan perlambatan konsumsi masyarakat terhadap pakaian dan alas kaki.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan konsumsi pakaian dan alas kaki melambat dari 5,99% menjadi 3,52%.
“IKI alas kaki kontraksi yang dalam pada industri yang tidak orientasi ekspor, jadi yang berorientasi produksi untuk dalam negeri,” sebutnya.
Meski mengalami kontraksi, Bimo melihat masih terdapat peluang bagi industri alas kaki untuk kembali tumbuh. Salah satunya berasal dari momentum Lebaran yang diharapkan mampu mendorong permintaan pakaian dan alas kaki.
Peluang lain datang dari implementasi Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Perjanjian tersebut dinilai dapat membuka akses yang lebih besar bagi produk kulit dan alas kaki Indonesia ke pasar Eropa.
Bimo mengatakan akses pasar dengan tarif yang lebih rendah menjadi peluang penting untuk meningkatkan daya saing produk alas kaki nasional di Uni Eropa ketika IEU-CEPA mulai diimplementasikan pada 2027.
“Ini merupakan suatu peluang yang sangat besar sekali, terutama untuk industri kulit dan alas kaki, karena kita melihat potensi ekspor kita ke Uni Eropa ini cukup besar,” katanya.
Industri Disiapkan Tembus Pasar Eropa
Menurut Bimo, industri nasional perlu memanfaatkan implementasi IEU-CEPA untuk memperluas pasar ekspor. Namun, peluang tersebut juga disertai tantangan berupa standar produk yang relatif ketat di Uni Eropa.
Kemenperin kini menyiapkan industri di bawah binaan Ditjen IKFT, khususnya industri kulit dan alas kaki, agar mampu memenuhi berbagai standar yang berlaku di pasar Eropa.
Di tengah kontraksi industri alas kaki, sejumlah subsektor lain di bawah Ditjen IKFT masih mencatat ekspansi pada Agustus 2026.
Industri tekstil dan pakaian jadi tetap ekspansif meski terjadi perubahan preferensi konsumen dari produk fast fashion menuju produk yang lebih awet dan ramah lingkungan.
Industri bahan kimia juga berada dalam fase ekspansi yang ditopang kenaikan pesanan dan produksi serta meningkatnya permintaan pasar ekspor.
Sementara itu, industri karet, barang karet dan plastik turut mengalami ekspansi. Namun, Bimo menyoroti tekanan produk impor terhadap industri plastik hilir domestik.
Sebagian besar produk plastik hilir masih tergolong barang bebas dan belum dikenakan kebijakan larangan dan pembatasan. Akibatnya, produk plastik impor relatif mudah masuk ke pasar domestik.
Kondisi tersebut membuat penyerapan produksi industri plastik hilir nasional masih sangat dipengaruhi harga dan daya saing terhadap produk impor.
"Kemudian meningkatnya persediaan produk plastik mengindikasikan belum optimalnya penyerapan pasar yang antara lain dipengaruhi oleh persaingan produk impor," tambah Bimo.
Di sisi lain, industri barang galian nonlogam juga masih mencatat ekspansi. Kondisi itu terutama ditopang peningkatan pesanan dan produksi pada sektor semen, keramik, dan kaca lembaran.
Namun, peningkatan produksi turut diikuti kenaikan persediaan. Tantangan yang masih dihadapi industri sektor tersebut meliputi penyerapan pasar, kelancaran distribusi, serta kepastian pasokan energi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com

2 hours ago
2
















































