Laskar Pelangi dan Jejak yang Tertinggal

1 month ago 26
Laskar Pelangi dan Jejak yang Tertinggal Tangkapan Layar Dialog Arum Spink, Wali Kota Makassar Periode 2021-2024 Danny Pomanto dan Warga penerima Manfaat Laskar Pelangi, (Dok: Kabar Makassar).

KabarMakassar.com — Di tengah kompleksitas kota besar dan derasnya arus pembangunan, kisah sederhana seperti yang dialami Asrullah Dimas menjadi potret keberhasilan sebuah kebijakan berbasis kerakyatan.

Asrullah, warga yang kini menyelesaikan pendidikan hingga jenjang S2, mengaku perjalanan hidupnya tak akan seperti sekarang tanpa kehadiran program Laskar Pelangi program inovatif Pemerintah Kota Makassar yang dulu memberi kesempatan kerja bagi masyarakat kecil, terutama yang berstatus non-ASN.

“Saya berasal dari kampung di wilayah selatan. Orang tua saya tidak sanggup biayai kuliah. Tapi saya kerja nyapu jalan, subuh-subuh jadi pasukan orange. Itu bagian dari Laskar Pelangi,” kenang Asrullah, saat live tiktok di cerita ceria bersama Arum Spink dan Wali Kota Makassar Periode 2021-2024, Danny Pomanto, Senin (07/07) malam.

Ia bergabung sejak 2014 dan bertahan hingga 2022, menggunakan upahnya untuk menyicil motor, membayar uang kuliah, hingga membeli buku. “Saya bisa S1 dan S2 karena program itu. Bukan hanya memberi kerja, tapi membuka jalan keluar dari kemiskinan,” katanya.

Asrullah menyebut dirinya bukan satu-satunya. Ia menyaksikan banyak anak muda sepertinya yang terbantu secara ekonomi dan mental karena diberi ruang untuk bekerja dan belajar.

“Di situ kita bukan hanya menyapu jalan. Kita belajar disiplin, menghargai uang halal, dan merasa dihargai. Program ini menyentuh langsung. Banyak dari kami yang kini hidup mandiri. Tapi sekarang sayangnya program itu sudah tidak terdengar lagi,” tambahnya.

Program Laskar Pelangi diluncurkan oleh Wali Kota Makassar periode 2021–2024, Moh. Ramdhan ‘Danny’ Pomanto, sebagai respons atas kekurangan tenaga ASN di lingkungan pemerintahan setelah larangan pengangkatan tenaga kontrak diberlakukan.

Dalam kondisi krisis tenaga kerja dan tingginya angka pengangguran, program ini hadir sebagai solusi. Nama ‘Laskar Pelangi’ merupakan akronim dari Laskar Pelayanan Publik Berintegritas, sekelompok warga yang diorganisasi untuk membantu pekerjaan layanan publik seperti kebersihan, administrasi kelurahan, hingga keamanan lingkungan.

“Mereka bukan ASN, tapi rakyat yang kami libatkan secara langsung dalam sistem kota. Kalau kota ini maju, mereka juga ikut maju. Kalau Pendapatan Asli Daerah naik, gaji mereka naik. Saya ingin rakyat menjadi pemilik kota, bukan penonton,” jelas Danny.

Ia menambahkan bahwa sejak awal, Laskar Pelangi didesain dengan skema kesejahteraan progresif, gaji awal Rp250 ribu meningkat menjadi Rp2,5 juta, ditambah jaminan BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan.

Namun di balik keberhasilan tersebut, kini terselip keprihatinan. Setelah masa kepemimpinan Danny berakhir, program ini tidak lagi dilanjutkan oleh pemerintahan baru. Danny mengaku sedih melihat program yang dibangun dari bawah itu kini perlahan hilang.

“Saya lihat sudah tidak ada lagi. Sayang sekali. Padahal ini bukan cuma program kerja, tapi fondasi sosial. Banyak yang kuliah, bangun usaha, bahkan jadi tulang punggung keluarga dari program ini,” ungkapnya.

Laskar Pelangi tak sekadar menciptakan lapangan kerja, tetapi membentuk jaringan sosial dan komunitas yang kuat. Peneliti dari luar negeri bahkan mencatat kekuatan komunitas pendidikan di Makassar, berkat adanya lorong-lorong binaan, pasukan merah, dan Laskar Pelangi yang menyatu dalam ekosistem sosial kota.

“Fungsi kota bukan hanya teknis, tapi juga sosial. Ketika warga terlibat langsung dalam mengelola kotanya, di situlah nilai kepemimpinan kita nyata,” kata Danny.

Mendengarkan kalimat yang disampaikan Danny Pomanto, Kini, Asrullah hanya bisa berharap. “Saya tahu, Pak Danny itu pemimpin yang visioner. Kami berharap, kalau pun tidak lagi menjabat, beliau tetap bisa memperjuangkan suara masyarakat seperti kami,” ujarnya.

Ia juga berharap siapa pun pemimpin ke depan bisa melihat nilai kemanusiaan yang terkandung dalam program seperti Laskar Pelangi. “Program ini bukan hanya soal menyapu jalan. Tapi menyapu habis keputusasaan dan menggantinya dengan harapan,” tutupnya.

Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news