IHSG Terancam Anjlok! ImbasbPerang Dagang AS dan Libur Panjang BI

20 hours ago 5

KabarMakassar.com — Ketidakpastian global kembali menghantui pasar keuangan, khususnya di Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan mengalami tekanan yang lebih dalam seiring dengan rencana Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang dikabarkan akan mengumumkan kebijakan perang dagang pada esok hari.

Langkah ini diambil sebagai respons terhadap praktik dagang yang dianggap tidak adil oleh pemerintahannya. Keputusan tersebut berpotensi memicu gejolak di berbagai sektor ekonomi dunia, termasuk di Indonesia. Dengan adanya kebijakan ini, para investor dan pelaku pasar pun mulai mengantisipasi berbagai kemungkinan yang dapat terjadi pasca-pengumuman Trump.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyoroti bahwa kondisi ini dapat berdampak signifikan pada pergerakan pasar saham dan nilai tukar rupiah. Ia memperkirakan bahwa saat pasar kembali dibuka pada 8 April 2025, IHSG berisiko mengalami penurunan lebih lanjut, sementara dolar AS terus menunjukkan penguatan.

Menurutnya, faktor global seperti ketegangan perdagangan internasional selalu memiliki dampak besar terhadap stabilitas ekonomi domestik, terutama dalam kondisi ekonomi yang masih rentan. Investor global yang memiliki portofolio di negara berkembang, termasuk Indonesia, kemungkinan akan menarik modal mereka sebagai bentuk antisipasi terhadap gejolak pasar.

“Masalah perang dagang yang diumumkan pada 2 April ini sudah saya prediksi sejak lama. Dengan defisit fiskal yang kemungkinan besar akan melebar, kita harus siap menghadapi dampaknya. Saya tidak sepakat jika ada anggapan bahwa IHSG akan langsung mengalami penguatan saat pembukaan nanti. Faktor eksternal masih sangat mendominasi pergerakan pasar, sehingga kita harus tetap waspada terhadap dinamika yang berkembang,” ungkap Ibrahim.

Tak hanya IHSG yang berpotensi melemah, nilai tukar rupiah juga diproyeksi akan mengalami tekanan karena belum adanya intervensi dari Bank Indonesia (BI), yang masih dalam masa libur panjang.

Kondisi ini memperparah situasi karena pelaku pasar tidak memiliki jaminan kestabilan yang biasa diberikan oleh bank sentral melalui intervensi di pasar valuta asing. Jika rupiah terus melemah dalam beberapa hari ke depan, dampaknya dapat meluas ke sektor impor dan inflasi dalam negeri.

“BI saat ini tidak melakukan intervensi di pasar, sehingga ada kemungkinan besar rupiah akan melemah. Apakah penurunannya akan mendekati level Rp 17 ribu per dolar AS atau tidak, kita masih harus menunggu perkembangan perdagangan internasional. Namun, pada Rabu (02/04), kita bisa mendapatkan gambaran lebih jelas terkait pergerakan rupiah. Jika BI tidak segera mengambil langkah strategis setelah libur berakhir, dampak negatifnya bisa lebih besar dari yang diperkirakan,” kata Ibrahim.

Selain itu, ketidakpastian yang ditimbulkan oleh kebijakan Trump juga menimbulkan pertanyaan apakah Indonesia akan terdampak langsung dalam perang dagang ini. “Saat ini, Indonesia tengah menghadapi tantangan ekonomi yang cukup berat, dan jika kebijakan ini turut menyasar Indonesia, maka pemerintah harus bersiap memberikan respons yang cepat dan tepat.

Jika Indonesia masuk dalam daftar negara yang dianggap surplus dalam perdagangan dengan AS, bukan tidak mungkin kita akan menghadapi hambatan tarif yang lebih tinggi. Hal ini akan berdampak langsung pada sektor ekspor nasional yang selama ini bergantung pada pasar luar negeri,” tambahnya.

Di sisi lain, aktivitas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih dalam masa libur sejak 28 Maret hingga 8 April 2025. Keputusan ini diambil untuk menyesuaikan dengan Hari Suci Nyepi dan perayaan Idulfitri 1446 Hijriah, yang bertepatan dengan cuti bersama.

Libur panjang ini telah memperlambat aktivitas di pasar keuangan domestik, sehingga reaksi terhadap kebijakan perdagangan internasional baru akan terlihat setelah libur usai.

Meskipun demikian, para pelaku pasar tetap memperhatikan perkembangan ekonomi global selama periode libur, mengingat volatilitas yang tinggi dapat memberikan dampak signifikan terhadap perdagangan saham di Indonesia. Dengan ketidakpastian global yang meningkat, para investor dalam negeri diharapkan tidak panik dan tetap mempertimbangkan strategi jangka panjang dalam berinvestasi.

Sebelumnya, IHSG sempat mengalami tekanan signifikan, bahkan jatuh hingga menyentuh level terendahnya di 6.011,8 pada 18 Maret 2025. Kondisi tersebut membuat BEI harus mengambil tindakan dengan menghentikan sementara perdagangan melalui sistem Jakarta Automated Trading System (JATS) guna meredam kepanikan investor.

Langkah ini diambil sebagai bentuk mitigasi risiko yang bertujuan untuk menstabilkan pasar dan mencegah aksi jual besar-besaran yang dapat semakin memperburuk kondisi IHSG. Kebijakan trading halt ini dianggap cukup efektif dalam mencegah kepanikan yang lebih luas, meskipun tidak dapat sepenuhnya menghilangkan dampak negatif dari tekanan pasar global.

Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad, turut menanggapi situasi ini dengan menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah merencanakan pertemuan dengan para investor pasar modal setelah perayaan Lebaran.

“Pertemuan ini sudah direncanakan dan pasti akan berlangsung setelah Lebaran. Presiden ingin memastikan bahwa para investor memiliki kepastian terkait kebijakan ekonomi pemerintah pasca-libur panjang,”.

Langkah ini diharapkan dapat memberikan kepercayaan bagi investor dan mendorong stabilitas di pasar keuangan domestik.

Meski IHSG sempat terpuruk, Dasco tetap optimistis bahwa pasar saham Indonesia akan bangkit kembali setelah libur panjang.

“Setelah libur, IHSG akan naik lagi, ini akan menjadi momentum positif bagi pasar. Kami berharap bahwa investor tetap tenang dan menunggu langkah-langkah yang akan diambil oleh pemerintah dalam menghadapi kondisi ekonomi global ini,” katanya dengan penuh keyakinan.

Optimisme ini didasarkan pada asumsi bahwa pemerintah akan segera mengambil langkah-langkah strategis untuk menstabilkan kondisi pasar dan meredam dampak dari kebijakan perdagangan AS yang berpotensi merugikan Indonesia.

Dengan berbagai faktor yang berperan dalam dinamika pasar, investor diharapkan tetap waspada terhadap perkembangan global dan domestik. Keputusan yang diambil oleh pemerintah dan otoritas keuangan akan sangat menentukan bagaimana pasar bereaksi setelah kembali dibuka.

Para pelaku pasar pun menanti langkah konkret pemerintah dalam mengantisipasi dampak dari kebijakan perdagangan internasional yang akan diumumkan oleh Trump.

Sementara itu, perhatian juga tertuju pada bagaimana Bank Indonesia akan merespons kondisi ini setelah libur panjang berakhir. Semua pihak berharap bahwa strategi yang diterapkan dapat menjaga kestabilan ekonomi nasional dalam menghadapi ketidakpastian global yang terus meningkat.

Jika langkah antisipasi yang diambil pemerintah cukup efektif, maka dampak negatif dapat diminimalisir dan pasar keuangan Indonesia dapat kembali stabil dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news