Mendikdasmen Larang Anak Main Roblox

3 weeks ago 14
Mendikdasmen Larang Anak Main RobloxPoster Roblox, (Dok: Ist).

KabarMakassar.com — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengeluarkan peringatan tegas kepada para orang tua dan satuan pendidikan terkait bahaya permainan digital Roblox bagi anak-anak usia sekolah dasar.

Ia menyatakan bahwa game daring tersebut tidak layak dimainkan oleh anak di bawah umur karena mengandung banyak adegan kekerasan, serta potensi dampak psikologis dan sosial yang serius bagi peserta didik.

“Tingkat intelektualitas anak SD belum memadai untuk membedakan antara adegan nyata dan fiksi digital. Mereka adalah peniru ulung, dan itu yang paling berbahaya dari pengaruh game seperti Roblox,” ujar Abdul Mu’ti dalam keterangannya, Kamis (07/8).

Larangan ini diperkuat oleh temuan riset terkini dari lembaga Revealing Reality, yang bekerja sama dengan sejumlah pakar perilaku digital. Penelitian tersebut menyoroti bahwa Roblox tidak hanya memfasilitasi kekerasan digital, tetapi juga membuka ruang interaksi langsung antara anak-anak dan orang dewasa tanpa pengawasan atau verifikasi usia yang efektif.

Dalam studi yang dilakukan, tim peneliti membuat akun-akun fiktif dengan usia pengguna yang bervariasi, mulai dari 5, 9, 10, 13 tahun hingga orang dewasa di atas 40 tahun. Seluruh akun tersebut digunakan hanya dalam lingkup eksperimen dan tidak berinteraksi dengan pemain lain secara publik, untuk memastikan hasil tetap objektif.

Hasilnya mencengangkan. Anak berusia lima tahun yang terdaftar di Roblox dapat mengakses ruang obrolan publik, menjalin percakapan dengan orang dewasa, dan memasuki lingkungan dalam game yang mengandung konten seksual eksplisit. Salah satu temuan yang paling memprihatinkan adalah avatar berusia 10 tahun yang bisa masuk ke dalam ruangan bergaya hotel, di mana terdapat karakter perempuan mengenakan pakaian sugestif yang menari di atas tempat tidur, serta avatar lain yang saling berbaring dalam posisi seksual.

“Kami juga menemukan ruang kamar mandi umum yang memungkinkan avatar buang air kecil, serta aksesori bertema fetish yang bisa dipilih oleh karakter anak-anak,” tulis laporan tersebut yang dikutip dari The Guardian, Selasa (15/4) lalu.

Tak hanya itu, para peneliti melaporkan bahwa fitur obrolan suara di Roblox menyimpan risiko yang jauh lebih tinggi. Meskipun hanya tersedia untuk akun yang diverifikasi sebagai milik pengguna berusia 13 tahun ke atas, fitur ini tetap memungkinkan anak-anak mendengar suara-suara seperti desahan, ciuman, dan percakapan yang mengandung konten seksual, berkat kelemahan dalam sistem verifikasi dan moderasi.

“Obrolan suara diklaim dimoderasi oleh AI secara real time, namun kami tetap menemukan konten berbahaya lolos dari pengawasan,” jelas para peneliti.

Mereka juga menemukan kasus di mana akun dewasa meminta detail Snapchat dari avatar anak lima tahun, menggunakan bahasa yang nyaris tanpa kode, tapi jelas ditujukan untuk memancing kontak pribadi di luar platform.

Meskipun Roblox sempat memperbarui pengaturannya pada November tahun lalu, di mana akun anak di bawah 13 tahun tidak lagi bisa mengirim pesan pribadi di luar permainan dan hanya bisa melihat pesan siaran publik, laporan tersebut menyebut perubahan ini belum cukup.

“Kontrol keamanan yang ada saat ini masih sangat terbatas efektivitasnya, dan masih ada risiko signifikan bagi anak-anak di platform tersebut,” tegas mereka.

Larangan dari Abdul Mu’ti ini menjadi peringatan keras di tengah meningkatnya prevalensi kecanduan gim dan paparan konten berbahaya pada anak usia dini, terutama dalam ruang digital yang sulit dikendalikan orang tua.

Pakar pendidikan dan psikologi anak telah lama menyuarakan perlunya regulasi dan pengawasan ketat terhadap platform hiburan digital yang ditujukan bagi anak-anak. Namun dalam kasus Roblox, dengan pengguna aktif lebih dari 70 juta anak-anak di seluruh dunia, masalah ini menjadi tantangan global yang tak bisa diselesaikan hanya lewat fitur pengaturan akun.

“Kami minta orang tua tidak menyerahkan sepenuhnya pengasuhan digital anak pada platform. Roblox bukan hanya game. Ia bisa menjadi ruang berisiko tinggi untuk kekerasan, pelecehan, dan kecanduan yang sulit dikenali di awal,” tegas Mendikdasmen.

Dengan kasus ini, Kementerian Pendidikan tengah menyusun pedoman nasional penggunaan perangkat digital di kalangan anak usia dini dan sekolah dasar, yang akan mengatur jenis konten, waktu bermain, serta tanggung jawab sekolah dan keluarga dalam memberikan literasi digital yang aman.

Roblox Corporation belum mengeluarkan tanggapan resmi terkait laporan ini, namun perusahaan sebelumnya telah mengklaim bahwa mereka berkomitmen terhadap keamanan anak-anak dan terus mengembangkan sistem moderasi berbasis kecerdasan buatan.

Meski demikian, menurut para peneliti, selama pengawasan manusia tidak diperkuat dan pengendalian akses tidak diberlakukan dengan verifikasi usia yang valid, platform seperti Roblox akan terus menjadi ladang subur bagi konten kekerasan, seksual, dan predator daring yang mengincar anak-anak.

Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news