Siapa Saja yang Tidak Wajib Berpuasa? Ini Penjelasannya

13 hours ago 5

banner 468x60

KabarMakassar.com — Perlu diketahui, bahwa tidak semua orang diwajibkan untuk melaksanakan puasa. Dilansir dari laman resmi NU online, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi bagi orang yang berpuasa.

Kalau tidak memenuhi persyaratan tersebut, kewajiban puasa tidak berlaku baginya dan tidak berdosa meninggalkannya.

Pemprov Sulsel

Abdul Wahab As-Sya’rani dalam Mizanul Kubra mengatakan:

واتفق الأئمة الأربعة على أنه يتحتم صومه على كل مسلم بالغ عاقل طاهر مقيم قادر على الصوم

Artinya: “Ulama empat madzhab menyepakati kewajiban puasa bagi muslim baligh, berakal, suci, mukim, dan mampu berpuasa.”

Menurut penjelasan ini, orang yang tidak termasuk dalam kategori ini tidak diwajibkan puasa. Contohnya, anak kecil yang belum baligh, orang gila, perempuan yang sedang haidh, atau orang tua yang sudah tidak mampu untuk berpuasa.

Kendati anak kecil tidak diwajibkan puasa, para ulama tetap menganjurkan mereka untuk puasa. Abdul Wahab As-Sya’rani menjelaskan:

واتفقوا على أن الصبي الذي لا يطيق الصوم والمجنون المطبق جنونه غير مخاطبين به لكن يؤمر به الصبي لسبع ويضرب عليه لعشر

Artinya: “Ulama sepakat anak kecil yang tidak mampu puasa dan orang gila permanen tidak diwajibkan puasa. Tapi anak kecil diminta puasa bila berumur tujuh tahun dan dipukul bila tidak mau puasa ketika umur sepuluh tahun.”

Anjuran memerintahkan anak kecil puasa tersebut disamakan dengan anjuran shalat. Hal ini sebagaimana dikatakan Rasulullah SAW:

مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

Artinya: “Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka saat usia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka.”

Sehingga, walau sebenarnya anak kecil yang belum baligh tidak diwajibkan puasa. Namun, mereka tetap dianjurkan puasa semampunya sebagai ajang latihan.

Jika orangtua berniat untuk mengajarkan anak berpuasa, mereka sebaiknya tidak langsung mengharapkan anak untuk berpuasa penuh dari awal.

Sebagai gantinya, orangtua bisa mengajarkan anak untuk berpuasa secara perlahan, dengan cara yang disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak.

Pendekatan bertahap ini akan membantu anak untuk dapat beradaptasi dengan lebih baik, tanpa merasa tertekan atau mengalami kesulitan yang berlebihan.

Untuk membantu orangtua dalam mengajarkan anak berpuasa dengan cara yang lebih efektif dan menyenangkan, terdapat beberapa tips atau langkah yang bisa diterapkan.

1. Ajarkan anak pada usia tepat

Sebagai orangtua, sangat penting untuk mengevaluasi apakah anak telah siap untuk menjalankan puasa sebelum mulai mengajarkannya.

Disarankan agar orangtua memperkenalkan puasa kepada anak menjelang masa pubertas atau setidaknya ketika anak mencapai usia 6 hingga 7 tahun, namun keputusan ini tetap harus disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing anak.

Oleh sebab itu, usia anak untuk mulai belajar berpuasa sebenarnya bisa bervariasi, tergantung pada kesiapan anak dan keputusan orangtua. Selain itu, orangtua sebaiknya menanamkan motivasi yang positif pada anak, tanpa memberikan tekanan sehingga anak bisa berpuasa dengan sukarela.

Dengan cara ini, anak dapat melaksanakan ibadah puasa tanpa paksaan, sementara orangtua tetap dapat memberikan bimbingan dan dukungan selama proses tersebut.

2. Beri pemahaman yang tepat

Cara mengajarkan anak untuk berpuasa sejak awal ialah dengan memberikan penjelasan yang jelas dan sesuai. Jelaskan dengan sederhana mengapa umat Islam diwajibkan berpuasa selama bulan Ramadan.

Ketika memberikan penjelasan, pastikan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak agar mereka lebih cepat memahami alasan di balik ibadah puasa tersebut.

3. Lakukan secara bertahap

Untuk membantu anak terbiasa menjalankan puasa, prosesnya sebaiknya dilakukan dengan bertahap. Mengingat bahwa puasa seharian mungkin terasa berat bagi anak-anak, terutama di awal, maka perkenalan dengan puasa sebaiknya dimulai dengan durasi yang lebih pendek.

Sebagai langkah pertama, orangtua dapat mengajarkan anak untuk berpuasa setengah hari, misalnya dari pagi hingga waktu makan siang.

Setelah anak terbiasa dengan durasi tersebut, orangtua bisa perlahan menambah waktu puasa, baik secara bertahap maupun sesuai kemampuan anak, hingga akhirnya anak mampu berpuasa sampai sore hari.

Tetapi, pada tahap ini, sangat penting untuk tidak memaksa anak untuk berpuasa penuh jika mereka belum mampu, karena hal itu bisa berdampak negatif terhadap kesehatan anak.

Selain itu, tekanan yang berlebihan untuk berpuasa dapat membuat anak merasa tidak nyaman, bahkan bisa menyebabkan anak merasa tidak suka dengan puasa atau berpotensi berbohong mengenai keadaannya.

Dianjurkan kepada orangtua memberikan pengertian dan dukungan yang penuh kasih agar anak dapat menjalankan puasa dengan semangat tanpa adanya paksaan.

4. Jadi panutan atau contoh untuk anak

Sebagai orangtua, anda tentu menyadari bahwa anak-anak memiliki kemampuan luar biasa dalam meniru perilaku orang di sekitarnya, terkhususnya orangtua mereka.

Anak-anak cenderung mengamati dengan seksama setiap tindakan orangtua, mendengarkan setiap kata yang diucapkan, juga memproses segala hal yang mereka lihat dan dengar.

Oleh sebab itu, untuk membantu anak terbiasa dengan ibadah puasa, anda dapat memberikan contoh yang baik dan menunjukkan kepada mereka bagaimana anda menjalani puasa.

Anda dapat berbagi cerita dengan anak mengenai pengalaman selama berpuasa, mulai dari tantangan yang dihadapi hingga bagaimana cara anda menghadapinya.

Dengan melakukan hal ini, maka anak dapat melihat langsung contoh nyata dari orangtua mereka dan memahami bagaimana seharusnya menjalankan ibadah puasa dengan penuh pengertian dan kesungguhan.

5. Bantu anak bersiap jalankan puasa

Salah satu cara efektif untuk mengajarkan anak puasa sejak usia dini adalah dengan memberikan kesempatan kepada anak dalam mencoba berpuasa sendiri. Tetapi, perlu diingat bahwa dalam proses ini, orangtua harus tetap bersabar dan memberikan dukungan yang berkelanjutan.

Ketika anak mulai berhasil berpuasa, walaupun hanya setengah hari, sangat penting untuk menghargai usaha mereka dengan cara yang positif.

Memberikan apresiasi pada setiap pencapaian kecil mereka akan semakin memotivasi anak untuk terus belajar serta berusaha lebih baik dalam menjalankan ibadah puasa.

Mengingat bahwa puasa bisa menjadi tantangan tersendiri bagi anak-anak, orangtua sebaiknya dapat memberi dorongan yang penuh kasih dan semangat.

Ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk memberikan penghargaan kepada anak atas usaha mereka.

Salah satunya adalah dengan memuji anak di depan anggota keluarga lain sebagai bentuk pengakuan atas pencapaian mereka. Selain itu, orangtua juga dapat menjanjikan hadiah sebagai bentuk penghargaan atas keberhasilan anak dalam berpuasa.

Hadiah tersebut bisa berupa barang yang diinginkan anak atau makanan favorit mereka yang bisa dinikmati ketika berbuka puasa, sehingga anak merasa lebih dihargai dan termotivasi untuk terus mencoba menjalankan puasa.

Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news