KabarMakassar.com – Perekonomian Sulawesi Selatan (Sulsel) menunjukkan kinerja positif pada triwulan I-2025 dengan mencatat pertumbuhan sebesar 5,78% secara tahunan (year on year/yoy).
Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di level 4,87% pada periode yang sama.
Kepala Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar), Moch Muchlasin, menyebutkan bahwa pencapaian ini tidak terlepas dari kontribusi besar berbagai sektor usaha, terutama sektor pertanian yang tumbuh signifikan.
Ia menyebut, pertumbuhan sektor pertanian di Sulsel mencapai 16,56% dan memberikan kontribusi sebesar 24,20% terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah.
“Ini angka yang cukup baik, dan jika bisa terus ditingkatkan, maka dampaknya terhadap perekonomian Sulsel akan semakin besar,” ujar Muchlasin dalam acara Jurnalis Update OJK Sulselbar yang digelar di kantor OJK Sulselbar, Jalan Sultan Hasanuddin, Jumat (09/05).
Selain pertanian, empat sektor lainnya juga memberikan kontribusi besar terhadap PDRB Sulsel pada triwulan I-2025.
Sektor perdagangan besar dan eceran berada di posisi kedua dengan kontribusi sebesar 14,15% dan pertumbuhan 3,75%.
Disusul oleh industri pengolahan yang menyumbang 13,18% dengan pertumbuhan 4,01%.
Namun, sektor konstruksi justru mengalami kontraksi sebesar -3,11%, meskipun masih menjadi salah satu penyumbang utama ekonomi Sulsel dengan kontribusi 11,56%.
Sementara itu, sektor informasi dan komunikasi yang berperan dalam perkembangan digitalisasi, tumbuh 4,12% dengan kontribusi 5,54% terhadap perekonomian daerah.
Muchlasin menekankan bahwa selain pertumbuhan ekonomi, indikator kesejahteraan masyarakat seperti Indeks Pembangunan Manusia (IPM) juga harus menjadi perhatian.
“Ekonomi yang tumbuh harus sejalan dengan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, peningkatan IPM juga harus menjadi prioritas dalam pembangunan daerah,” ungkapnya.
Berdasarkan data yang dihimpun, IPM Sulsel mencatat rata-rata pertumbuhan sebesar 0,71% per tahun.
Pada 2024, IPM Sulsel mencapai angka 75,18, masuk dalam kategori tinggi dan lebih tinggi dari angka nasional yang berada di level 75,02 pada tahun yang sama.
Muchlasin juga menyoroti penurunan tingkat kemiskinan di Sulsel yang berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) mengalami penurunan hingga 7,37% per September 2024.
“Data terakhir menunjukkan angka kemiskinan di Sulsel mengalami penurunan. Ini tentu menjadi sinyal positif bahwa pertumbuhan ekonomi yang terjadi mulai memberikan dampak terhadap kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.
Muchlasin berharap ke depan pemerintah daerah bersama sektor swasta dapat terus mendorong pertumbuhan ekonomi Sulsel melalui penguatan sektor-sektor unggulan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat secara merata.
Untuk informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel merilis data tersebut pada Rabu (07/05). Dalam laporannya, Kepala BPS Sulsel Aryanto menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi Sulsel ditopang kuat oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang mengalami lonjakan signifikan.
“Lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh paling tinggi, yakni sebesar 16,56 persen,” ungkap Aryanto dalam keterangan resminya, Rabu (07/05).
Aryanto menjelaskan bahwa pertumbuhan signifikan pada sektor ini tidak lepas dari membaiknya kondisi produksi tanaman pangan, terutama padi. Setelah sempat terpuruk akibat fenomena El Nino pada tahun sebelumnya, produksi padi di Sulsel melonjak drastis.
“Pada kuartal I/2025, produksi padi mengalami kenaikan signifikan hingga 139 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, yang saat itu pertanian di Sulsel mengalami dampak kekeringan akibat fenomena El Nino,” paparnya.
Tak hanya padi, sejumlah komoditas pertanian lainnya juga menunjukkan kinerja positif. Produksi kelapa, kakao, dan bawang merah meningkat, diikuti oleh pertumbuhan di subsektor perikanan seperti ikan tangkap, serta peternakan yang mencatatkan peningkatan produksi ayam dan telur.
Namun demikian, tidak semua sektor mengalami pertumbuhan. BPS mencatat bahwa sektor pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi sebesar 3,94 persen, sementara sektor konstruksi juga turun 3,11 persen.
“Produksi nikel memang mengalami kontraksi dari tahun lalu. Ekspor besi dan baja pun turun hingga 23 persen. Kemudian produk industri barang galian bukan logam juga mengalami penurunan produksi,” jelas Aryanto.
Dari sisi struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) berdasarkan lapangan usaha, Aryanto menyebut tidak ada perubahan signifikan. Pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penyumbang terbesar dalam struktur ekonomi Sulsel dengan kontribusi 24,20 persen.
Disusul oleh sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 14,15 persen, industri pengolahan 13,18 persen, konstruksi 11,56 persen, serta informasi dan komunikasi sebesar 5,54 persen. Kelima sektor tersebut berkontribusi sebesar 68,63 persen terhadap total PDRB Sulsel.
Dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 16,61 persen. Konsumsi rumah tangga juga menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan sebesar 4,71 persen.
Namun, beberapa komponen lain justru mengalami kontraksi. Konsumsi lembaga non-profit yang melayani rumah tangga (PK-LNPRT) terkontraksi sebesar 11,65 persen, konsumsi pemerintah turun 1,97 persen, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menurun 0,63 persen, dan impor barang dan jasa mengalami kontraksi hingga 12,16 persen.
Secara keseluruhan, BPS mencatat bahwa PDRB Sulsel atas dasar harga berlaku pada kuartal I/2025 mencapai Rp173,51 triliun, sementara PDRB atas dasar harga konstan mencapai Rp97,36 triliun.
Dengan pencapaian ini, Sulsel menunjukkan kapasitas ekonominya sebagai salah satu motor penggerak ekonomi nasional di tengah dinamika global dan nasional yang masih menantang.